ASUHAN KEPERAWANTAN KELUARGA PADA TAHAP PERKEMBANGAN SCHOOL AGE (ANAK USIA SEKOLAH) PADA Tn.O
DOSEN :
Diah Indiriastuti.,S.Kep.,Ns.,M.Kep

OLEH:
WAODE
YUNITA
S.0017.P.041
SEKOLAH
TINGGI ILMU KESEHATAN
KARYA
KESEHATAN KENDARI
PRODI S1
KEPERAWATAN
KENDARI
2021
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmatnya dapat
penulis dapat menyelesaikan tugas askep saya dengan judul “Askep keluarga pada
tahap perkembangan anak usia sekolah (school age)” dengan tepat waktu. Makalah
ini disusun untuk menyelesaikan tugas kuliah di Program Studi S1 keperawatan
stikes karya kesehatan kendari. Dalam
penyusunan makalah ini, kami telah mengalami berbagai hal baik suka maupun
duka. Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini tidak akan selesai dengan
lancar dan tepat waktu tanpa adanya bantuan, dorongan, serta bimbingan dari
berbagai pihak. Sebagai rasa syukur atas terselesainya makalah ini, maka dengan
tulus kami sampaikan terimakasi kepada pihak-pihak yang turut membantu.
Dalam penyusunan makalah ini, kami
menyadari masih banyak kekurangan baik padaa teknik penulisan penyempurnaan
pembuatan makalah ini. Akhir kata, kami berharap semoga makalah ini dapat
menambah pengetahuan dan dapat diterapkam dalam, menyelesaikan suatu
permasalahan yang berhubungan dengan judul makalah ini.
Kendari, 17 februari 2021
DAFTAR ISI
Contents
III. CATATAN
ASUHAN KEPERAWATAN KELUAGA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Keluarga dengan tahap perkembangan anak usia sekolah (families with
chidren,) adalah dimulai pada saat anak pertama memasuki sekolah pada usia 6
tahun dan berahir pada usia 12 tahun. Pada fase ini keluarga mencapai jumlah
anggota keluarga maksimal, sehingga keluarga sangat sibuk. Selain aktifitas
disekolah, masing- masing anak memiliki aktifitas dan minat sendiri demikian
pula orang tua yang mempunyai aktifitas berbeda dengan anak. Untuk itu,
keluarga perlu bekerja sama untuk mencapai tugas perkembangan. (Friedman, Jones
& Bowden, 2010)[1]
Tahap
dan perkembangan keluarga terdiri dari, tahap pertama pasangan baru atau
keluarga baru (beginningfamily), tahap kedua keluarga dengan kelahiran anak
pertama (childbearing family), tahap ketiga keluarga dengan anak pra sekolah
(families wih preschool), tahap keempat keluarga dengan anak usia sekolah
(families with children), tahap kelima keluarga dengan anak remaja (families
with teenagers), tahap keenam keluarga dengan anak dewasa atau pelepasan
(lounching certer families), tahap ketujuh keluarga usia pertengahan (middle
age families), dan tahap kedelapan keluarga dengan usia lanjut (Harmoko, 2014).[2]
Tahap
Perkembangan Keluarga dengan dengan Anak Usia Sekolah adalah tahap yang dimulai
saat anak masuk sekolah pada usia 6 tahun dan berakhir pada usia 12 tahun. Pada
fase ini umumya keluarga mencapai jumlah anggota keluarga maksimal, sehingga
keluarga sangat sibuk. Selain aktivitas di sekolah, masing- masing anak
memiliki akitivitas dan minat sendiri. Demikian orang tua yang mempunyai
aktivitas yang berbeda dengan anak, untuk itu keluarga perlu bekerja sama untuk
mencapai tugas perkembangan (Pandila. (2015).[2]
Tahap
perkembangan keluarga mempunyai tugas perkembangannya masing - masing. Tahap
keempat dari perkembangan keluarga adalah keluarga dengan anak usia sekolah.
Tahap ini dimulai pada saat anak tertua memasuki sekolah pada usia 6 tahun dan
berakhir pada usia 12 tahun. Pada fase ini umumnya keluarga mencapai jumlah
anggota keluarga maksimal, sehingga keluarga sangat sibuk. Selain aktifitas
sekolah, masing-masing akan memiliki aktifitas dan minat sendiri. Demikian pula
orang tua yang mempunyai aktifitas berbeda dengan anak (Harmoko, 2012).
Oleh
karena itu keluarga dengan tahap perkembangan usia anak sekolah mempunyai tugas
antara lain mensosialisasikan anak-anak, termasuk meningkatkan prestasi sekolah
dan mengembangkan hubungan dengan teman sebaya yang sehat, mempertahankan
hubungan perkawinan yang memuaskan, memenuhi kebutuhan kesehatan fisik anggota
keluarga, mendorong anak untuk mencapai pengembangan daya intelektual dan
menyediakan aktivitas untuk anak (Padila, 2012). Keluarga dengan usia anak
sekolah mempunyai masalah kesehatan yang sering terjadi. Masalah kesehatan yang
sering terjadi pada tahap perkembangan keluarga ini antara lain kesulitan
belajar, gangguan tingkah laku, perawatan gigi yang tidak adekuat, penganiayaan
anak, penyalahgunaan zat hingga penyakit menular /infeksi.
Penyakit menular/infeksi pada anak usia sekolah banyak disebabkan oleh
perilaku hidup bersih sehat yang tidak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kebiasaan bermain yang kontak dengan tanah, perilaku buang sampah sembarangan,
perilaku jajan tidak sehat dan kebiasaan tidak mencuci tangan sebelum makan
merupakan perilaku kesehatan yang berisiko menimbulkan penyakit
menular/infeksi. Perilaku kesehatan cenderung berisiko adalah hambatan
kemampuan untuk mengubah gaya hidup/perilaku dalam cara yang memperbaiki status
kesehatan (Herdman & Kamitsuru, 2014).[3]
B. Rumusan Masalah
Bagaimanakah
gambaran asuhan keperawatan keluarga dengan tahap perkembangan anak usia
sekolah.
C.
Tujuan
1. Tujuan umum
Tujuan
umum dari studi kasus ini adalah Mampu mengaplikasikan hasil asuhan keperawatan
keluarga dengan tahap perkembangan anak usia sekolah
2. Tujuan khusus
a. Mampu
memaparkan hasil pengkajian pada keluarga dengan tahap perkembangan anak usia
sekolah
b. Mampu
memaparkan hasil analisa data keluarga dengan tahap perkembangan anak usia sekolah.
c. Mampu
memaparkan intervensi keperawatan pada keluarga dengan tahap perkembangan anak
usia sekolah dengan masalah perilaku kesehatan cenderung berisiko.
d. Mampu
melakukan implementasi tindakan keperawatan yang sesuai dengan intervensi
keperawatan.
e. Mampu
mengevaluasi hasil dari implementasi yang telah dilakukan.
D.
Manfaat
1. Masyarakat
Keluarga dapat menerapkan perilaku hidup sehat dalam kehidupan sehari-
hari sebagai upaya meningkatkan status kesehatan.
2. Bagi
Pengembangan Ilmu Teknologi Keperawatan
Menambah keluasan ilmu dan teknologi terapan bidang keperawatan dalam
melakukan asuhan keperawatan keluarga dengan tahap perkembangan anak usia
sekolah
3. Penulis
Memperoleh pengalaman dalam mengaplikasikan hasil riset keperawatan,
khususnya studi kasus tentang pelaksanaan asuhan keperawatan keluarga dengan
tahap perkembangan anak usia
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Konsep
keluarga
1.
Definisi keluarga
Keluarga adalah dua atau lebih individu yang tergabung karena ikatan
tertentu untuk saling membagi pengalaman dan melakukan pendekatan emosional,
serta mengidentifikasi diri mereka sebagai bagian dari keluarga (Friedman,
2010). Sedangkan menurut Departemen Kesehatan Tahun 1988 dalam Sudiharto
(2012), keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala
keluarga serta beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di satu atap dalam
keadaan saling ketergantungan.
Keluarga menurut Harmoko (2012) adalah perkumpulan dua atau lebih
individu yang diikat oleh hubungan darah, perkawinan atau adopsi dan tiap-tiap
anggota keluarga selalu berinteraksi satu sama lain. Dari beberapa pengertian
diatas dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah perkumpulan dua atau lebih
individu yang diikat oleh hubungan darah untuk saling membagi pengalaman dan
melakukan pendekatan emosional yang berkumpul dan tinggal di satu atap dalam
keadaan saling ketergantungan.[4]
2. Bentuk
Keluarga
Beberapa bentuk keluarga dapat diklasifikasikan menjadi keluarga
tradisional dan keluarga nontradisional adalah sebagai berikut:
a. Keluarga Tradisional
1)
Keluarga Inti
Keluarga inti adalah keluarga yang terdiri dari seorang ayah yang
mencari nafkah, seorang ibu yang mengurusi rumah tangga dan anak (Friedman,
2010). Sedangkan menurut Harmoko (2012), keluarga inti yang terdiri atas ayah,
ibu, dan anak yang tinggal dalam satu rumah ditetapkan oleh sanksi-sanksi legal
dalam suatu ikatan perkawinan, satu atau keduanya dapat bekerja di luar rumah.
2)
Keluarga Adopsi
Keluarga adopsi adalah dengan menyerahkan secara sah tanggung jawab
sebagai orang tua seterusnya dari orang tua kandung ke orang tua adopsi,
biasanya menimbulkan keadaan yang saling menguntungkan baik bagi orang tua
maupun anak. Disatu pihak orang tua adopsi mampu memberi asuhan dan
kasihsayangnya bagi anak adospsinya, sementara anak adopsi diberi sebuah
keluarga yang sangat menginginkan mereka (Friedman, 2010).
3)
Keluarga Besar (extended family)
Keluarga besar adalah keluarga dengan pasangan yang berbagi pengaturan
rumah tangga dan pengeluaran keuangan dengan orang tua, kakak/adik, dan
keluarga dekat lainnya. Anak-anak kemudian dibesarkan oleh generasi dan
memiliki pilihan model pola perilaku yang akan membentuk pola perilaku mereka
Ø Dari sekian macam tipe atau bentuk keluarga,
menurut Harmoko (2012) secara umum di Negara Indonesia di kenal dua tipe atau
bentuk keluarga, yaitu :
1) Tipe
Keluarga Tradisional
a) Keluarga inti : satu rumah tangga yang terdiri
dari suami, istri dan anak (kandung / angkat).
b) Keluarga besar : keluarga inti ditambah
keluarga lain yang mempunyai hubungan darah misalnya kakek, nenek, paman dan
bibi.
c) Single parent : suatu rumah tangga yang terdiri
dari satu orang tua dengan anak (kandung / angkat). Kondisi ini dapat
disebabkan oleh kematian / perceraian.
d) Single adult : suatu rumah tangga yang terdiri
dari satu orang dewasa
e) Keluarga lanjut usia : terdiri dari suami istri
usia lanjut.
2) Tipe
Keluarga Non Tradisional
a) Commune family : lebih satu keluarga tanpa
pertalian darah hidup serumah.
b) Orang tua (ayah ibu) yang tidak ada ikatan
perkawinan dan anak hidup bersama dalam satu rumah tangga.
c) Homosexual : dua individu yang sejenis hidup
bersama dalam satu rumah tangga
3.
Fungsi Keluarga
Menurut Friedman (2010), ada lima fungsi keluarga menjadi saling
berhubungan erat pada saat mengkaji dan melakukan intervensi dengan keluarga,
yaitu :
a. Fungsi
Afektif
Fungsi
afektif merupakan dasar utama baik untuk pembentukan maupun berkelanjutan unit
keluarga itu sendiri, sehingga fungsi afektif merupakan salah satu fungsi
keluarga yang paling penting. Saat ini, ketika tugas sosial dilaksanakan di
luar unit keluarga, sebagian besar upaya keluarga difokuskan pada pemenuhan
kebutuhan anggota keluarga akan kasih sayang dan pengertian. Peran utama orang
dewasa dalam keluarga adalah fungsi afektif, fungsi ini berhubungan dengan
persepsi keluarga dan kepedulian terhadap kebutuhan sosioemosional semua
anggota keluarganya. Manfaat fungsi afektif di dalam anggota keluarga dijumpai
paling kuat di antara keluarga kelas menengah dan kelas atas, karena pada
keluarga tersebut mempunyai lebih banyak pilihan. Sedangkan pada keluarga kelas
bawah, fungsi afektif sering sering terhiraukan. Balita yang seharusnya
mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang cukup, pada keluarga kelas bawah
hal tersebut tidak didapatkan balita terutama pada aktivitas bermainnya.
Sehingga dapat menyebabkan infeksi saluran pernafasan akut pada balita karena
orang tua tidak memperhatikan atau tidak memantau cara bermain pada balita
tersebut (Friedman, 2010).[4]
b. Fungsi Sosialisasi dan Status Sosial Sosialisasi anggota
keluarga adalah fungsi yang universal dan lintas budaya yang dibutuhkan
untuk kelangsungan hidup masyarakat. Sosialisasi merujuk pada banyaknya
pengalaman belajar yang diberikan dalam keluarga yang ditujukan untuk mendidik
anak-anak tentang cara menjalankan fungsi dan memikul peran sosial orang dewasa
seperti peran yang dipikul suami-ayah dan istri-ibu. Karena fungsi ini semakin
banyak diberikan di sekolah, fasilitas rekreasi dan perawatan anak, serta
lembaga lain di luar keluarga, peran sosialisasi yang dimainkan keluarga
menjadi berkurang, tetapi tetap penting. Orang tua tetap menyediakan pondasi
dan menurunkan warisan budayanya ke anak- anak mereka. Dengan kemauan untuk
bersosialisasi dengan orang lain, keluarga bisa mendapatkan informasi tentang
infeksi saluran pernafasan akut, penyebab dan pencegahan terjadinya infeksi
saluran pernafasan akut untuk anak khususnya balita (Friedman, 2010).
c. Fungsi
Perawatan Kesehatan
Fungsi
fisik keluarga dipenuhi oleh orang tua yang menyediakan makanan, pakaian,
tempat tinggal, perawatan kesehatan, dan perlindungan terhadap bahaya.
Pelayanan dan praktik kesehatan (yang mempengaruhi status kesehatan anggota
keluarga secara individual) adalah fungsi keluarga yang paling relevan bagi
perawat keluarga. Kurangnya kemampuan keluarga untuk memfasilitasi kebutuhan
balita terhadap lingkungan dapat menyebabkan balita mengalami infeksi saluran
pernafasan akut (Friedman, 2010).
d. Fungsi
Reproduksi
Salah
satu fungsi dasar keluarga adalah untuk menjamin kontinuitas antar-generasi
keluarga masyarakat yaitu menyediakan anggota baru untuk masyarakat. Banyaknya
jumlah anak dalam suatu keluarga menyebabkan kebutuhan keluarga juga meningkat
dan padatnya anggota keluarga di dalam rumah dapat menyebabkan udara yang
dihirup menjadi berkurang sehingga bisa mengakibatkan anak mengalami infeksi
saluran pernafasan akut (Friedman, 2010).
e. Fungsi
Ekonomi
Fungsi
ekonomi melibatkan penyediaan keluarga akan sumber daya yang cukup finansial,
ruang dan materi serta alokasinya yang sesuai melalui proses pengambilan
keputusan. Pendapatan keluarga yang terlalu rendah menyebabkan keluarga tidak
mampu memenuhi kebutuhan fasilitas rumah seperti jendela yang cukup akan
ventilasi udara, lantai yang bersih atau tidak menyebabkan adanya debu dan
kebutuhan lainnya sehingga balita bisa mengalami infeksi saluran pernafasan
akut (Friedman, 2010)
4. Peran
Perawat Keluarga
Adapun
peran perawat keluarga menurut Sudiharto (2012) adalah sebagai berikut:
a.
Sebagai Pendidik
b.
Sebagai Koordinator Pelaksana Pelayanan Keperawatan
c.
Sebagai Pelaksana Pelayanan Perawatan Pelayanan
d.
Sebagai supervisor pelayanan kesehatan
e.
Sebagai pembela (advokat)
f.
Sebagai fasilitator
g. Sebagai peneliti
5. Tahap
Perkembangan Keluarga
a. Tahap
I : Keluarga Pasangan Baru (beginning family)
Pembentukan
pasangan menandakan pemulaan suatu keluarga baru dengan pergerakan dari
membentuk keluarga asli sampai kehubungan intim yang baru. Tahap ini juga
disebut sebagai tahap pernikahan. Tugas perkembangan keluarga tahap I adalah
membentuk pernikahan yang memuaskan bagi satu sama lain, berhubungan secara
harmonis dengan jaringan kekerabatan dan perencanaan keluarga (Friedman, 2010).
b. Tahap
II : Keluarga Kelahiran Anak Pertama (childbearing family)
Mulai
dengan kelahiran anak pertama dan berlanjut sampai bayi berusia 30 bulan.
Transisi ke masa menjadi orang tua adalah salah satu kunci dalam siklus
kehidupan keluarga. Tugas perkembangan keluarga disini adalah setelah hadirnya
anak pertama, keluarga memiliki beberapa tugas perkembangan penting. Suami,
istri, dan anak harus memepelajari peran barunya, sementara unit keluarga inti
mengalami pengembangan fungsi dan tanggung jawab (Friedman, 2010).
c. Tahap
III : Keluarga dengan Anak Prasekolah (families with preschool)
Tahap
ketiga siklus kehidupan keluarga dimulai ketika anak pertama berusia 2½ tahun
dan diakhiri ketika anak berusia 5 tahun. Keluarga saat ini dapat terdiri dari
tiga sampai lima orang, dengan posisi pasangan suami-ayah, istri-ibu,
putra-saudara laki-laki, dan putri-saudara perempuan. Tugas perkembangan
keluarga saat ini berkembang baik secara jumlah maupun kompleksitas.
d. Tahap
IV : Keluarga dengan Anak Sekolah (families with school children)
Tahap
ini dimulai ketika anak pertama memasuki sekolah dalam waktu penuh, biasanya
pada usia 5 tahun, dan diakhiri ketika ia mencapai pubertas, sekitar 13 tahun.
Keluarga biasanya mencapai jumlah anggota keluarga yang maksimal dan hubungan
akhir tahap ini juga maksimal. Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini
adalah keluarga dapat mensosialisasikan anak-anak, dapat meningkatkan prestasi
sekolah dan mempertahankan hubungan pernikahan yang memuaskan (Friedman, 2010).
e. Tahap
V : Keluarga dengan Anak Remaja (families with teenagers)
Ketika
anak pertama berusia 13 tahun, tahap kelima dari siklus atau perjalanan
kehidupan keluarga dimulai. Biasanya tahap ini berlangsung selama enam atau
tujuh tahun, walaupun dapat lebih singkat jika anak meninggalkan keluarga lebih
awal atau lebih lama, jika anak tetap tinggal dirumah pada usia lebih dari 19
atau 20 tahun. Tujuan utama pada keluarga pada tahap anak remaja adalah
melonggarkan ikatan keluarga untuk meberikan tanggung jawab dan kebebasan
remaja yang lebih besar dalam mempersiapkan diri menjadi seorang dewasa muda.
f. Tahap
VI : Keluarga Melepaskan Anak Dewasa Muda (launching center families)
Permulaan fase kehidupan keluarga in ditandai dengan perginya anak
pertama dari rumah orang tua dan berakhir dengan “kosongnya rumah”, ketika anak
terakhir juga telah meninggalkan rumah. Tahap ini dapat cukup singkat atau
cukup lama, bergantung pada jumlah anak dalam keluarga atau jika anak yang
belum menikah tetap tinggal di rumah setelah mereka menyelesaikan SMU atau
kuliahnya. Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini adalah keluarga membantu
anak tertua untuk terjun ke duania luar, orang tua juga terlibat dengan anak
terkecilnya, yaitu membantu mereka menjadi mandiri (Friedman, 2010).
g. Tahap
VII : Orang Tua Paruh Baya (middle age families)
Tahap
ini merupakan tahap masa pertengahan bagi orang tua, dimulai ketika anak
terakhir meninggalkan rumah dan berakhir dengan pensiun atau kematian salah
satu pasangan. Tahap ini dimulai ketika orang tua berusia sekitar 45 tahun
sampai 55 tahun dan berakhir dengan persiunannya pasangan, biasanya 16 sampai
18 tahun kemudian. Tugas keperawatan keluarga pada tahap ini adalah wanita
memprogramkan kembali energi mereka dan bersiap-siap untuk hidup dalam kesepian
dan sebagai pendorong anak mereka yang sedang berkembang untuk lebih mandiri
serta menciptakan lingkungan yang sehat (Friedman, 2010).
h. Tahap
VIII : Keluarga Lansia dan Pensiunan
Tahap
terakhir perkembangan keluarga ini adalah dimulai pada saat pensiunan salah
satu atau kedua pasangan, berlanjut sampai kehilangan salah satu pasangan, dan
berakhir dengan kematian pasangan yang lain
6. Peran
keluarga
Peran keluarga dalam merawat anak tidak hanya dalam asuhan fisik dan
emosional, namun juga mengajarkan peraturan dan perilaku yang diharapkan
melalui pengajaran dan disiplin (Kyle, Terri, 2004). Peran keluarga dapat
diklasifikasikan menjadi dua, yaitu peran formal dan peran informal.
a. Peran
formal
Peran formal merupakan peran eksplisit yang terkandung dalam struktur
peran keluarga (ayah-suami, dll) (Satir, 1967 dalam Friedman Marilyn M., 2010).
Masing-masing posisi keluarga formal yang terkait adalah peran terkait atau
sekelompok perilaku yang kurang lebih homogen. Keluarga membagi peran kepada
anggota keluarganya. Beberapa peran membutuhkan keterampilan khusus. Jika
jumlah anggota keluarga sedikit, maka jumlah orang untuk memenuhi peran formal
terbatas. Sehingga terdapat lebih banyak kesempatan bagi anggota keluarga dalam
memainkan beberapa peran pada waktu yang berbeda (Murray & Zenner,1985,
1993 dalam Friedman Marilyn M., 2010).
b. Peran
informal
Peran informal bersifat implisit, sering kali tidak tampak pada
permukaannya, dan diharapkan dapat memenuhi kebutuhan emosional anggota
keluarga (Satir, 1967 dalam Friedman Marilyn M., 2010). Kievit (1968) dalam
Friedman Marilyn M.(2010) mengatakan peran informal mempunyai kebutuhan yang
berbeda, sedikit cederung berdasarkan usia atau jenis kelamin dan banyak
cenderung berdasarkan kepribadian anggota keluarga. Sehingga seorang anggota
keluarga dapat menjadi mediator kompromi ketika anggota keluarga lain terlibat
dalam konflik.
B.
Konsep Anak Usia Sekolah
1.
Definisi Anak Usia Sekolah
Pengertian
Anak Usia Sekolah Anak usia antara 6-12 tahun, periode ini kadang disebut
sebagai masa anak-anak pertengahan atau masa laten, masa untuk mempunyai
tantangan baru. Kekuatan kognitif untuk memikirkan banyak faktor secara
simultan memberikan kemampuan pada anak-anak usia sekolah untuk mengevaluasi
diri sendiri dan merasakan evaluasi teman-temannya. Dapat disimpulkan sebagai
sebuah penghargaan diri menjadi masalah sentral bagi anak usia sekolah
(Behrman, Kliegman, & Arvin, 2000). .
Menurut Wong (2009), anak usia sekolah atau
anak yang sudah sekolah akan menjadi pengalaman inti anak. Periode ini
anak-anak dianggap mulai bertanggungjawab atas perilakunya sendiri dalam
hubungan dengan orangtua mereka, teman sebaya, dan orang lain. Usia sekolah merupakan
masa anak memperoleh dasar-dasar pengatahuan untuk keberhasilan penyesuaian
diri pada kehidupan dewasa dan memperoleh keterampilan tertentu (Wong,
Hockenberry-Eaton, Wilson, Winkelstein, & Schwartz, 2009). Periode
pra-remaja atau pra-pubertas terjadi pada tahap perkembangan usia sekolah,
periode pra-remaja atau pra-pubertas menandakan berakhirnya periode usia
sekolah dengan usia kurang lebih 12 tahun, ditandai dengan awitan pubertas
(Kozier, Erb, Berman, & Snyder, 2011).[5]
2. Tahap Tumbuh-Kembang Anak Usia Sekolah
(6-12 Tahun)
1.
Pertumbuhan Fisik
Pertumbuhan
selama periode ini rata-rata 3-3,5 kg dan 6cm atau 2,5 inchi pertahunnya.
Lingkar kepala tumbuh hanya 2-3 cm selama periode ini, menandakan pertumbuhan
otak yang melambat karena proses mielinisasi sudah sempurna pada usia 7 tahun
(Behrman, Kliegman, & Arvin, 2000). Anak laki-laki usia 6 tahun, cenderung
memiliki berat badan sekitar 21 kg, kurang lebih 1 kg lebih berat daripada anak
perempuan. Rata-rata kenaikan berat badan anak usia sekolah 6 – 12 tahun kurang
lebih sebesar 3,2 kg per tahun. Periode ini, perbedaan individu pada kenaikan
berat badan disebabkan oleh faktor genetik dan lingkungan. Tinggi badan anak
usia 6 tahun, baik laki-laki maupun perempuan memiliki tinggi badan yang sama,
yaitu kurang lebih 115 cm. Setelah usia 12 tahun, tinggi badan kurang lebih 150
cm (Kozier, Erb, Berman, & Snyder, 2011). Habitus tubuh (endomorfi, mesomorfi
atau ektomorfi) cenderung secara relatif tetap stabil selama masa anak
pertengahan. Pertumbuhan wajah bagian tengah dan bawah terjadi secara bertahap.[5]
2.
Perkembangangan Kognitif
Perubahan kognitif pada anak usia sekolah adalah pada kemampuan untuk
berpikir dengan cara logis tentang disini dan saat ini, bukan tentang hal yang
bersifat abstraksi. Pemikiran anak usia sekolah tidak lagi didominiasi oleh
persepsinya dan sekaligus kemampuan untuk memahami dunia secara luas.
Perkembangan kognitif Piaget terdiri dari beberapa tahapan, yaitu:
(1) Tahap sensoris-motorik (0-2 tahun);
(2) Praoperasional (2-7 tahun);
(3) Concrete operational (7-11 tahun); dan
(4) Formal
operation (11-15 tahun).
3.
Perkembangan Moral Perkembangan moral anak
menurut
Kohlberg didasarkan pada perkembangan kognitif anak dan terdiri atas tiga
tahapan utama, yaitu: (1) preconventional; (2) conventional; (3) postconventional.
1) Fase Preconventional
Anak
belajar baik dan buruk, atau benar dan salah melalui budaya sebagai dasar dalam
peletakan nilai moral. Fase ini terdiri dari tiga tahapan. Tahap satu didasari
oleh adanya rasa egosentris pada anak, yaitu kebaikan adalah seperti apa yang
saya mau, rasa cinta dan kasih sayang akan menolong memahami tentang kebaikan,
dan sebaliknya ekspresi kurang perhatian bahkan mebencinya akan membuat mereka
mengenal keburukan.
2) Fase Conventional
Pada
tahap ini, anak berorientasi pada mutualitas hubungan interpersonal dengan
kelompok. Anak sudah mampu bekerjasama dengan kelompok dan mempelajari serta
mengadopsi norma-norma yang ada dalam kelompok selain norma dalam lingkungan
keluarganya. Anak mempersepsikan perilakunya sebagai suatu kebaikan ketika
perilaku anak menyebabkan mereka diterima oleh keluarga atau teman
sekelompoknya.
3) Fase Postconventional
Anak usia
remaja telah mampu membuat pilihan berdasar pada prinsip yang dimiliki dan yang
diyakini. Segala tindakan yang diyakininya dipersepsikan sebagai suatu
kebaikan. Ada dua fase pada tahapan ini, yaitu orientasi pada hukum dan
orientasi pada prinsip etik yang umum.
4.
Perkembangan Spiritual
Menurut Fowler, anak usia sekolah berada
pada tahap 2 perkembangan spiritual, yaitu pada tahapan mitos–faktual.
Anak-anak belajar untuk membedakan khayalan dan kenyataan. Kenyataan (fakta)
spiritual adalah keyakinan yang diterima oleh suatu kelompok keagamaan,
sedangkan khayalan adalah pemikiran dan gambaran yang terbentuk dalam pikiran
anak. Orangtua dan tokoh agama membantu anak membedakan antara kenyataan dan
khayalan. Orangtua dan tokoh agama lebih memiliki pengaruh daripada teman
sebaya dalam hal spiritual (Fowler, J. W., 1981; Kozier, Erb, Berman, &
Snyder, 2011)
5.
Perkembangan Psikoseksual
Freud
menggambarkan anak-anak kelompok usia sekolah (6–12 tahun) masuk dalam tahapan
fase laten. Selama fase ini, fokus perkembangan adalah pada aktivitas fisik dan
intelektual, sementara kecenderungan seksual seolah ditekan (Kozier, Erb,
Berman, & Snyder, 2011). Teori Perkembangan Psikoseksual anak menurut Freud
terdiri atas fase oral (0–11 bulan), fase anak (1– 3 tahun), fase falik (3–6
tahun), dan fase genital (6–12 tahun).
1) Fase Laten (6-12 tahun)
Selama
periode laten, anak menggunakan energy fisik dan psikologis yang merupakan
media untuk mengkesplorasi pengetahuan dan pengalamannya melalui aktivitas
fisik maupun sosialnya. Pada fase laten, anak perempuan lebih menyukai teman
dengan jenis kelamin perempuan, dan laki-laki dengan laki-laki. Pertanyaan anak
tentang seks semakin banyak dan bervariasi, mengarah pada sistemtem reproduksi.
2) Fase Genital (12-18 tahun)
Menurut
Freud, tahapan akhir masa ini adalah tahapan genital ketika anak mulai masuk
fase pubertas. Ditandai dengan adanya proses pematangan organ reproduksi dan
tubuh mulai memproduksi hormon seks.
6.
Perkembangan Psikososial
Erikson mengidentifikasi masalah sentral psikososial pada masa ini
sebagai krisis antara keaktifan dan inferioritas. Perkembangan kesehatan
membutuhkan peningkatan pemisahan dari orangtua dan kemampuan menemukan
penerimaan dalam kelompok yang sepadan serta merundingkan tantangan- tantangan
yang berada diluar (Behrman, Kliegman, & Arvin, 2000).
7.
Perubahan Pra-Pubertas atau Pra-Remaja
Periode transisi antara masa kanak-kanak dengan dan adolesens sering
dikenal dengan istilah pra-remaja oleh professional dalam ilmu perilaku, oleh
yang lain dikenal dengan istilah pra-pubertas, masa kanak-kanak lanjut,
adolesens awal, dan puber. Ketika mulai terjadi perubahan fisik, seperti
pertumbuhan rambut pubis dan payudara pada wanita, anak menjadi lebih sosial
dan pola perilakunya lebih sulit diperkirakan. Perubahan pada sistem reproduksi
dan endokrin mengalami sedikit perubahan sampai pada periode pra-pubertas.
Selama masa pra-pubertas, yaitu memasuki usia 9–13 tahun fungsi endokrin
semakin meningkat secara perlahan.
8.
Perkembangan Komunikasi Dan Bahasa
Keterampilan bahasa terus meningkat selama masa usia sekolah dan kosa
kata meningkat. Anak usia sekolah mulai menggunakan lebih banyak tata bahasa
yang kompleks seperti kata jamak dan kata benda.
9.
Perkembangan Emosional Dan Sosial
Pola
sifat temperamental yang diidentifikasi di masa bayi mampu terus mempengaruhi
perilaku anak usia sekolah. Cahyaningsih (2011) mengatakan Salah satu pemeran
sosial yang penting dalam kehidupan anak usia sekolah adalah kelompok teman
sebaya. Walaupun kelompok teman sebaya berpengaruh dan penting untuk
perkembangan, orang tua merupakan pengaruh utama dalam membentuk kepribadian
anak, membuat standar perilaku, serta menetapkan sistem nilai. Wong (2008)
mengatakan orang tua adalah pengaruh utama pada anak dalam pembentukan
kepribadian anak, pembuatan standar perilaku, dan penetapan sistem nilai. Anak
akan menggunakan sistem nilai yang digunakan orang tua ke dalam sistem nilai
mereka sendiri. Selain itu, dalam menghadapi masalah yang terjadi dalam
kehidupan anak usia sekolah, anak memerlukan perhatian orang tua sebagai tempat
berlabuh yang aman dan kokoh.[6]
3. Tugas Perkembangan Anak Usia Sekolah
Pada masa ini anak memasuki masa belajar di dalam
dan diluar sekolah. Anak belajar di sekolah, tetapi membuat latihan pekerjaan
rumah yang mendukung hasil belajar disekolah. Aspek perilaku banyak dibentuk
melalui penguatan (reinforcement) verbal, keteladanan, dan identifikasi.
Anak-anak pada masa ini harus menjalani tugas-tugas perkembangan, yaitu:
1)
Mempelajari keterampilan fisik yang diperlukan untuk permainan yang umum.
2)
Membentuk sikap sehat mengenai dirinya sendiri.
3)
Belajar bergaul dan menyesuaikan diri dengan teman-teman seusianya.
4) Mulai
mengembangkan peran sosial pria atau wanita yang tepat.
5)
Mengembangkan keterampilan dasar: membaca, menulis, dan berhitung.
6) Mengembangkan
pengertian atau konsep yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari.
7)
Mengembangkan hati nurani, nilai moral, tata dan tingkatan nilai sosial. 8)
Meperoleh kebebasan pribadi.
4. Anak Usia Sekolah sebagai Kelompok Resiko
Kelompok anak usia sekolah umumnya memiliki kesehatan lebih baik dari
kelompok balita. Namun pada kelompok ini mengkhawatirkan karena anak lebih
banyak bermain dengan banyak kegiatan sehingga kurang nafsu makan dan asupan
gizinya kurang dan seringkali menyebabkan berat badan rendah, defisiensi Fe dan
vitamin E (Salmah, Sjarifah, 2013).
Kelompok
at risk (kelompok beresiko) merupakan kelompok beresiko tinggi mengalami
kesehatan dibanding dengan yang lain (Stanhope & Lancaster, 2004). Beberapa
faktor resiko pada anak usia sekolah, antara lain: faktor sosial ekonomi,
perilaku, biologi, sosial, ekonomi, gaya hidup, peristiwa dalam hidup. Faktor
lain yang berpengaruh terhadap kondisi kesehatan anak sekolah sebagai at risk
adalah usia, jenis kelamin, lingkungan, pekerjaan, suku, sosiokultural,
ekonomi, genetik, dan sebagainya (Lundy & Janes, 2009).[6]
Anak
usia sekolah mudah terpengaruh lingkungan sekitarnya yang berpengaruh dalam
merubah perilaku dan kebiasaan seperti perubahan kebiasaan makan. Sehingga anak
usia sekolah akan mudah terpengaruh oleh teman sebaya untuk memilih jenis
makanan atau jajanan yang dikonsumsi. Salah satu yang perlu diperhatikan dalam
pemenuhan gizi anak usia sekolah adalah asupan anak dari kudapan atau jajanan
sebagai cemilan. Makanan cepat saji dan makanan ringan memiliki kandungan gula
serta lemak tinggi dan oleh sebab itu bersifat padat energi sehingga
berkontribusi asupan energi yang berlebih dan dapat menyebabkan obesitas (Mann,
Jim dan Stewart, A. 2014).
5. Kebutuhan gizi anak usia sekolah
Angka kecukupan gizi (AKG) merupakan nilai yang
menunjukan jumlah zat gizi yang perlukan tubuh untuk hidup sehat setiap hari
bagi hampir semua populasi menurut kelompok umur, jenis kelamin, dan kondisi
fisiologis. AKG berfungsi sebagai nilai rujukan yang digunakan untuk
perencanaan dan penilaian konsumsi makanan, penilaian asupan gizi orang sehat
agar tidak terjadi kekurangan maupun kelebihan asupan zat gizi (Nasar, dkk
2016).
Kebutuhan energi dan protein pada bayi dan anak per kg BB lebih besar
dari pada kebutuhan orang dewasa karena anak sedang mengalami pertumbuhan dan
perkembangan. Kebutuhan energi dan protein per kg BB per hari akan menurun,
sedangkan kebutuhan zat mikro semakin meningkat sesuai dengan bertambahnya umur
(Nasar,dkk. 2016)
BAB III
PENGKAJIAN
KEPERAWATAN
A.
PENGKAJIAN
KELUARGA
1. Data
umum & kondisi kesehatan keluarga
|
Puskesmas |
: |
Lombe |
Alamat |
: |
Buton |
Hari/Tanggal Pengkajian |
: |
15 februari |
|
Nama
KK |
: |
Tn.O |
Usia |
:
|
58 thn |
|||
|
Pendidikan |
: |
SPG |
Pekerjaan |
: |
Pensiun |
|
|
|
a.
Komposisi Keluarga :
|
No |
Nama
Anggota
Keluarga |
Hub. Keluarga |
L/P |
Umur (th) |
Pendidikan |
Agama |
Suku |
Pekerjaan |
Imunisasi (L/TL) |
KB |
Alat bantu, ptotesa |
Keadaan umum (sehat/tidak sehat) |
Riwayat penyakit & alergi |
|
1. |
Ny.M |
Istri |
P |
49 |
SMA |
Islam |
Buton |
IRT |
L |
- |
- |
sehat |
Asam urat |
|
2. |
An.I |
Anak |
P |
10 |
SD |
Islam |
Buton |
Pelajar |
L |
- |
- |
sehat |
Sehat |
b.
Jarak Untuk Mencapai Pelayanan Kesehatan Terdekat
|
Fasilitas
Kesehatan |
|
Jarak |
|
-Cara tempuh |
||
|
1.
Puskesmas |
: |
5 km |
|
1.
Jalan kaki |
: |
- |
|
2.
Puskesmas Pembantu |
: |
100 m |
|
2.
Sepeda |
: |
- |
|
3.
Posyandu |
: |
500 m |
|
3.
Motor roda 2 |
: |
Ya |
|
4.
Lain-lain, Bidan swasta |
: |
200 m |
|
4.
Motor roda 4 |
: |
Ya |
|
|
|
|
|
5.
Perahu |
: |
- |
c. Genogram (3 generasi)
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()

Keterangan :
:
Laki-Laki
![]()
: Perempuan
: Tinggal satu rumah
d. Tipe Keluarga
Keluarga Tn.O
adalah tipe keluarga inti dimana dalam satu rumah terdiri dari ayah,ibu
dan anak-anaknya
|
No |
Data |
Tn.O |
Ny.M |
An.I |
|
1. |
Keadaan umum : |
|
|
|
|
Penampilan |
Rapi/baik |
Rapi /baik |
Rapi/baik |
|
|
BB |
57 kg |
65 kg |
20 kg |
|
|
TB |
167 cm |
160 cm |
120 cm |
|
|
Status Gizi |
-
|
-
|
-
|
|
|
Diagnosa medis |
Tidak ada |
Tidak ada |
Tidak ada |
|
|
Masalah kesehatan
yang pernah dialami |
Pernah mengalami diare |
-
|
-
|
|
|
Masalah kesehatan sekarang |
-
|
Asam urat |
-
|
|
|
Masalah kesehatan yang lalu |
-
|
-
|
-
|
|
|
Masalah kesehatan keluarga (turunan) |
-
|
Diabetes |
-
|
|
|
2. |
TTV : |
140/80 MmHg |
140/80 MmHg |
90/70 MmHg |
|
Nadi |
75 X/menit |
78X/menit |
90X/Menit |
|
|
Respirasi |
18X/menit |
18X/menit |
28X/Menit |
|
|
Suhu |
370C |
360C |
380C |
|
|
CRT |
-
|
-
|
-
|
|
|
3. |
Mata : |
Normal |
Normal |
Normal |
|
Sclera |
Agak keruh |
Kuning |
Baik |
|
|
Konjungtiva |
Anemis |
Normal |
Normal |
|
4. |
Palpebra |
Normal |
Normal |
Normal |
|
Fungsi |
Bisa mengedip |
Bisa mengedip |
Bisa mengedip |
|
|
5. |
Telinga : |
Normal |
Normal |
Normal |
|
Bentuk |
|
|
|
|
|
Keadaan |
Bersih |
Bersih |
Bersih |
|
|
Fungsi |
Bisa mendengar/normal |
Bisa mendengar/normal |
Bisa mendengar/normal |
|
|
6. |
Hidung : |
Normal |
Normal |
Normal |
|
Bentuk |
|
|
|
|
|
Keadaan |
Bersih |
Bersih |
Bersih |
|
|
Fungsi |
Bisa mencium |
Bisa mencium |
Bisa mencium |
|
|
7. |
Mulut : |
|
|
|
|
Gigi |
Masih lengkap |
Tidak lengkap |
Lengkap |
|
|
Fungsi menelan |
Baik |
Baik |
Baik |
|
|
Kelembaban |
Baik |
Baik |
Baik |
|
|
8. |
Leher : |
|
|
|
|
Pembengkakan kelenjar tiroid |
-
|
- |
- |
|
|
9. |
Dada : |
|
|
|
|
Bentuk |
Normal |
Normal |
Normal |
|
|
Suara paru |
- |
- |
- |
|
|
Respirasi |
Normal |
Normal |
Normal |
|
|
Bunyi jantung |
Normal |
Normal |
Normal |
|
|
10. |
Abdomen : |
|
|
|
|
Bentuk |
Bulat |
Flat |
Flat |
|
|
Nyeri tekan |
Tidak ada |
Tidak ada |
Tidak ada |
|
|
11. |
Ekstremitas : |
Normal |
Normal |
Normal |
|
Oedema |
-
|
- |
- |
|
|
Kontraktur |
- |
- |
- |
|
|
12. |
Istirahat dan tidur |
1-2x sehari |
2x sehari |
1-2x sehari |
|
13. |
Status mental |
Baik |
Baik |
Baik |
|
14. |
Kebersihan diri |
Bersih |
Bersih |
Bersih |
|
15. |
Sistem respirasi |
Normal |
Normal |
Normal |
|
16. |
Sistem kardiovaskuler |
-
|
- |
- |
|
17. |
Sistem pencernaan |
- |
- |
- |
|
18. |
Sistem urinaria |
Normal |
Normal |
Normal |
|
19. |
Sistem integument |
Normal |
Normal |
Normal |
|
20. |
Sistem persyarafan |
- |
- |
- |
|
21. |
Sistem muskulosketal |
- |
- |
- |
|
22. |
Pemeriksaan penunjang bagi yang sakit (lab, radiologi,
EKG, USG) |
- |
- |
- |
C. KESEHATAN LINGKUNGAN
1. Karakteristik Rumah
1. Karakteristik rumah
Denah
rumah :
(H) (D)

![]()
BB (B)
(E)
(F)
![]()

A
(A) (G) (C)
Keterangan:
A. = kamar
tidur 1
B. = kamar
tidur 2
C. = Ruang
tamu
D. = Dapur
E. = Ruang
tengah/keluarga
F. = WC/kamar
mandi
G. = Pintu
masuk/depan
H. = Pintu
belakang
|
a. Tipe Tempat Tinggal |
|
Tempat tinggal pribadi (permanen) |
|
b. Gambaran kondisi rumah |
|
Rumah sehat/bersih |
|
1) Jenis bangunan |
|
Tembok |
|
2) Luas bangunan |
|
- |
|
3) Luas pekarangan |
|
- |
|
4) Jumlah jendela |
|
4 jendela |
|
5) Kondisi ventilasi rumah |
|
Baik/aman |
|
6) Kondisi pencahayaan rumah |
|
Lampu rumah ada 5 |
|
7) Jenis lantai |
|
Pakai tehel |
|
8) Kebersihan rumah secara keseluruhan |
|
Bersih |
|
9) Pengelolaan sampah keluarga |
|
Langsung
buang ke tong sampah |
|
10) Kondisi jamban keluarga |
|
Bersih menggunakan jamban dalam |
|
11) Sumber air bersih dalam keluarga |
|
Pakai sumur bor |
|
12) Jarak sumber air minum dengan septic
tank |
|
10 m |
|
13) Sumber air minum yang digunakan |
|
Air galon isi ulang |
|
14) Keadaan dapur |
|
Bersih |
|
15) Pembuangan limbah |
|
Langsung ke tanah |
|
16) Keamanan lingkungan rumah |
|
Terjaga / ada pagarnya |
|
17) Perasaan subyektif keluarga terhadap
rumah |
|
Sangat bahagia punya rumah |
|
18) Pengaturan pengaturan rumah dan
privaci |
|
Rumah selalu di kunci kecuali ada tamu baru di
buka |
2. Karakteristik Lingkungan dan Komunitas Tempat
Tinggal yang lebih luas.
a.
Karakteristik
fisik dari lingkungan :
-
Tinggal di
lingkungan perkotaan
b.
Karakteristik
demografis dari lingkungan dan komunitas
-
jauh dari
pegunungan
c.
Bagimana fasilitas-fasilitas
mudah diakses atau dijangkau oleh keluarga
-
Puskesmas
d.
Tersedianya
transportasi umum yang dapat digunakan oleh keluarga dalam mengakses fasilitas
yang ada.
-
Kendaraan
roda 2 karena puskesma, posyandu, dan RS mudah di jangkau
e.
Insiden kejahatan
disekitar lingkungan masyarakat
-
Tidak pernah
ada kejadian selama tinggal,dan cukup aman dan kondusif
f.
Mobilitas
geografis keluarga
-
Bapak Tn.O
dan ibu Ny.M tidak berpindah-pindah tempat berpindah-pindah tempat
g.
Perkumpulan
keluarga dan interaksi dengan masyarakat
-
Ny.M
mengikuti arisan di lingkungan sekolah bersama teman-teman guru
1. Pola dan komunikasi keluarga
a. Bagaimana cara berkomunikasi antar anggota
keluarga
-
Cara
berkomunikasi keluarga Tn. O yaitu terbuka jika ada masalah di selesaikan
secara kekeluargaan, damai, tenang tanpa ada pertengkaran/keributan
b. Sistem komunikasi yang digunakan
-
Menggunakan
bahasa indonesia seperti biasa
2. Struktur kekuatan keluarga
3. Pencari nafkah yaitu Tn.O tetapi di bantu oleh
isrti
4. Struktur Peran (formal & informal)
Dalam struktur peran keluarga, Tn.O
sebagai kepala keluarga berperan sebagai sumber kekuatan keluarga yang selalu
menjalankan tanggung jawab sebagai kepala keluarga, Ny.M hanya menjalankan
perannya sebagai ibu rumah tangga yang berperan dalam mengurus rumah, sedangkan
An.I berperan sebagi anak.
5. Nilai-Nilai Keluarga
berdasarkan budaya suku buton serta
dari agama islam. Nilai dan norma yang dimaksut seperti, saling menghargai,
menjaga kerukunan masyarakat serta gotong royong.
E.
RIWAYAT DAN TAHAP PERKEMBANGAN KELUARGA
1. Tahap perkembangan keluarga saat ini
-
School age
(Anak Usia Sekolah)
2. Tugas perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
3. Riwayat keluarga sebelumnya
-
Tidak ada
riwayat untuk An.I
-
Tn.H pernah
mengalami Diare
4. Latar Belakang Budaya Keluarga
-
Sama-sama
suku buton Tn.O dan Ny.M
5. Identifikasi Religius
-
Sama-sama
beragama islam
-
Tn.O dan Ny.M
tidak pernah mengikuti kegiatan di luar rumah.
F. Status sosial ekonomi keluarga
1.
Status Kelas
Sosial
-
Ny.M dan Tn.O
pernah mengalami status sosial yaitu ekonominya rendah tapi sekarang sudah
tercukupi
2.
Status
Ekonomi
-
Pendapatan
Tn.O 4jt/bln
-
Pendapatan
Tidak ada hanya ibu rumah tangga
1. Fungsi Sosial
Keluarga Tn.O aktif dalam kegiatan social yang berada dimasyarakat,
keluarga tersebut juga aktif berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Dengan kata
lain, hubungan keluarga Tn.O dengan
tetangga terjalin dengan baik.
3. Fungsi reproduksi
Dalam keluarga Tn.O
memiliki 2 orang anak, tidak merencanakan jumlah anak, tidakmenggunakan
4. Fungsi Ekonomi
Hasil
pendapatan suami dan yang didapatkan dicukupkan untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari.
1. Stresor jangka pendek dan jangka panjang
Keluarga tidak mengalami yang namanya penyakit
hanya saja anak Tn.O selalu keras kepala jangka panjang anak selalu di berikan
nasehat untuk menjadi anak yang penurut dan tidak keras kepala lagi.
2. Kemampuan keluarganya berespon
terhadap situasi/ stressor
Dalam menghadapi masalah keluarga Tn.O dan Ny.M selalu memikirkan kedepannya bagaimana jika anak selalu kepala
dan tidak mau mendengarkan nasehat dari orang tua.
3. Strategi koping yang digunakan
Untuk mengatasi stres yang
dialami, keluarga Tn.O dan Ny.M biasanya dengan cara bercengkrama bersama
anggota keluarga, refresing, mendekatkan diri kepada tuhan dan berisitirahat
yang cukup. Dan Ny.M menendiskusikan setiap ada masalah pada Tn.O sehingga
masukan atau solusi yang diberikan dapat membantu menyelesaikan masalahnya.
4. Strategi adaptasi
disfungsional
Dari hasil pengkajian
yang dilakukan tidak adanya cara-cara keluarga mengatasi masalah secara mal
adaftif.
I.
Aktivitas Rekreasi Keluarga
Keluarga Tn.O jarang
melakukan aktivitas refreshing bersama keluarga selalu sibuk urus anak dan
pekerjaan.
J.
Harapan Keluarga Terhadap Petugas Kesehatan
Keluarga memiliki harapan dengan adanya mahasiswa yang melakukan praktek
keluarga dapat memiliki pengetahuan lebih tentang pentingnya menjaga kesehatan
dan berharap sangat membantu keluarga mencegah penyakit.
K. Tingkat Kemandirian Keluarga
Tingkat kemandirian keluarga terdiri dari tujuh riteria
kemampuan keluarga yang telah dicapai.
|
Kriteria 1 |
: |
keluarga menerima
perawat |
|
Kriteria 2 |
: |
keluarga menerima pelayanan kesehatan sesuai rencana rencana keperawatan
keluarga |
|
Kriteria 3 |
: |
keluarga tahu dan dapat mengungkapkan masalah kesehatannya secara benar |
|
Kriteria 4 |
: |
keluarga memanfaatkan fasilitas kesehatan pelayanan kesehatan sesuai
anjuran |
|
Kriteria 5 |
: |
keluarga melakukan tindakan keperawatan sederhana yang sesuai anjuran |
|
Kriteria 6 |
: |
keluarga melakukan tidakan pencegahan secara aktif |
|
Kriteria 7 |
: |
keluarga melakukan tidakan promotif secara aktif |
|
Tingkat Kemandirian |
Kriteria 1 |
Kriteria 2 |
Kriteria 3 |
Kriteria 4 |
Kriteria 5 |
Kriteria 6 |
Kriteria 7 |
|
Tingkat I |
V |
v |
- |
- |
- |
- |
- |
|
Tingkat II |
V |
v |
v |
v |
v |
- |
- |
|
Tingkat III |
V |
v |
v |
v |
v |
v |
|
|
Tingkat IV |
V |
v |
v |
v |
v |
v |
V |
Tipe keluarga inti yang saling suport satu sama lain yang ada di lingkaran
keluarga.
II.
ANALISA DATA
|
Analisis
Data |
Kode |
Etiologi |
Masalah |
|
Ds : Tn. O mengatakan cepat lelah, letih dan pusing. Do : - Malas beraktivitas - TTV N: 90 x/m
R: 18 x/m S: 37, C |
Kode : 00188 Manajemen
kesehatan Kelas: 2 Domain: 1 |
Ventilasi
dan pencahayaan kamar kurang Faktor
resiko terjadinya ispa |
Perilaku
kesehatan cenderung beresiko. |
1. 00188 Perilaku kesehatan cenderung beresiko
.
|
No |
Diagnosa |
Tujuan
& kriteria hasil (NOC) |
Intervensi
(NIC) |
|
1. |
Manajemen kesehatan Kelas: 2 Domain: 1 Perilaku kesehatan cenderung beresiko. Ds: Tn. O mengatakan
cepat lelah, letih dan pusing. Do : - Malas beraktivitas - TTV : N: 90 x/m R: 18 x/m S: 37, C |
Seteleh dilakukan tindakan keperawatan
selama 3x24 jam, diharapkan NOC : keluarga mampu mengenal masalah kesehatan 1. 1803 pengentahuan kesehatan (Skala 1 menjadi
4) 2. 1603 perilaku peningkatan kesehatan (skala 2 menjadi 5) 3. 1827 Mencari informasi masalah kesehatannya ( Skala 2 menjadi 4) |
Intervensi
keperawat Keluarga mampu mengenal masalah : 1. 5606 pengajaran individu 2. 5604 pengajaran kelompok 3. 5602 pengajaran proses penyakit 4. 1100 manajemen nutrisi |
III.
CATATAN ASUHAN KEPERAWATAN KELUAGA
Puskesmas :
Nama KK :
Tn. O
No. Register :
-
|
TANGGAL/JAM |
DIAGNOSA
KEPERAWATAN |
TINDAKAN |
EVALUASI |
TANDA
TANGAN |
|
20 februari 2021 |
Kode : 00188 Diagnosa : Perilaku kesehatan
cenderung beresiko |
1. mengajarkan individu bagaimana
cara untuk mengetahui masalah kesehatan yang di alami 2. mengajarkan kelompok agar selalu
sama-sama mengingatkan akan pentingnya penkes 3. mengajarkan proses penyakit yang
Tn.O alami selama ini |
S : Tn.O mengatakan paham dengan edukasi yang diberikan. juga merasa rileks
setalah mendengarkan penjelasan dari perawat akan penkes yang di berikan O : Klian mampu menjawab semua pertanyaan dalam
mengevaluasi materi yang di berikan |
|
|
TANGGAL/JAM |
DIAGNOSA
KEPERAWATAN |
EVALUASI |
TANDA
TANGAN |
|
10 feb 2021 |
Kode : 00188 Diagnosa : Bersihan jalan napas tidak efektif b.d batuk tidak efektif |
S : orang tua yaitu Tn.O
dan Ny.M mengatakan bahwa apa yang di alami oleh Tn.O sudah beransur-ansur
membaik O : tampak membaik dan
mengerti apa yang di jelaskan A: masalah sebagian
teratasi P : persepsi di lanjutkan |
|
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
SARAN
1. Bagi
Perawat Untuk melakukan implementasi keperawatan dalam asuhan keperawatan
keluarga pada tahap perkembangan keluarga usia anak sekolah.
2. Bagi
Puskesmas Mampu memberikan pelayanan dan mempertahankan hubungan kerja, baik
antara tim kesehatan dengan klien. Sehingga dapat meningkatkan mutu pelayanan
asuhan keperawatan, khusus nya kesehatan gigi
3. Bagi
Pendidikan Dapat meningkatkan mutu pelayanan pendidikan yang lebih berkualitas
dan professional sehingga dapat tercipta perawat professional, terampil,
inovatif, dan bermutu memberikan asuhan keperawatan secara menyeluruh
berdasarkan kode etik keperawatan.
DAFTAR PUSTAKA
[1] S. A. Rahma and P. P. Hipertensi, “Family
Nursing Care in the Stage of Development Family With Middle-Aged Adults,” pp.
1–7, 2019.
[2] lia dwi jayanti, “No 主観的健康感を中心とした在宅高齢者における 健康関連指標に関する共分散構造分析Title,” vol. 21, no. 1, pp. 1–9,
2020.
[3] “No Title,” 2017.
[4] A. N. A. Dengan, I. Saluran, and P. Akut, “Poltekkes kemenkes
ri padang,” 2017.
[5] S. Sarayati, “Analisis Faktor Perilaku Seksual Pada Anak SD di
SDN Dukuh Kupang II - 489 Kecamatan Dukuh Pakis Kelurahan Dukuh Kupang
Surabaya,” ADLN Perpust. Univ. Airlangga, pp. 11–76, 2016.
[6] G. Hechavarría, Rodney; López, “Jajanan sehat,” J. Chem.
Inf. Model., vol. 53, no. 9, pp. 1689–1699, 2013.
Komentar
Posting Komentar