ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA Tn.H DENGAN MASALAH KESEHATAN ISPA (INFEKSI
SALURAN PERNAPASAN AKUT)
PADA An.M

Oleh :
WAODE
YUNITA
S.0017.P.041
PROGRAM
STUDI S1 KEPERAWATAN
STIKES
KARYA KESEHATAN
KENDARI
2021
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmatnya dapat
penulis dapat menyelesaikan tugas kami dengan judul “ISPA” dengan tepat waktu.
Makalah ini disusun untuk menyelesaikan tugas kuliah di Program Studi S1
keperawatan stikes karya kesehatan kendari. Dalam penyusunan makalah ini, kami telah mengalami berbagai hal baik
suka maupun duka. Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini tidak akan
selesai dengan lancar dan tepat waktu tanpa adanya bantuan, dorongan, serta
bimbingan dari berbagai pihak. Sebagai rasa syukur atas terselesainya makalah
ini, maka dengan tulus kami sampaikan terimakasi kepada pihak-pihak yang turut
membantu.
Dalam penyusunan makalah ini, kami
menyadari masih banyak kekurangan baik padaa teknik penulisan penyempurnaan
pembuatan makalah ini. Akhir kata, kami berharap semoga makalah ini dapat
menambah pengetahuan dan dapat diterapkam dalam, menyelesaikan suatu
permasalahan yang berhubungan dengan judul makalah ini.
Kendari, 09 Maret 2021
DAFTAR ISI
Contents
E. Tugas keluarga dalam bidang kesehatan
Bersihan
jalan napas tidak efektif b.d batuk tidak efektif
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Infeksi
saluran pernapasan akut (ISPA) adalah infeksi akut yang melibatkan organ
saluran pernafasan bagian atas dan saluran pernafasan bagian bawah. Infeksi ini
disebabkan oleh virus, jamur,dan bakteri. ISPA akan menyerang host apabila
ketahanan tubuh (immunologi) menurun. Penyakit ISPA ini paling banyak di
temukan pada anak-anak dan paling sering menjadi satu-satunya alasan untuk
datang kerumah sakit atau puskesmas untuk menjalani perawatan inap maupun rawat
jalan(Cahya, 2016).
World
Health Organization (WHO) dalam Siska (2017), memperkirakan insidens Infeksi
Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dinegara berkembang dengan angka kematian balita
diatas 40 per 1000 kelahiran hidup adalah 15%-20% pertahun pada golongan usia
balita. Pada tahun 2010,jumlah kematian pada balita Indonesia sebanyak 151.000
kejadian, dimana 14% dari kejadian tersebut disebabkan oleh pneumonia [1] Period prevalence ISPA dihitung dalam kurun waktu
1 bulan terakhir. Lima provinsi dengan ISPA tertinggi adalah Nusa Tenggara
Timur (41,7%), Papua (31,1%), Aceh (30,0%), Nusa Tenggara Barat (28,3%), dan
Jawa Timur (28,3%). Pada Riskesdas 2007, Nusa Tenggara Timur juga merupakan
provinsi tertinggi dengan ISPA. Period prevalence ISPA Indonesia menurut
Riskesdas 2013, (25,0%) tidak jauh berbeda dengan 2007 (25,5%). Karakteristik
penduduk dengan ISPA yang tertinggi terjadi pada kelompok umur 1-4 tahun
(25,8%). Menurut jenis kelamin, tidak berbeda antara laki-laki dan perempuan.
Penyakit ini lebih banyak dialami pada kelompok penduduk dengan kuintil indeks
kepemilikan terbawah dan menengah bawah[2]
Di
Indonesia, jumlah kasus Infeksi Saluran menyebabkan kesakitan dan merupakan
penyebab Pernapasan Akut (ISPA) sangat tinggi dan selalu utama kematian pada
bayi dan balita menempati urutan teratas dari sepuluh terbanyak. ISPA merupakan
masalah kesehatan yang ISPA sering disalah artikan sebagai infeksi menyebabkan
kematian bayi dan balita yang cukup saluran pernafasan atas. ISPA Indonesia
150.000 kasus atau seorang balita meliputi saluran pernafasan bagian atas dan
bagian meninggal tiap lima menitnya dan setiap anak bawah diperkirakan
mengalami 3-6 episode ISPA setiap tahunnya 40%-60% dari kunjungan dipuskesmas
adalah oleh penyakit ISPA. Dari seluruh kematian yang disebabkanoleh ISPA
mencakup 20%-30%[3]
Menurut data profil kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara Infeksi Saluran
Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyakit yang paling sering berada dalam
daftar 10 (sepuluh) penyakit terbanyak di puskesmas maupun di rumah sakit.
Tahun 2013 di Provinsi Sulawesi Tenggara, terdapat (6,67%) penderita ISPA dan
pada tahun 2014 di Provinsi Sulawesi Tenggara, terdapat (4,49%) penderita ISPA
dan pada tahun 2016 terdapat (2,22%) penderita ISPA. Menurut data Dinas
Kesehatan Kota Kendari tahun 2015 tercatat (83.66%) penderita ISPA dan pada
tahun 2016 tercatat (50,27%) penderita ISPA di kota kendari, dan data Dinas
Kesehatan Kota Kendari pada tahun 2015 distribusi penderita ISPA menurut
puskesmas di Kota Kendari, Puwatu termasuk puskesmas urutan pertama yang
memiliki kasus penderita ISPA terbanyak diantara puskesmas- puskesmas yang ada
di kota kendari.[4]
Perawat sebagai tenaga medis berperan penting dalam mencegah dan
menanggulangi angka kesakitan penyakit ISPA. Peran perawat melalui upaya
promotif dapat menambah pengetahuan keluarga terutama ibu untuk dapat
berkontribusi dalam penurunan angka morbiditas dan mortalitas akibat penyakit
ISPA. Berdasarkan latar belakang tersebut di atas penulis tertarik mengambil
judul Karya Tulis Ilmiah “Asuhan Keperawatan Keluarga yang Mengalami Infeksi
Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dengan Defisiensi Pengetahuan Merawat Balita dengan
ISPA[5]
B.
Tujuan
1.
Mahasiswa
mengetahui proses terjadinya penyakit ISPA
2.
Mahasiswa
mengetahui cara mencegah ISPA
3.
Mahasiswa mampu
merumuskan rencana asuhan keperawatan keluarga pada penyakit ISPA
C.
Manfaat
1.
Bagi mahasiswa,
makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan reverensi untuk materi kasus ispa
2.
Bagi masyarakat,
makalah ini dapat memberikan edukasi tentang penyebab serta pencegahan pada
ispa
3.
Bagi Ilmu
pengetahuan keperawatan, makalah ini dapat dijadikan sebagai update referensi
mengenai kasus ispa
BAB II
KONSEP DASAR KELUARGA
A. Definisi keluarga
Keluarga adalah yang terdiri dari atas individu yang bergabung bersama oleh
ikatan penikahan, darah, atau adopsi dan tinggal didalam satu rumah tangga yang
sama (Friedman, 2010). Sedangkan menurut Wall, (1986) dalam Yolanda (2017),
keluarga adalah sebuah kelompok yang mengidentifikasi diri dan terdiri atas dua
individu atau lebih yang memiliki hubungan khusus, yang dapat terkait dengan
hubungan darah atau hukum atau dapat juga tidak, namun berfungsi sebagai
sedemikian rupa sehingga mereka menganggap dirinya sebagai keluarga.
UU
No. 10 Tahun 1992, mengemukakan keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat
yang terdiri dari suami, istri, dan anak atau suami istri, atau ayah dan
anak-anaknya, atau ibu dan anak-anaknya. Lain halnya menurut BKKBN (1999) dalam
Yolanda (2017), keluarga adalah dua orang atau lebih yang dibentuk berdasarkan
ikatan perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan
materil yang layak, bertakwa kepada tuhan memiliki hubungan yang selaras dan
seimbang antara anggota keluarga dan masyarakat serta lingkungannya.[4]
B. Bentuk keluarga
Berbagai bentuk keluarga tradisional
adalah sebagai berikut :
a.
Keluarga Tradisional
1)
Keluarga inti
Jumlah keluarga inti yang terdiri dari seorang ayah yang mencari nafkah,
seorang ibu yang mengurusi rumah tangga dan anak (Friedman, 2010). Sedangkan
menurut Sudiharto (2007), Kelurga inti adalah keluarga yang dibentuk karena
ikatan perkawinan yang direncanakan yang terdiri dari suami, istri, dan
anak-anak karena kelahiran (natural) maupun adopsi.
2)
Keluarga adopsi.
Keluarga Keluarga adopsi adalah dengan menyerahkan secara sah tanggung
jawab sebagai orang tua seterusnya dari oranr tua kandung ke orang tua adopsi,
biasanya menimbulkan keadaan yang saling menguntungkan baik bagi orang tua
maupun anak. Disatu pihak orang tua adopsi mampu memberi asuhan dan
kasihsayangnya bagi anak adospsinya, sementara anak adopsi diberi sebuah
keluarga yang sangat menginginkan mereka (Friedman, 2010).
3)
Keluarga besar ( Extended Family )
Keluarga
dengan pasangan dengan pasangan yang berbagi pengaturan rumah tangga dan
pengeluaran keuangan dengan orang tua, kakak / adik, dan keluarga dekat
lainnya. Anak – anak kemudian dibesarkan oleh generasi dan memiliki pilihan
model pola perilaku yang akan membentuk pola perilaku mereka (Friedman, 2010).
Sedangkan menurut Sudiharto (2007), keluarga besar adalah Keluarga inti
ditambah keluarga yang lain (karena hubungan darah), misalnya kakek, nenek,
bibi, paman, sepupu termasuk keluarga modern, seperti orang tua tunggal,
keluarga tanpa anak, serta keluarga dengan pasangan sejenis.
4)
Keluarga dengan orang tua tunggal
Keluarga
dengan kepala rumah tangga duda/janda yang bercerai, ditelantarkan, atau
berpisah (Friedman, 2010).
5) Dewasa lajang yang tinggal sendiri
Kebanyakan
individu yang tinggal sendiri adalah bagian dari beberapa bentuk jaringan
keluarga yang longgar. Jika jaringan ini tidak terdiri atas kerabat, jaringan
ini dapat terdiri atas teman–teman seperti mereka yang sama – sama tinggal di
rumah pensiun, rumah jompo, atau hidup bertetangga. Hewan pemeliharaan juga
dapat menjadi anggota keluarga yang penting (Yolanda, 2017).
6)
Keluarga orang tua tiri
Keluarga yang pada awalnya mengalami proses
penyatuan yang kompleks dan peneuh dengan stress. Banyak penyesuaian yang perlu
dilakukan dan sering kali individu yang berbeda atau subkelompok keluarga yang
baru terbentuk ini beradaptasi dengan kecepatan yang tidak sama. Walaupun
seluruh anggota keluarga harus menyesuaikan diri dengan situasi keluarga yang
baru, anak – anak seing kali memiliki masalah koping yang lebih besar karena
usia dan tugas perkembangan mereka (Yolanda, 2017).
7)
Keluarga binuclear
Keluarga yang terbentuk setelah
perceraian yaitu anak merupakan anggota dari sebuah sistem keluarga yang
terdiri atas dua rumah tangga inti, maternal dan paternal, dengan keragaman
dalam hal tingkat kerjasama dan waktu yang dihabiskan dalam setiap rumah tangga
(Yolanda, 2017).
C. Fungsi keluarga
Ada lima fungsi keluarga menurut (Friedman, 2010) dalam Yolanda 2017:
a. Fungsi afektif
Fungsi
afektif merupakan dasar utama baik untuk pembentukan maupun untuk berkelanjutan
unit keluarga itu sendir, sehingga fungsi afektif merupakan salah satu fungsi
keluarga yang paling penting.Peran utama orang dewasa dalam keluarga adalah
fungsi afektif, fungsi ini berhubungan dengan persepsi keluarga dan kepedulian
terhadap kebutuhan sosioemosional semua anggota keluarganya.
b. Fungsi sosialisasi dan status social
Sosialisasi merujuk pada banyaknya pengalaman belajar yang diberikan
dalam keluarg yang ditunjuk untuk mendidik anak–anak tentang cara menjalankan
fungsi dan memikul peran social orang dewasa seperti peran yang di pikul
suami-ayah dan istri-ibu. Status sosial atau pemberian status adalah aspek lain
dari fungsi sosialisasi. Pemberian status kepada anak berarti mewariskan
tradisi, nilai dan hak keluarga, walaupun tradisi saat ini tidak menunjukan
pola sebagian besar orang dewasa Amerika.
c. Fungsi reproduksi
Untuk menjamin kontiniutas antar generasi
kleuarga dan masyarakat yaitu menyediakan angagota baru untuk masyarakat.
d. Fungsi perawatan kesehatan
Fungsi
fisik keluarga dipenuhi oleh orang tua yang menyediakan makanan, pakaian,
tempat tinggal, perawatan terhadap kesehatan dan perlindungan terhadap
bahaya.Pelayanan dan praktik kesehatan adalah fungsi keluarga yang paling
relafan bagi perawat keluarga.
e. Fungsi ekonomi
Fungsi
ekonomi melibatkan penyediaan keluarga akan sumber daya yang cukup finansial,
ruang dan materi serta alokasinya yang sesuai melalui proses pengambilan
keputusan.
D. Struktur
keluarga
Ada empat struktur keluarga menurut
(Friedman, 2010) adalah struktur peran, struktur nilai keluarga, proses
komunikasi dan struktur kekuasaan dan pengambilan keputusan.
a. Struktur peran.
Peran adalah perilaku yang dikaitkan dengan
seseorang yang memegang sebuah posisi tertentu, posisi mengidentifikasi status
atau tempat seseorang dalam suatu system social.
b. Struktur nilai keluarga
Nilai keluarga adalah suatu system ide,
perilaku dan keyakinan tentang nilai suatu hal atau konsep yan secara sadar
maupun tidak sadar mengikat anggota keuarga dalam kebudayaan sehari-hari atau
kebudayaan umum.
c. Proses komunikasi
Proses
komunikasi ada dua yaitu prses komunikasi fungsional dan proses komunikasi
disfungsonal.
1) Proses
komunikasi fungsional. Komunikasi fungsional dipandang sebagai landasan
keberhasilan keluarga yang sehat, dan komunikasi funsional didefenisikan sebagai
pengerim dan penerima pesan yang baik isi maupun tingkat intruksi pesan yang
langsung dan jelas, serta kelarasan antara isi dan tingkai intruksi.
2) Proses
komunikasi disfungsional. Sama halnya ada cara berkomunikasi yang fungsional
gambaran dar komuniasi disfungsional dari pengirim dan penerima serta komunkasi
disfungsinal juga melibatkan pengirim dan penerima.
E. Tugas keluarga
dalam bidang kesehatan
Ada 5 pokok tugas keluarga dalam bidang
kesehatan menurut Friedman (1998) dalam Dion & Betan (2013) adalalah
sebagai berikut:
a.
Mengenal masalah kesehatan keluarga Keluarga perlu mengenal keadaan kesehatan
dan perubahanperubahan
yang dialami anggota keluarga.Perubahan sekecil
apapun yang dialami anggota keluarga secara tidak langsung menjadi perhatian
keluarga dan orang tua.Sejauh mana keluarga mengetahui dan mengenal fakta-fakta
dari masalah kesehatan yang meliputi pengertian, tanda dan gejala, factor
penyebab yang mempengaruhinya, serta persepsi keluarga terhadap masalah.
b. Membuat keputusan tindakan yang tepat
Sebelum keluarga dapat membuat keputusan yang
tepat mengenai masalah kesehatan yang dialaminya, perawat harus dapat mengkaji
keadaan keluarga tersebut agar dapat menfasilitasi keluarga dalam membuat
keputusan.
F. Peran
perawat keluarga
Ada
tujuh peran perawat keluarga menurut Sudiharto (2012) dalam Yolanda (2017)
adalah sebagai berikut:
a.
Sebagai pendidik Perawat bertanggung jawab memberikan pendidikan kesehatan pada
keluarga, terutama untuk memandirikan keluarga dalam merawat anggota keluarga
yang memiliki masalah kesehatan
b.
Sebagai koordinator pelaksan pelayanan kesehatan Perawat bertanggung jawab
memberikan pelayanan keperawatan yang komprehensif. Pelayanan keperawatan yang
bersinambungan diberikan untuk menghindari kesenjangan antara keluarga dan unit
pelayanan kesehatan.
c.
Sebagai pelaksana pelayanan perawatan Pelayanan keperawatan dapat diberikan
kepada keluarga melalui kontak pertama dengan anggota keluarga yang sakit yang
memiliki masalah kesehatan.Dengan demikian, anggota keluarga yang sakit dapat
menjadi “entry point” bagi perawatan untuk memberikan asuhan keperawatan
keluarga secara komprehensif.
d.
Sebagai supervisor pelayanan keperawatan Perawat melakukan supervisi ataupun
pembinaan terhadap melalui
kunjungan rumah secara teratur, baik terhadap
keluarga berisiko tinggi maupun yang tidak.Kunjungan rumah tersebut dapat
direncanakan terlebih dahulu atau secara mendadak, sehingga perawat mengetahui
apakah keluarga menerapkan asuhan yang diberikan oleh perawat.
e.
Sebagai pembela (advokat) Perawat berperan sebagai advokat keluarga untuk
melindungi hak-hak keluarga klien.Perawat diharapkan mampu mengetahui harapan
serta memodifikasi system pada perawatan yang diberikan untuk memenuhi hak dan
kebutuhan keluarga.Pemahaman yang baik oleh keluarga terhadap hak dan kewajiban
mereka sebagai klien mempermudah tugas perawat untuk memandirikan keluarga.
f.
Sebagai fasilitator Perawat dapat menjadi tempat bertanya individu, keluarga
dan
masyarakat untuk memecahkan masalah kesehatan dan
keperawatan yang mereka hadapi sehari-hari serta dapat membantu jalan keluar
dalam mengatasi masalah.
KONSEP
DASAR ISPA
A. Definisi Ispa
Infeksi saluran pernafasan akut adalah proses peradangan yang disebabkan
oleh oleh virus, infeksi bakteri, atipikal (Mycoplasma) atau aspirasi zat
asing, yang melibatkan salah satu atau seluruh bagian saluran. Menurut Rudolph
(2006) ISPA disebabkan oleh faktor infeksi dan faktor psikologis. Penyebab
utama ISPA pada anak > 90% diakibatkan oleh infeksi bakteri, virus dan
jamur. Sedangkan faktor psikologis yaitu rasa takut dan cemas (jarang, tetapi
dapat terjadi pada anak yang lebih besar).[6]
Pengertian lain dari ISPA adalah sebagai berikut menurut Nelson,1999.
ISPA adalah infeksi yang terutama mengenai struktur saluran diatas Laring,
tetapi kebanyakan penyakit ini mengenai bagian saluran atas dan bawah secara
stimulant berurutan.
Infeksi Saluran Pernafasan Akut atau ISPA adalah Infeksi Saluran
Pernafasan yang berlangsung dalam jangka waktu sampai dengan 14 hari. Yang
dimaksud saluran pernapasan adalah organ dari hidung sampai alveoli beserta
organ-organ adreksanya, misalnya sinus, ruang telinga tengah, pleura (Ismail
Djauhar, 1996).[6]
B. Anatomi Fisiologi
Sistem
a. Organ
Pernafasan
1) Hidung
Hidung atau nasal merupakan saluran udara yang
pertama, mempunyai dua lubang (kavum nasi), dipisahkan oleh sekat hidung
(septum nasi). Di dalamnya terdapat bulu-bulu yang berguna untuk menyaring
udara, debu, dan kotoran yang masuk ke dalam lubang hidung (Adib, 2017). Di
bagian depan berhubungan keluar melalui nares (cuping hidung) anterior dan di
belakang berhubungan dengan bagian atas farings (nasofaring). Masing-masing
rongga hidung dibagi menjadi bagian vestibulum, yaitu bagian lebih lebar tepat
di belakang nares anterior, dan bagian respirasi (Adib, 2017)
Menurut
Pearce (2007) permukaan luar hidung ditutupi oleh kulit yang memiliki ciri
adanya kelenjar sabesa besar, yang meluas ke dalam vestibulum nasi tempat
terdapat kelenjar sabesa, kelenjar keringat, dan folikel rambut yang kaku dan
besar. Rambut ini berfungsi menapis benda-benda kasar yang terdapat dalam udara
inspirasi. Terdapat 3 fungsi rongga hidung :
a) Dalam hal pernafasan = udara yang di inspirasi
melalui rongga hidung akan menjalani 3 proses yaitu penyaringan (filtrasi),
penghanatan, dan pelembaban.
b) Ephithelium olfactory = bagian meial rongga
hidung memiliki fungsi dalam penerimaan bau.
c) Rongga hidung juga berhubungan dengan
pembentukan suara- suara fenotik dimana ia berfungsi sebagai ruang resonasi.
Menurut Graaff (2010) pada potongan frontal, rongga hidung berbentuk
seperti buah alpukat, terbagi dua oleh sekat (septum mediana). Dari dinding
lateral menonjol tiga lengkungan tulang yang dilapisi oleh mukosa, yaitu:
a) Konka nasalis superior,
b) Konka nasalis medius,
c) Konka nasalis inferior, terdapat jaringan
kavernosus atau jaringan erektil yaitu pleksus vena besar, berdinding tipis,
dekat permukaan.
Diantara konka-konka ini terdapat 3 buah lekukan meatus yaitu meatus
superior (lekukan bagian atas), meatus medialis (lekukan bagian tengah dan
meatus inferior (lekukan bagian bawah). Meatus- meatus inilah yang dilewati
oleh udara pernafasan, sebelah dalam terdapat lubang yang berhubungan dengan
tekak, lubang ini disebut koana.
Dasar
dari rongga hidung dibentuk oleh tulang rahang atas, keatas rongga hidung
berhubungan dengan beberapa rongga yang disebut sinus paranasalis, yaitu sinus
maksilaris pada rongga rahang atas, sinus frontalis pada rongga tulang dahi,
sinus sfenoidalis pada rongga tulang baji dan sinus etmodialis pada rongga
tulang tapis (Adib, 2017)
Pada
sinus etmodialis, keluar ujung-ujung saraf penciuman yang
menuju ke konka nasalis. Pada konka nasalis
terdapat sel-sel penciuman, sel tersebut terutama terdapat di bagianb atas.
Pada hidung di bagian mukosa terdapat serabut-serabut syaraf atau respektor
dari saraf penciuman disebut nervus olfaktorius (Adib, 2017).
Disebelah
belakang konka bagian kiri kanan dan sebelah atas dari langit-langit terdapat
satu lubang pembuluh yang menghubungkan rongga tekak dengan rongga pendengaran
tengah, saluran ini disebut tuba auditiva eustaki, yang menghubungkan telinga
tengah dengan faring dan laring. Hidung juga berhubungan dengan saluran air
mata disebut tuba lakminaris (Adib, 2017)
Fungsi hidung
a) Bekerja
sebagai saluran udara pernafasan
b) Sebagai
penyaring udara pernafasan yang dilakukan oleh bulu-bulu hidung
c) Dapat
menghangatkan udara pernafasan oleh mukosa
d) Membunuh
kuman-kuman yang masuk, bersama-sama udara pernafasan oleh leukosit yang
terdapat dalam selaput lendir (mukosa) atau hidung.
B. Faring
Tekak atau faring merupakan tempat persimpangan antara jalan pernapasan
dan jalan makanan. Terdapat dibawah dasar tengkorak, dibelakang rongga hidung
dan mulut sebelah depan ruas tulang leher. Hubungan faring dengan organ-organ
lain keatas berhubungan dengan rongga hidung, dengan perantaraan lubang yang
bernama koana. Ke depan berhubungan dengan rongga mulut, tempat hubungan ini
bernama istmus fausium. Ke bawah terdapat dua lubang, ke depan lubang laring,
ke belakang lubang esofagus (Adib, 2017).
Dibawah selaput lendir terdapat jaringan ikat, juga dibeberapa tempat
terdapat folikel getah bening. Perkumpulan getah bening ini dinamakan adenoid.
Disebelahnya terdapat 2 buah tonsilkiri dan kanan dari tekak. Di sebelah
belakang terdapat epiglottis (empang tenggorok) yang berfungsi menutup laring
pada waktu menelan makanan (Adib, 2017).
Menurut Graaff (2010 dalam Adib, 2017) Faring dapat dibagi men jadi
tiga, yaitu:
a)
Nasofaring, yang terletak di bawah dasar tengkorak, belakang dan atas palatum
molle. Pada bagian ini terdapat dua struktur penting yaitu adanya saluran yang
menghubungkan dengan tuba eustachius dan tuba auditory. Tuba Eustachii bermuara
pada nasofaring dan berfungsi menyeimbangkan tekanan udara pada kedua sisi
membrane timpani. Apabila tidak sama, telinga terasa sakit. Untuk membuka tuba
ini, orang harus menelan. Tuba Auditory yang menghubungkan nasofaring dengan
telinga bagian tengah.
b)
Orofaring merupakan bagian tengah farings antara palatum lunak dan tulang
hyodi. Pada bagian ini traktus respiratory dan traktus digestif menyilang
dimana orofaring merupakan bagian dari kedua saluran ini. Orofaring terletak di
belakang rongga mulut dan permukaan belakang lidah. Dasar atau pangkal lidah
berasal dari dinding anterior orofaring, bagian orofaring ini memiliki fungsi
pada system pernapasan dan system pencernaan. refleks menelan berawal dari
orofaring menimbulkan dua perubahan makanan terdorong masuk ke saluran cerna
(oesophagus) dan secara stimulant, katup menutup laring untuk mencegah makanan
masuk ke dalam saluran pernapasan. Orofaring dipisahkan dari mulut oleh fauces.
Fauces adalah tempat terdapatnya macam-macam tonsila, seperti tonsila palatina,
tonsila faringeal, dan tonsila lingual.
C.
Laring
Pangkal Tenggorokan (laring)
merupakan saluran udara dan bertindak sebagai pembentukan suara terletak di
depan bagian faring sampai ketinggian vertebra servikalis dan masuk ke dalam
trakea dibawahnya. Pangkal tenggorokan itu dapat ditutup oleh sebuah empang
tenggorok yang disebut epiglotis, yang terdiri dari tulang- tulang rawan yang
berfungsi pada waktu kita menelan makanan menutupi laring (Adib, 2017). Laring
terdiri dari 5 tulang rawan antara lain:
a) Kartilago tiroid (1 buah) depan jakun sangat
jelas terlihat pada pria.
b) Kartilago ariteanoid (2 buah) yang berbentuk
beker
c) Kartilago krikoid (1 buah) yang berbentuk
cincin
d) Kartilago epiglotis (1 buah). Laring dilapisi
oleh selaput lendir, kecuali pita
suara
dan bagian epiglotis yang dilapisi oleh sel epitelium berlapis (Adib, 2017).
Proses pembentukan suara :
Terbentuknya
suara merupakan hasil dari kerjasama antara rongga mulut, rongga hidung,
laring, lidah dan bibir. Pada pita suara palsu tidak terdapat otot, oleh karena
itu pita suara ini tidak dapat bergetar, hanya antara kedua pita suara tadi
dimasuki oleh aliran udara maka tulang rawan gondok dan tulang rawan bentuk
beker tadi diputar. Akibatnya pita suara dapat mengencang dan mengendor dengan
demikian sela udara menjadi sempit atau luas (Adib, 2017).
Pergerakan ini dibantu pula oleh otot-otot laring, udara yang dari
paru-paru dihembuskan dan menggetarkan pita suara. Getaran itu diteruskan
melalui udara yang keluar – masuk. Perbedaan suara seseorang bergantung pada
tebal dan panjangnya pita suara. Pita suara pria jauh lebih tebal daripada pita
suara wanita (Adib, 2017).
D. Trakea
Batang
Tenggorokan (trakea) merupakan lanjutan dari laring yang terbentuk oleh 16-20
cincin yang terdiri dari tulang-tulang rawan yang berbentuk seperti kuku kuda.
Panjang trakea 9-11 cm dan dibelakang terdiri dari jaringan ikat yang dilapisi
oleh otot polos. Sebelah dalam diliputi oleh selaput lendir yang berbulu getar
yang disebut sel bersilia hanya bergerak kearah luar (Adib, 2017).
Trakea
terletak di depan saluran esofagus, mengalami percabangan di bagian ujung
menuju ke paru-paru. Yang memisahkan trakea menjadi bronkus kiri dan kanan
disebut karina. Dinding-dinding trakea tersusun atas sel epitel bersilia yang
menghasilkan lendir. Lendir ini berfungsi untuk penyaringan lanjutan udara yang
masuk, menjerat partikel-partikel debu, serbuk sari dan kontaminan lainnya. Berdenyut
akan menggerakan mukus ini naik ke faring yang dapat ditelan atau dikeluarkan
melalui rongga mulut. Hal ini bertujuan untuk membersihkan saluran pernapasaan
(Adib, 2017).
E.
Bronkus
Bronkus terbagi menjadi bronkus kanan dan kiri, bronkus lobaris kanan (
3 lobus) dan bronkus lobaris kiri ( 2 bronkus). Bronkus lobaris kanan terbagi
menjadi 10 bronkus segmental dan bronkus lobaris kiri terbagi menjadi 9 bronkus
segmental. Bronkus segmentalis ini kemudian terbagi lagi menjadi bronkus
subsegmental yang dikelilingi oleh jaringan ikat yang memiliki arteri, limfatik
dan saraf (Adib, 2017).
a) Bronkiolus
Bronkus segmental bercabang-cabang menjadi bronkiolus. Bronkiolus
mengandung kelenjar submukosa yang memproduksi lendir yang membentuk selimut
tidak terputus untuk melapisi bagian dalam jalan nafas.
b) Bronkiolus terminalis
Bronkiolus membentuk percabangan menjadi bronkiolus terminalis (yang
mempunyai kelenjar lendir dan silia).
c) Bronkiolus respiratori
Bronkiolus terminalis kemudian menjadi bronkiolus respirstori.
Bronkiolus respiratori dianggap sebagai saluran transisional antara lain jalan
nafas konduksi dan jalan udara pertukaran gas.
d) Duktus alveolar dan sakus alveolar
Bronkiolus respiratori kemudian mengarah ke dalam duktus alveolar dan
sakus alveolar. Dan kemudian menjadi alvioli.
6)
Paru-Paru
Paru-paru merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari
gelembung (gelembung hawa atau alveoli). Gelembug alveoli ini terdiri dari
sel-sel epitel dan endotel. Jika dibentangkan luas permukaannya kurang lebih 90
m². Pada lapisan ini terjadi pertukaran udara, O2 masuk ke dalam darah dan CO2
dikeluarkan dari darah. Banyaknya gelembung paru-paru ini kurang lebih
700.000.000 buah (paru-paru kiri dan kanan) (Adib, 2017).
Paru-paru dibagi dua yaitu paru-paru kanan, terdiri dari 3 lobus
(belahan paru), lobus pulmo dekstra superior, lobus media, dan lobus inferior.
Tiap lobus tersusun oleh lobulus. Paru-paru kiri, terdiri dari pulmo sinistra
lobus superior dan lobus inferior. Tiap-tiap lobus terdiri dari belahan yang
kecil bernama segmen. Paru-paru kiri mempunyai 10 segmen yaitu 5 buah segmen
pada lobus superior, dan 5 buah segmen pada inferior. Paru-paru kanan mempunyai
10 segmen yaitu 5 buah segmen pada lobus superior, 2 buah segmen pada lobus
medialis, dan 3 buah segmen pada lobus inferior. Tiap-tiap segmen ini masih
terbagi lagi menjadi belahan-belahan yang bernama lobulus (Adib, 2017).
Di
antara lobulus satu dengan yang lainnya dibatasi oleh jaringan ikat yang berisi
pembuluh darah getah bening dan saraf, dan tiap lobulus terdapat sebuah
bronkiolus. Di dalam lobulus, bronkiolus ini bercabang-cabang banyak sekali,
cabang ini disebut duktus alveolus. Tiap duktus alveolus berakhir pada alveolus
yang diameternya antara 0,2-0,3 mm (Adib, 2017).
b.
Fisiologi sistem pernafasan
Oksigen dalam tubuh dapat diatur menurut
keperluan. Manusia sangat
membutukan okigen dalam hidupnya, kalau tidak
mendapatkan oksigen selama 4 menit akan mengakibatkan kerusakan pada otak yang
tidak dapat diperbaiki lagidan bisa menimbulkan kematian. Kalau penyediaan
oksigen berkurang akan menimbulkan kacau pikiran dan anoksia serebralis (Adib,
2017).
1. Pernapasan paru
Pernapasan paru adalah pertukaran oksigen dan karbondioksida yang
terjadi pada paru-paru. Pernapasan melalui paru-paru atau pernapasan eksterna,
oksigen diambil melalui mulut dan hidung pada waktu bernapas yang oksigen masuk
melalui trakea sampai ke alveoli berhubungan dengan darah dalam kapiler
pulmonar. Alveoli memisahkan okigen dari darah, oksigen menembus membran,
diambil oleh sel darah merah dibawa ke jantung dan dari jantung dipompakan ke
seluruh tubuh. Di dalam paru-paru karbondioksida merupakan hasil buangan yang
menembus membran alveoli. Dari kapiler darah dikeluarkan melalui pipa bronkus
berakhir sampai pada mulut dan hidung (Adib, 2017).
Empat proses yang berhubungan dengan pernapasan pulmoner :
a) Ventilasi pulmoner, gerakan pernapasan yang
menukar udara dalam alveoli dengan udara luar.
b) Arus darah melalui paru-paru, darah mengandung
oksigen masuk ke seluruh tubuh, karbondioksida dari seluruh tubuh masuk ke
paru- paru.
c) Distribusi arus udara dan arus darah sedemikian
rupa dengan jumlah yang tepat, yang bisa dicapai untuk semua bagian.
d) Difusi gas yang menembus membran alveoli dan
kapiler karbondioksida lebih mudah berdifusi dari pada oksigen.
2.
Pernapasan sel
a)
Transpor gas paru-paru dan jaringan Selisih tekanan parsial antara O2 dan CO2
menekankan bahwa kunci dari pergerakangas O2 mengalir dari alveoli masuk ke
dalam jaringan melalui darah, sedangkan CO2 mengalir dari jaringan ke alveoli
melalui pembuluh darah. Akan tetapi jumlah kedua gas yang ditranspor ke
jaringan dan dari jaringan secara keseluruhan tidak cukup bila O2 tidak larut
dalam darah dan bergabung dengan protein membawa O2 (hemoglobin). Demikian juga
CO2 yang larut masuk ke dalam serangkaian reaksi kimia reversibel (rangkaian
perubahan udara) yang mengubah menjadi senyawa lain. Adanya hemoglobin
menaikkan kapasitas pengangkutan O2 dalam darah sampai 70 kali dan reaksi CO2
menaikkan kadar CO2 dalam darah mnjadi 17 kali (Adib, 2017).
b)
Pengangkutan oksigen ke jaringan
Sistem pengangkutan O2 dalam tubuh terdiri dari paru-paru dan sistem
kardiovaskuler. Oksigen masuk ke jaringan bergantung pada jumlahnya yang masuk
ke dalam paru-paru, pertukaran gas yang cukup pada paru-paru, aliran darah ke
jaringan dan kapasitas pengangkutan O2 dalam darah.Aliran darah bergantung pada
derajat konsentrasi dalam jaringan dan curah jantung. Jumlah O2 dalam darah
ditentukan oleh jumlah O2 yang larut, hemoglobin, dan afinitas (daya tarik)
hemoglobin (Adib, 2017).
c)
Reaksi hemoglobin dan oksigen
Dinamika reaksi hemoglobin sangat cocok untuk mengangkut O2. Hemoglobin
adalaah protein yang terikat pada rantai polipeptida, dibentuk porfirin dan
satu atom besi ferro. Masing- masing atom besi dapat mengikat secara reversible
(perubahan arah) dengan satu molekul O2. Besi berada dalam bentuk ferro
sehingga reaksinya adalah oksigenasi bukan oksidasi (Adib, 2017).
d)
Transpor karbondioksida
Kelarutan CO2 dalam darah kira-kira 20 kali kelarutan O2 sehingga
terdapat lebih banyak CO2 dari pada O2 dalam larutan.
C.
Etiologi
Etiologi ISPA terdiri dari agen
infeksius dan agen non- infeksius. Agen infeksius yang paling umum dapat
menyebabkan infeksi saluran pernafasan akut adalah virus, seperti respiratory
syncytial virus (RSV), nonpolio enterovirus (coxsackie viruses Adan B),
Adenovirus, Parainfluenza, dan Human metapneumo viruses. Agen infeksius selain
virus juga dapat menyebabkan ISPA, staphylococcus, haemophilus influenza,
Chlamydia trachomatis, mycoplasma, dan pneumococcus (Hockenberry dan
Wilson,2013).
Misnadiarly (2008) menyebutkan bahwa selain ageninfeksius, agen
non-infeksius juga dapat menyebabkan ISPA seperti inhalasi zat-zat asing
seperti racun atau bahan kimia, asap rokok, debu, dan gas.[7]
Etiologi ISPA lebih dari 300 jenis bakteri, virus, dan jamur. Bakteri
penyebabnya antara lain dari genus streptokokus, stafilokokus, pnemokokus,
hemofilus, bordetella, dan korinebacterium. Virus penyebabnya antara lain
golongan mikovirus, adenovirus, koronavirus, pikornavirus, mikoplasma,
herpesvirus.
Bakteri dan virus yang paling sering menjadi penyebab ISPA diantaranya
bakteri stafilokokus dan streptokokus serta virus influenza yang di udara bebas
akan masuk dan menempel pada saluran pernafasan bagian atas yaitu tenggorokan
dan hidung.
Biasanya bakteri dan virus tersebut menyerang anak-anak usia dibawah 2
tahun yang kekebalan tubuhnya lemah atau belum sempurna. Peralihan musim
kemarau ke musim hujan juga menimbulkan risiko serangan ISPA.
Beberapa faktor lain yang diperkirakan berkontribusi terhadap kejadian
ISPA pada anak adalah rendahnya asupan antioksidan, status gizi kurang, dan
buruknya sanitasi lingkungan.
Saluran Pernafasan merupakan bagian tubuh yang seringkali terjangkit
infeksi oleh berbagai jenis mikroorganisme. Tanda dan gejala dari infeksi yang
terjadi pada sluran pernafasan tergantung pada fungsi saluran pernafasan yang
terjangkit infeksi, keparahan proses infeksi, dan usia seseorang serta status
kesehatan secara umum (Porth, 2011).
Djojodibroto (2009) menyebutkan tanda dan gejala ISPA sesuai dengan
anatomi saluran pernafasan yang terserang yaitu:
a. Gejala infeksi saluran pernafasan bagian atas. Gejala yang sering
timbul yaitu pengeluaran cairan (discharge) nasal yang berlebihan, bersin,
obstruksi nasal, mata berair, konjungtivitis ringan, sakit tenggorokan yang
ringan sampai berat, rasa kering pada bagian posterior palatum mole dan uvula,
sakit kepala, malaise, lesu, batuk seringkali terjadi, dan terkadang timbul
demam.
b.
Gejala infeksi saluran pernafasan bagian bawah. Gejala yang timbul biasanya
didahului oleh gejala infeksi saluran pernafasan bagian atas seperti hidung
buntu, pilek, dan sakit tenggorokan. Batuk yang bervariasi dari ringan sampai berat,
biasanya dimualai dengan batuk yang tidak produktif. Setelah beberapa hari akan
terdapat produksi sputum yang banyak; dapat bersifat mucus tetapi dapat juga
mukopurulen. Pada pemeriksaan fisik, biasanya akan ditemukan suara wheezing
atau ronkhi yang dapat terdengar jika produksi sputum meningkat.
Dan
juga tanda dan gejala lainnya dapat berupa batuk, kesulitan bernafas, sakit
tenggorokan, pilek, demam dan sakit kepala. Sebagian besar dari gejala saluran
pernapasan hanya bersifat ringan seperti batuk, kesulitan bernapas, sakit
tenggorokan, pilek, demam dan sakit kepala tidak memerlukan pengobatan dengan
antibiotic.[7]
Komplikasi merupakan akibat dari invasi bakteri sinus paranasal dan
bagian – bagian lain saluran pernafasan. Limfonodi servikalis dapat juga
menjadi terlibat dan kadang –kadang bernanah, Mastoiditis, selulitis
peritonsiler, sinusitis, atau selulitis periorbital dapat terjadi. Komplikasi
yang paling sering adalah otitis media, yang ditemukan pada bayi – bayi kecil
sampai sebanyak 25 persennya. Kebanyakan, infeksi virus saluran pernafasan atas
juga melibatkan saluran pernafasan bawah, dan pada banyak kasus, fungsi paru
menurun walaupun gejala saluran pernafasan bawah tidak mencolok atau tidak ada.
Perjalanan klinis penyakit ispa dimulai dengan berinteraksinya virus
dengan tubuh. Masuknya virus sebagai antigen ke saluran pernapasan menyebabkan
silia yang terdapat pada permukaan saluran napas bergerak keatas mendorong
virus kearah faring atau dengan suatu tangkapan reflex spasmus oleh laring.
Jika reflex tersebut gagal maka virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa
saluran pernapasan.
Iritasi virus pada kedua lapisan tersebut menyebabkan timbulnya batuk
kering. Kerusakan struktur lapisan dinding saluran pernapasan menyebabkan
kenaikan aktfitas kelenjar mucus yang banyak terdapat pada dinding saluran
napas, sehingga terjadipengeluaran cairan mukosa yang melebihi normal.
Rangsangan cairan berlebihan tersebut menimbulkan gejala batuk sehingga pada
tahap awal gejala ispa paling menonjol adalah batuk.
Adanya infeksi virus merupakan predisposisi terjadinya infeksi sekunder
bakteri. Akibat infeksi virus tersebut terjadi kerusakan mekanisme mukosiliaris
yang merupakan mekanisme perlindungan pada saluran pernapasan terhadap infeksi
bakteri sehingga memudahkan bakteri-bakteri pathogen yang terdapat pada saluran
pernapasan atas seperti streptococcus menyerang mukosa yang rusak tersebut.
Infeksi sekunder bakteri ini menyebabkan sekresi mucus bertambah banyak dan
dapat menyumbat saluran napas sehingga timbul sesak napas dan juga menyebabkan
batuk yang produktif. Invasi bakteri ini dipermudah dengan adanya factor-faktor
seperti kedinginan dan malnutrisi. Suatu laporan penelitian menyebutkan bahwa
dengan adanya suatu serangan infeksi virus pada saluran napas dapat menimbulkan
gangguan gizi akut pada bayi dan anak.
Virus yang menyerang saluran napas atas
dapat menyebar ketempat-tempat yang lain dalam tubuh, sehingga dapat
menyebabkan kejang, demam, dan juga bisa menyebar kesaluran napas bawah. Dampak
infeksi sekunder bakteripun bisa menyerang saluran napas bawah, sehingga
bakteri-bakteri yang biasanya hanya ditemukan dalam saluran pernapasan atas,
sesudah terjadinya infeksi virus, dapat menginfeksi paru-paru sehingga
menyebabkan pneumonia bakteri.
Penanganan penyalit saluran pernapsan pada anak harus diperhatikan aspek
imunologis saluran napas terutama dalam hal bahwa system imun disaluran napas
yang sebagian besar terdiri dari mukosa, tidak sama dengan system imun sistemik
pada umumnya. System imun sluran napas yang terdiri dari folikel dan jaringan limfoid
yang tersebar, merupakan cirri khas system imun mukosa. Cirri khas berikutnya
adalah bahwa IgA memegang peranan pada saluran napas bawah, diketahui pula
bahwa sekretori IgA (sIgA) sangat berperan dalam mempertahankan integritas
mukosa saluran napas.
Dari
uraian diatas, perjalanan klinis penyekit ispa ini dapat dibagi menjadi 4
tahap, yaitu:
a. Tahap
prepatogenesis, penyebab telah ada tetapi penderita belum menunjukkan reaksi
apa-apa
b. Tahap
inkubasi, virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa. Tubuh menjadi lemah
apalagi bila keadaan gizi dan daya tahan tubuh sebelumnya memang sudah rendah
c. Tahap
dini penyakit, dimulai dari munculnya gejala penyakit, timbul gejala demam dan batuk
d. Tahap
lanjut penyakit, dibagi menjadi empat yaitu dapat sembuh sempurna, sempurna,
sembuh dengan atelektasis, menjadi kronis dan dapat meninggal akibat pneumonia.
a. Foto
rontgen leher AP
Mencari
gambaran pembengkakan jaringan subglotis (steeple sign)
b.
Pemeriksaan laboraturium
Gambaran darah dapat normal jika disertai infeksi sekunder maka leukosit
dapat meningkat.
c.
Pemeriksaan kultur
Dapat
dilakukan bila didapat eksudat di orofaring atau plica vocalis. Dapat dilakukan
untuk mengetahui penyebab penyakit, misalnya bakteri streptococcus grup A
meliputi :
1.
Sistomatik
2.
Obat kumur
3.
Antihistamin
4.
Vitamin C
5.
Espektoran
6.
Vaksinasi[8]
BAB IV
A.
Pengkajian
Format pengkajian keluarga model
Friedman yang diaplikasikan ke kasus dengan masalah utama Infeksi Saluran
Pernafasan Akut (ISPA) menurut Friedman (2010) meliputi :
a. Data umum Menurut Friedman (2010), data
umum yang perlu dikaji adalah :
1)
Nama kepala keluarga dan anggota keluarga, alamat, jenis kelamin, umur, pekerjaan dan pendidikan. Pekerjaan yang
terlalu sibuk bagi orang tua mengakibatkan perhatian orang tua terhadap tumbuh
kembang anak tidak ada dan keadaan rumah juga tidak terurus jika orang tua
terlalu sibuk dengan pekerjannya.
2)
Tipe keluarga Menjelaskan mengenai jenis/tipe keluarga beserta kendala atau
masalah-masalah yang terjadi dengan jenis/tipe keluarga (Padila 2012). Biasanya
keluarga yang mempunyai balita dengan infeksi saluran pernafasan akut mempunyai
jumlah anggota keluarga yang banyak sehingga kebutuhan tidak terpenuhi.
3)
Status sosial ekonomi Status sosial ekonomi keluarga ditentukan oleh
pendapatan, baik dari kepala keluarga maupun anggota keluarga lainnya. Selain
itu, status sosial ekonomi keluarga ditentukan pula oleh kebutuhan- kebutuhan
yang dikeluarkan oleh keluarga serta barang-barang yang dimiliki oleh keluarga,
Pada pengkajian status sosial ekonomi diketahui bahwa tingkat status social
ekonomi berpengaruh pada tingkat kesehatan seseorang.
b. Riwayat
dan tahap perkembangan keluarga
1) Tahap
perkembangan keluarga saat ini
Data
ini ditentukan oleh anak tertua dari keluarga inti. Biasanya keluarga dengan
infeksi saluran pernafasan akut berada pada tahap perkembangan keluarga dengan
anak pra sekolah.
2) Tahap
perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
Data
ini menjelaskan mengenai tugas dalam tahap perkembangan keluarga saat ini yang
belum terpenuhi dan mengapa belum terpenuhi (Candra, 2014). Biasanya keluarga
belum mampu memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti kebutuhan tempat
tinggal, privasi dan rasa aman, mempertahankan hubungan yang sehat baik di
dalam maupun di luar keluarga (keluarga lain dan lingkungan sekitar), kegiatan
dan waktu untuk stimulasi tumbuh kembang anak.
3) Riwayat
keluarga inti
Data
ini menjelaskan mengenai penyakit keturunan, riwayat kesehatan masing-masing
anggota keluarga, status imunisasi, sumber kesehatan yang biasa digunakan serta
pengalamannya menggunakan pelayanan kesehatan (Candra, 2014). Biasanya keluarga
dengan infeksi saluran pernafasan akut status imunisasi pada balita tidak
terpenuhi dan tidak mendapatkan ASI eksklusif yang memadai.
c. Pengkajian lingkungan
1)
Karakteristik rumah Karakteristik rumah diidentifikasi dengan melihat tipe
rumah, jumlah ruangan, jenis ruang, jumlah jendela, jarak septic tank dengan
sumber air, sumber air minum yang digunakan, tanda cat yang sudah mengelupas,
serta dilengkapi dengan denah rumah (Friedman, 2010). Biasanya keluarga dengan
infeksi saluran pernafasan akut mempunyai keuangan yang tidak mencukupi
kebutuhan sehingga luas rumah, tipe rumah, jumlah ruangan, jumlah jendela dan
sumber air minum yang digunakan tidak sesuai dengan jumlah anggota keluarga.
d. Fungsi Keluarga :
a. Fungsi Afektif
b. Fungsi Sosialisasi
c. Fungsi Perawatan kesehatan
e. Fungsi
keperawatan
a)
Keyakinan, nilai, dan prilaku kesehatan
b)
Status kesehatan keluarga dan keretanan terhadap sakit yang dirasa
c)
Praktik diet keluarga
d) Peran
keluarga dalam praktik keperawatan diri
e)
Tindakan pencegahan secara medis
f. Fungsi
reproduksi
Hal yang
perlu dikaji mengenai fungsi reproduksi keluarga adalah : berapa jumlah anak,
apa rencana keluarga berkaitan dengan jumlah anggota keluarga, metode yang
digunakan keluarga dalam upaya mengendalikan jumlah anggota keluarga.
g. Fungsi
ekonomi
Data
ini menjelaskan mengenai kemampuan keluarga dalam memenuhi sandang, pangan,
papan, menabung, kemampuan peningkatan status kesehatan (Candra, 2014).
Biasanya keluarga belum bisa memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan
balita.
h.
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan pada semua anggota keluarga. Metode yang di
gunakan pada pemeriksaan fisik head to toe untuk pemeriksaan fisik untuk
infeksi saluran pernafasan akut.
BAB V
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA
A.
DATA UMUM & KONDISI KESEHATAN KELUARGA
|
Puskesmas |
: |
Poasia |
Alamat |
: |
Anduonohu |
Hari/Tanggal Pengkajian |
: |
Minggu/09 februari 2021 |
|
Nama KK |
: |
Tn. H |
Usia |
: |
45 |
|||
|
Pendidikan |
: |
S2 |
Pekerjaan |
: |
Pendamping desa |
|
|
|
1.
Komposisi Keluarga :
|
No |
Nama
Anggota Keluarga |
Hub. Keluarga |
L/P |
Umur (th) |
Pendidikan |
Agama |
Suku |
Pekerjaan |
Imunisasi (L/TL) |
KB |
Alat bantu, ptotesa |
Keadaan umum (sehat/tidak
sehat) |
Riwayat penyakit & alergi |
|
1. |
Tn. H |
Suami |
L |
45 |
S2 |
Islam |
Buton |
Pendamping desa |
L |
- |
- |
Sehat |
- |
|
2. |
Ny. D |
Istri |
P |
37 |
S1 |
Islam |
Buton |
Guru |
L |
YA |
- |
Sehat |
- |
|
4. |
An.S |
Anak |
L |
12 |
SMA |
Islam |
Buton |
Mahasiswa |
L |
- |
- |
Sehat |
- |
|
5. |
An.M |
Anak |
L |
5 |
SMA |
Islam |
Buton |
SD |
L |
- |
- |
Sehat |
- |
2.
Jarak Untuk Mencapai Pelayanan Kesehatan Terdekat
|
Fasilitas Kesehatan |
|
Jarak |
|
Cara tempuh |
||
|
1.
Puskesmas |
: |
2000 meter |
|
1.
Jalan kaki |
: |
- |
|
2.
Posyandu |
: |
500 meter |
|
2.
Motor roda 2 |
: |
ü Ya |
|
3.
Lain-lain, Bidan swasta |
: |
100 meter |
|
3.
Motor roda 4 |
: |
- |
|
|
|
|
|
4.
Perahu |
: |
- |
3.
Tipe Keluarga
Tipe keluarga inti.
|
No |
Data |
Tn.H |
Ny.D |
An.S |
An.M |
|
1. |
Keadaan umum : |
Baik |
Baik |
Baik |
Baik |
|
Penampilan |
Baik |
Baik |
Baik |
Baik |
|
|
BB |
65 kg |
60 kg |
39 kg |
20 kg |
|
|
TB |
155 cm |
163 cm |
100 cm |
92 cm |
|
|
Status Gizi |
Kurang
(Berat badan kurang berdasarkan IMT) |
Baik
(Berat badan ideal berdasarkan IMT) |
Baik
(Berat badan ideal berdasarkan IMT) |
Baik (Berat badan ideal berdasarkan IMT) |
|
|
Diagnosa medis |
Tidak
ada |
Tidak
ada |
Tidak
ada |
Tidak ada |
|
|
Masalah
kesehatan yang pernah dialami |
Sesak
napas |
Amandel |
Tidak
ada |
Tidak ada |
|
|
Masalah
kesehatan sekarang |
Tidak
ada |
Tidak
ada |
Tidak
ada |
Ispa |
|
|
Masalah
kesehatan yang lalu |
Tidak
ada |
Tidak
ada |
Tidak
ada |
Tidak ada |
|
|
Masalah
kesehatan keluarga (turunan) |
Diabetes |
Tidak
ada |
Tidak
ada |
Tidak ada |
|
|
2. |
TTV : |
120/80
mmHg |
120/90
mmHg |
- |
- |
|
Nadi |
65
X/menit |
70
X/menit |
85X/Menit |
90X/Mnt |
|
|
Respirasi |
18X/menit |
18X/menit |
22X/Menit |
17x/mnt |
|
|
Suhu |
36,60C |
36,90C |
37,00C |
37,00C |
|
|
CRT |
- |
- |
- |
- |
|
|
3. |
Mata : |
Normal |
Normal |
Normal |
Normal |
|
Sclera |
Keruh |
Putih |
Putih |
Putih |
|
|
Konjungtiva |
Pink |
Pink |
Pink |
Pink |
|
4. |
Palpebra |
Tidak
ada |
Tidak
ada |
Tidak
ada |
Tidak
ada |
|
|
|
Fungsi |
Baik |
Baik |
Baik |
Baik |
|
||
|
5. |
Telinga : |
Normal |
Normal |
Normal |
Normal |
|
|
|
Bentuk |
Normal |
Normal |
Normal |
Normal |
|
||
|
Keadaan |
Bersih |
Bersih |
Bersih |
Bersih |
|
||
|
Fungsi |
Bisa
mencium |
Bisa
mencium |
Bisa
mencium |
Bisa
mencium |
|
||
|
6. |
Hidung : |
Simetris |
Simetris |
Simetris |
Simetris |
|
|
|
Bentuk |
Normal |
Normal |
Normal |
Normal |
|
||
|
Keadaan |
Bersih |
Bersih |
Bersih |
Bersih |
|
||
|
Fungsi |
Baik/bisa
mencium |
Baik/bisa
mencium |
Baik/bisa
mencium |
Baik/bisa
mencium |
|
||
|
7. |
Mulut : |
|
|
|
|
|
|
|
Gigi |
Bersih/lengkap |
Bersih/lengkap |
Bersih/lengkap |
Bersih/lengkap |
|
||
|
Fungsi menelan |
Baik |
Baik |
Baik |
Baik |
|
||
|
Kelembaban |
Normal tidak kering |
Normal tidak kering |
Normal tidak kering |
Normal tidak kering |
|
||
|
8. |
Leher : |
Normal |
Normal |
Normal |
Normal |
|
|
|
Pembengkakan kelenjar
tiroid |
Tidak
ada |
Tidak
ada |
Tidak
ada |
Tidak
ada |
|
||
|
9. |
Dada : |
|
|
|
|
|
|
|
Bentuk |
Normal |
Normal |
Normal |
Normal |
|
||
|
Suara paru |
Resonan |
Resonan |
Resonan |
Resonan |
|
||
|
Respirasi |
18X/menit |
18X/menit |
22X/Menit |
18x/mnt |
|
||
|
Bunyi jantung |
S1, S2 |
S1, S2 |
S1, S2 |
S1, S2 |
|
||
|
10. |
Abdomen : |
|
|
|
|
|
|
|
Bentuk |
Bulat |
Bulat |
Flat |
Flat |
|
||
|
Nyeri tekan |
Tidak
ada nyeri |
Tidak
ada nyeri |
Tidak
ada nyeri |
Tidak
ada |
|
||
|
11. |
Ekstremitas : |
|
|
|
|
|
|
|
Oedema |
Tidak
ada |
Tidak ada |
Tidak ada |
Tidak
ada |
|
||
|
Kontraktur |
Tidak ada |
Tidak ada |
Tidak ada |
Tidak
ada |
|
||
|
12. |
Istirahat dan tidur |
1-2X/hr |
1-2X/hr |
2X/hr |
2X/hr |
|
|
|
13. |
Status mental |
Baik |
Baik |
Baik |
Baik |
|
|
|
14. |
Kebersihan diri |
Bersih |
Bersih |
Bersih |
Bersih |
|
|
|
15. |
Sistem respirasi |
Tidak
ada masalah |
Tidak ada masalah |
Tidak ada masalah |
Tidak
ada masalah |
|
|
|
16. |
Sistem kardiovaskuler |
Tidak
ada masalah |
Tidak ada masalah |
Tidak ada masalah |
Tidak
ada masalah |
|
|
|
17. |
Sistem pencernaan |
Tidak ada masalah |
Tidak ada masalah |
Tidak ada masalah |
Tidak
ada masalah |
|
|
|
18. |
Sistem urinaria |
Tidak ada masalah |
Tidak ada masalah |
Tidak ada masalah |
Tidak
ada masalah |
|
|
|
19. |
Sistem integument |
Tidak ada masalah |
Tidak ada masalah |
Tidak ada masalah |
Tidak
ada masalah |
|
|
|
20. |
Sistem persyarafan |
Tidak ada masalah |
Tidak ada masalah |
Tidak ada masalah |
Tidak
ada masalah |
|
|
|
21. |
Sistem muskulosketal |
Tidak ada masalah |
Nyeri bagian punggung, kesulitan bergerak |
Tidak ada masalah |
Tidak
ada masalah |
|
|
|
22. |
Pemeriksaan penunjang
bagi yang sakit (lab, radiologi, EKG, USG) |
Tidak
ada pemeriksaan |
Tidak ada pemeriksaan |
Tidak ada pemeriksaan |
Tidak
ada masalah |
|
|
1.
Karakteristik rumah
Denah rumah :
(H)
(D)

![]()
BB (B)
(E)
(F)
![]()

A
(A) (G) (C)
Keterangan:
A. = kamar tidur 1
B. = kamar tidur 2
C. = Ruang tamu
D. = Dapur
E. = Ruang
tengah/keluarga
F. = WC/kamar mandi
G. = Pintu
masuk/depan
H. = Pintu belakang
|
a.
Tipe Tempat Tinggal |
|
Tempat tinggal pribadi (permanen) |
|
b.
Gambaran kondisi rumah |
|
Rumah sehat/bersih |
|
1)
Jenis bangunan |
|
Tembok |
|
2)
Luas bangunan |
|
- |
|
3)
Luas pekarangan |
|
- |
|
4)
Jumlah jendela |
|
4 jendela |
|
5)
Kondisi ventilasi rumah |
|
Baik/aman |
|
6)
Kondisi pencahayaan rumah |
|
Lampu rumah ada 5 |
|
7)
Jenis lantai |
|
Pakai tehel |
|
8)
Kebersihan rumah secara keseluruhan |
|
Bersih |
|
9)
Pengelolaan sampah keluarga |
|
Langsung buang ke tong sampah |
|
10)
Kondisi jamban keluarga |
|
Bersih menggunakan jamban dalam |
|
11)
Sumber air bersih dalam keluarga |
|
Pakai sumur bor |
|
12)
Jarak sumber air minum dengan septic tank |
|
10 m |
|
13)
Sumber air minum yang digunakan |
|
Air galon isi ulang |
|
14)
Keadaan dapur |
|
Bersih |
|
15)
Pembuangan limbah |
|
Langsung ke tanah |
|
16)
Keamanan lingkungan rumah |
|
Terjaga / ada pagarnya |
|
17)
Perasaan subyektif keluarga terhadap rumah |
|
Sangat bahagia punya rumah |
|
18) Pengaturan pengaturan rumah
dan privaci |
|
Rumah selalu di kunci kecuali ada tamu baru di buka |
1. Karakteristik Lingkungan dan Komunitas
Tempat Tinggal yang lebih luas.
a.
Karakteristik
fisik dari lingkungan :
-
Tinggal di
lingkungan perkotaan
b.
Karakteristik
demografis dari lingkungan dan komunitas
-
jauh dari
pegunungan
c.
Bagimana
fasilitas-fasilitas mudah diakses atau dijangkau oleh keluarga
-
Puskesmas
d.
Tersedianya
transportasi umum yang dapat digunakan oleh keluarga dalam mengakses fasilitas
yang ada.
-
Kendaraan roda 2
karena puskesma, posyandu, dan RS mudah di jangkau
e.
Insiden
kejahatan disekitar lingkungan masyarakat
-
Tidak pernah ada
kejadian selama tinggal,dan cukup aman dan kondusif
f.
Mobilitas
geografis keluarga
-
Bapak dan ibu Ny.U
sering berpindah-pindah tempat
g.
Perkumpulan
keluarga dan interaksi dengan masyarakat
-
Ny.U mengikuti
arisan di lingkungan sekolah bersama teman-teman guru
1. Pola dan komunikasi keluarga
a. Bagaimana cara berkomunikasi antar
anggota keluarga
-
Cara
berkomunikasi keluarga Tn.H yaitu terbuka jika ada masalah di selesaikan secara
kekeluargaan, damai, tenang tanpa ada pertengkaran/keributan
b. Sistem komunikasi yang digunakan
-
Menggunakan
bahasa indonesia seperti biasa
2. Struktur kekuatan keluarga
-
Pencari nafkah
yaitu Tn.H tetapi di bantu oleh isrti dari bapak dan di rumah ada 5 orang
3. Struktur Peran (formal & informal)
Dalam
struktur peran keluarga, Tn. H sebagai kepala keluarga berperan sebagai sumber
kekuatan keluarga yang selalu menjalankan tanggung jawab sebagai kepala
keluarga, Ny.D hanya menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga yang
berperan dalam mengurus rumah, sedangkan Tn. M berperan sebagi anak.
4. Nilai-Nilai Keluarga
berdasarkan budaya suku buton serta dari agama islam. Nilai dan norma
yang dimaksut seperti, saling menghargai, menjaga kerukunan masyarakat serta
gotong royong.
E. RIWAYAT
DAN TAHAP PERKEMBANGAN KELUARGA
1. Tahap perkembangan keluarga saat ini
-
Childbearding
2. Tugas perkembangan keluarga yang belum
terpenuhi
3. Riwayat kesehatan
keluarga inti
-
An.M selalu mengeluh sakit tenggorokan dan orang tua Ny.D
mengatakan An.M sering demam.
4. Riwayat keluarga sebelumnya
-
Tidak ada riwayat untuk An.M
-
Tn.H pernah mengalami sesak napas
5. Latar Belakang Budaya Keluarga
-
Sama-sama suku buton Tn.H dan Ny.D
6. Identifikasi Religius
-
Sama-sama beragama islam
-
Tn.H dan Ny.D tidak pernah mengikuti kegiatan di luar
rumah.
F. Status sosial ekonomi keluarga
1.
Status Kelas
Sosial
-
Ny.D dan Tn.H
pernah mengalami status sosial yaitu ekonominya rendah tapi sekarang sudah
tercukupi
2.
Status Ekonomi
-
Pendapatan Tn.H
7jt/bln
-
Pendapatan Ny.D
3-4 jt/bln
1. Fungsi Sosial
Keluarga Tn. H
aktif dalam kegiatan social yang berada dimasyarakat, keluarga tersebut juga
aktif berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Dengan kata lain, hubungan
keluarga Tn. H dengan tetangga terjalin
dengan baik.
2. Fungsi
Perawatan kesehatan
Jika salah satu
dalam keluarga Tn.H, mereka saling merawat dalam anggota keluarga. Biasanya
mereka meminum obat-obatan yang bebas terbatas terlebih dahulu sebagai tindakan
pertama. Namun jika keadaan tidak membaik maka mereka akan berobat ke fasilitas
kesehatan terdekat/RS
3. Fungsi reproduksi
Dalam keluarga
Tn. H memiliki 2 orang anak, tidak merencanakan jumlah anak, dan metode yang
digunakan dalam mengendalikan jumlah anak dengan Ny.D menggunakan kontrasepsi
KB jenis suntik.
4. Fungsi Ekonomi
Hasil pendapatan suami dan yang
didapatkan dicukupkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
1. Stresor jangka
pendek dan jangka panjang
Terdapat
beberapa stressor jangka pendek dalam keluarga Tn. H, bagi Tn. H pribadi yang
menjadi stressor adalah seputar pekerjaannya yaitu sebagai pendampng desa, urusan di pedesaan, mengurus
masyarakat kurang gizi disana. Biasanya pekerjaan itu membuat Tn.H kelelahan
dan kewalahan dalam menghadapnya
2. Kemampuan keluarganya berespon
terhadap situasi/ stressor
Dalam menghadapi masalah keluarga Tn. H dan Ny.D selalu memikirkan kedepannya bagaimana bila tidak bekerja lagi
jadi harus sabar dalam menjalani pekerjaan satu sama lain.
3. Strategi koping yang digunakan
Untuk mengatasi
stres yang dialami, keluarga Tn. H dan Ny.D biasanya dengan cara bercengkrama
bersama anggota keluarga, refresing, mendekatkan diri kepada tuhan dan
berisitirahat yang cukup. Dan Ny.D
menendiskusikan setiap ada masalah pada Tn.H sehingga masukan atau solusi yang
diberikan dapat membantu menyelesaikan masalahnya.
4. Strategi adaptasi
disfungsional
Dari hasil pengkajian
yang dilakukan tidak adanya cara-cara keluarga mengatasi masalah secara mal
adaftif.
I. Aktivitas
Rekreasi Keluarga
Keluarga Tn.H sering refreshing bersama keluarga jalan-jalan
makan di luar besama, kadang-kadang juga ke pantai.mengingat kembali keluarga
Tn.H sangat sibuk dengan pekerjaan masing-masing tapi soal rekreasi bersama
mereka sering lakukan.
J. Harapan
Keluarga Terhadap Petugas Kesehatan
Keluarga memiliki harapan dengan adanya mahasiswa yang melakukan praktek
keluarga dapat memiliki pengetahuan lebih tentang pentingnya menjaga kesehatan
dan berharap sangat membantu keluarga mencegah penyakit.
K. Tingkat Kemandirian Keluarga
Tingkat kemandirian keluarga terdiri dari tujuh riteria
kemampuan keluarga yang telah dicapai.
|
Kriteria 1 |
: |
keluarga menerima
perawat |
|
Kriteria 2 |
: |
keluarga
menerima pelayanan kesehatan sesuai rencana rencana keperawatan keluarga |
|
Kriteria 3 |
: |
keluarga
tahu dan dapat mengungkapkan masalah kesehatannya secara benar |
|
Kriteria 4 |
: |
keluarga
memanfaatkan fasilitas kesehatan pelayanan kesehatan sesuai anjuran |
|
Kriteria 5 |
: |
keluarga
melakukan tindakan keperawatan sederhana yang sesuai anjuran |
|
Kriteria 6 |
: |
keluarga
melakukan tidakan pencegahan secara aktif |
|
Kriteria 7 |
: |
keluarga
melakukan tidakan promotif secara aktif |
|
Tingkat
Kemandirian |
Kriteria
1 |
Kriteria
2 |
Kriteria
3 |
Kriteria
4 |
Kriteria
5 |
Kriteria
6 |
Kriteria
7 |
|
Tingkat
I |
V |
v |
- |
- |
- |
- |
- |
|
Tingkat
II |
V |
v |
v |
v |
v |
- |
- |
|
Tingkat
III |
V |
v |
v |
v |
v |
v |
|
|
Tingkat
IV |
V |
v |
v |
v |
v |
v |
V |
II. ANALISA
DATA
|
Analisis Data |
Kode |
Etiologi |
Masalah |
|
Ds : Tn. H dan Ny.D mengatakan
anaknya batuk berdahak dan pilek sejak 1 minggu yang lalu dan selalu demam. Do : - An. M
Nampak lemas - An. M
terdengar suara serak - An.M Nampak rewel - TTV N: 90 x/m
R: 18 x/m S: 37, C |
Kode : D.0149 Kategori : fisiologis Sub Kategori : respirasi |
Penurunan
kemampuan untuk mengeluarkan secret |
Bersihan
jalan napas tidak efektif b.d batuk tidak efektif |
|
Ds : 1. Tn. H mengatakan anaknya An.M kurang nafsu makan 2. dan Tn.H mengatakan berat badan anak menurun Do : 1.
Klien tampak lemah 2.
Porsi makan tidak di habiskan |
Kode : D.0019 Kategori : fisiologis Sub Kategori : Nutrisi
dan cairan |
Nafsu makan
menurun |
Deficit
nutrisi b.d ketidakmampuan makan |
1. D.0149 Bersihan jalan napas tidak efektif b.d
batuk tidak efektif
2. D.0019 Deficit nutrisi b.d
ketidakmampuan makan
|
No |
Diagnosa |
Tujuan & kriteria
hasil (NOC) |
Intervensi (NIC) |
|
1.
|
kategori : fisiologis subkategori
: respirasi Kode : D.0149 Bersihan jalan napas
tidak efektif b.d batuk tidak efektif Ds: Tn. H dan Ny.D mengatakan anaknya batuk berdahak dan pilek sejak 1 minggu yang lalu dan
selalu demam. Do : - An. M Nampak lemas - An. M terdengar suara serak - An.M Nampak rewel - TTV N: 90 x/m R: 18 x/m S: 37, C |
Seteleh dilakukan tindakan keperawatan
selama 3x24 jam, diharapkan NOC (L.01001) bersihan jalan napas (skala 1 :menurun, 2
:cukup menurun, 3
:sedang, 4
:cukup meningkat, 5
:meningkat), dengan kriteria : Cukup meningkat (skala 3 menjadi 4) |
Intervensi keperawat Bersihan jalan napas tidak efektif: latihan
batuk efektif (1.01006) AktivitasKeperawatan 1.
Identifikasi
kemampuan batuk 2.
Atur posisi
semi-fowler atau fowler 3.
Jelaskan
tujuan dan prosedur batuk efektif 4.
Kolaborasi
pemberian mukolitik atau ekspektoran,jika perlu |
|
2. |
kategori:
fisiologis subkategori : nutrisi dan cairan Kode : D.0019 defisit nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan makan ditandai dengan: Ds: Klien mengatakan
nafsu makannya berkurang Do: klien tampak lemas |
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2X24 jam : Noc (L.03030) status nutrisi (skala 1:
menurun, 2: cukup menurun, 3:sedang, 4: cukup meningkat, 5: meningkat) Dengan kriteria: Cukup menurun
(skala 2 menjadi 3) |
Intervensi
Keperawatan Deficit nutrisi: Manajemen nutrisi (1.03119) 1. Identifikasi status nutrisi 2. Lakukan oral hygiene sebelum makan,jika perlu. 3.
Anjurkan
posisi duduk jika mampu 4.
Kolaborasi
pemberian medikasi sebelum makan (misalnya pereda nyeri,antlemetik) jika
perlu |
IV.
CATATAN ASUHAN KEPERAWATAN KELUAGA
Puskesmas :
Nama KK :
Tn. H
No. Register :
-
|
TANGGAL/JAM |
DIAGNOSA
KEPERAWATAN |
TINDAKAN |
EVALUASI |
TANDA
TANGAN |
|
10 Maret 2021 |
Kode : D.0149 Diagnosa : Bersihan jalan napas tidak efektif b.d batuk tidak efektif |
Hasil : klien kooperatif 2.
Mengatur
posisi semi-fowler atau fowler Hasil: Agar klien dapat bernafas
secara efektif dan merasa nyaman 3.
Menjelaskan
tujuan dan prosedur batuk efektif Hasil : klien kooperatif K
4. Mengkolaborasikan pemberian mukolitik atau ekspektoran,jika perlu
Hasil : klien tampak membaik |
S : Ny. D mengatakan paham dengan edukasi yang diberikan. juga merasa rileks
setalah pemberian ekspektoran O : Klian mampu menjawab semua pertanyaan dalam
mengevaluasi materi |
|
|
TANGGAL/JAM |
DIAGNOSA KEPERAWATAN |
TINDAKAN |
EVALUASI |
TANDA
TANGAN |
|
|
Kode : D.0019 Diagnosa : Deficit nutrisi b.d ketidakmampuan makan |
1.
Mengidentifikasi status nutrisi Hasil : status
nutrisi pasien menurun/belum membaik 2. Melakukan oral
hygiene sebelum makan,jika perlu. Hasil : klien
selalu menjaga kebersihan sebelum makan 3. Mengajurkan posisi duduk jika mampu Hasil : klien masih bisa duduk/berdiri sendiri
tanpa bantuan 4. Mengkolaborasi pemberian medikasi sebelum
makan (misalnya pereda nyeri,antlemetik) jika perlu Hasil : pemberian obat antibiotik
pereda nyeri |
S : orang tua klien mengatakan masih bingung dengan keadaan yang di alami
anaknya O : Tn.H mampu menyampaikan kepada perawat aktifitas yang dapat
ditoleransi oleh kemampuan fisik yang dapat terjadi kepada anaknya. |
|
|
TANGGAL/JAM |
DIAGNOSA
KEPERAWATAN |
EVALUASI |
TANDA
TANGAN |
|
10 maret 2021 |
Kode : D.0149 Diagnosa : Bersihan jalan napas tidak efektif b.d batuk tidak efektif |
S : orang tua yaitu Tn.H
dan Ny.D mengatakan pola nafas berangsur-angsur membaik tapi masih sering
merasa tidak enak badan O : tampak produksi
sputum berkurang A: masalah sebagian
teratasi P : persepsi di lanjutkan |
|
|
10 Maret 2021 |
Kode : D.0054 Diagnosa : Gangguan Mobilitas
fisik |
S : Orang tua klien
mengatakan nafsu makannya belum membaik O: porsi makan selalu tidak di habiskan dan Keluarga mampu menjawab 4 dari 5 pertanyaan
tentang ISPA Keluarga 1 mampu menjawab 3 dari 5 pertanyaan
tentang identifikasi factor resiko A: masalah belum teratasi P :
intervensi di lanjutkan |
|
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil studi kasus penerapan asuhan keperawatan keluarga pada
kasus ISPA penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Pada
hasil pengkajian didapatkan kesamaan data dari kasus yang diangkat dengan teori
yang sudah ada. Dimana keluarga mengeluhkan anggota keluarganya yang sedang
mengalami batuk, pilek,dan. Hasil pemeriksaan fisik terlihat sesak nafas,
terlihat lemah dan mata memerah.
2.
Diagnosa keperawatan yang muncul pada kasus ini diagnosa keperawatan yang
muncul ketidakefektifan bersihan jalan napas, ketidakefektifan pemeliharaan
kesehatan, dan perilaku kesehatan cenderung beresiko.
3.
Intervensi keperawatan yang direncanakan tergantung kepada masalah keperawatan
yang ditemukan. Intervensi yang dilakukan dirumuskan berdasarkan diagnosa yang
telah didapatkan dengan memberikan penyuluhan tentang ISPA untuk meningkatkan
pengetahuan
4.
Implementasi yang telah dilaksanakan yaitu melakukan penyuluhan tentang ISPA,
membimbing dan memotivasi keluarga dalam mengambil keputusan untuk mengatasi
masalah ISPA.
B. Saran
1. Bagi
institusi pendidikan Diharapkan bisa lebih meningkatkan pendidikan yang lebih
berkualitas dan professional sehingga tercipta perawat yang terampil inovatif
dan professional yang mampu memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan kode
etik keperawatan khusunya pemberian asuhan keperaatan dengan kasus ISPA.
2. Bagi
klien dan keluarga Diharapkan keluarga mampu mengetahui tentang penyakit ISPA
dan cara perawatan anggota keluarga dengan ISPA
3. Bagi
penulis Diharapkan bisa memberikan asuhan keperawatan dengan baik khususnya
pada penderita ISPA
DAFTAR PUSTAKA
[1] D. I. Desa, L. Kec, and K. A. B. Muna, “ANGGOTA KELUARGA
MENDERITA ISPA,” 2019.
[2] A. N. A. Dengan, I. Saluran, and P. Akut, “Poltekkes kemenkes
ri padang,” 2017.
[3] S. Husada, J. Ilmiah, K. Sandi, and K. Makassar, “Jurnal Ilmiah
Kesehatan Trimaya Cahya Mulat , 2 Suprapto,” pp. 1384–1387, 2018.
[4] N. Firnanda, Junaid, and Jafriati, “Analisis Spasial Kejadian
Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (Ispa) Pada Balita Di Kelurahan Puwatu
Tahun 2017,” Jimkesmas (Jurnal Ilm. Mhs. Kesehat. Masyarakat), vol. 2,
no. 7, pp. 1–10, 2017.
[5] A. Keperawatan et al., “NURSING CARE OF FAMILIES
EXPERIENCING ACUTE RESPIRATORY INFECTIONS ( ARI ) WITH DEFICIENT KNOWLEDGE TO
CARING TODDLER WITH ARI IN BADANG VILLAGE,” vol. 14, no. 1, pp. 41–49, 2017.
[6] A. N. Dengan, K. Ispa, D. I. Desa, L. Masagena, K. E. C.
Basala, and K. A. B. Konawe, “ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA Tn.I KHUSUSNYA An.N
DENGAN KASUS ISPA DI DESA LIPU MASAGENA KEC. BASALA KAB. KONAWE SELATAN,” 2018.
[7] 2017 Hariyati, “Инновационные подходы к обеспечению качества в
здравоохраненииNo Title,” Вестник Росздравнадзора, vol. 6, pp. 5–9,
2017.
[8] Y. Suriani, Asuhan Keperawatan Pada An. R Dengan Gangguan
ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) Di Wilayah Kerja Puskesmas Air Haji
Kecamatan Linggo Sari Baganti Kabupaten Pesisir Selatan. 2018.
Komentar
Posting Komentar