Langsung ke konten utama

ASUHAN KEPERAWATAN TB PARU (MARITIM) KELOMPOK 5


ASUHAN KEPERAWATAN PADA  KLIEN
DENGAN TB PARU



                                                                        Oleh;­                  
Kelompok (V)
1.ASHARUDIN REZKY
2.DILA PUSPITA
3.SINDY SETYANI
4.WA ODE YUNITA
5.KIRANA




SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
KARYA KESEHATAN KENDARI
PRODI S1 KEPERAWATAN
KENDARI
 2020


KATA PENGANTAR

         
           Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmatNya dapat penulis dapat menyelesaikan tugas kami dengan judul “TB PARU” dengan tepat waktu. Askep ini disusun untuk menyelesaikan tugas kuliah di Program Studi S1 keperawatan STIKES KARKES KENDARI Di dalam penyusunan skripsi ini, penulis merasa bahwa banyak hambatan yang dihadapi. Namun, berkat bimbingan dan dukungan dari beberapa pihak, hambatan-hambatan tersebut dapat penulis atasi sedikit demi sedikit.
         Dalam penyusunan makalah ini, kami telah mengalami berbagai hal baik suka maupun duka. Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini tidak akan selesai dengan lancar dan tepat waktu tanpa adanya bantuan, dorongan, serta bimbingan dari berbagai pihak. Sebagai rasa syukur atas terselesainya maklah ini, maka dengan tulus kami sampaikan terimakasi kepada pihak-pihak yang turut membantu.
           
         Dalam penyusunan makalah ini, kami menyadari masih banyak kekurangan baik padaa teknik penulisan penyempurnaan pembuatan makalah ini. Akhir kata, kami berharap semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan dapat diterapkam dalam, menyelesaikan suatu permasalahan yang berhubungan dengan judul makalah ini.



                                                                                                      Kendari, 27 juni 2020













DAFTAR ISI

Contents



















 



 

BAB 1

PENDAHULUAN


           Tuberkulosis paru (TB paru) adalah penyakit infeksius, yang terutama menyerang penyakit parenkim paru. Nama Tuberkulosis berasal dari tuberkel yang berarti tonjolan kecil dan keras yang terbentuk waktu sistem kekebalan membangun tembok mengelilingi bakteri dalam paru. Tb paru ini bersifat menahun dan secara khas ditandai oleh pembentukan granuloma dan menimbulkan nekrosis jaringan. Tb paru dapat menular melalui udara, waktu seseorang dengan Tb aktif pada paru batuk, bersin atau bicara. Pengertian Tuberkulosis adalah suatu penyakit menular langsung yang disebabkankarena kuman TB yaitu Myobacterium Tuberculosis. (1) Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman M. tuberculosis atau dikenal sebagai Bakteri Tahan Asam ( BTA ).Untuk pemeriksaan bakterologis yang bisa mengidentifikasi kuman M. tuberculosis menjadi sarana yang diagnosis yang ideal untuk TB.(2)
           Jumlah kasus baru TB di Indonesia sebanyak 420.994 kasus pada tahun 2017 (data per 17 Mei 2018). Berdasarkan jenis kelamin, jumlah kasus baru TBC tahun 2017 pada laki-laki 1,4 kali lebih besar dibandingkan pada perempuan. Bahkan berdasarkan Survei Prevalensi Tuberkulosis prevalensi pada laki-laki 3 kali lebih tinggi dibandingkan pada perempuan. Begitu juga yang terjadi di negara-negara lain. Hal ini terjadi kemungkinan karena laki-laki lebih terpapar pada fakto risiko TBC misalnya merokok dan kurangnya ketidakpatuhan minum obat. Survei ini menemukan bahwa dari seluruh partisipan laki-laki yang merokok sebanyak 68,5% dan hanya 3,7% partisipan perempuan yang merokok.(3) penanggulangan Tuberkulosis di provinsi Sulawesi Tenggara yang perlu mendapat perhatian, yakni angka kepatuhan penderita TB dalam meminum obat masih perlu ditingkatkan. Bila diasumsikan bahwa data hasil program Indonesia Sehat dengan pendekatan keluarga (PIS-PK) dapat merepresentasikan data Provinsi Sulawesi Tenggara, maka hanya sebanyak 32,6% dari 3951 Penderita TB Paru yang meminum obat sesuai dengan anjuran/standar. Kondisi tersebut, juga berdampak pada pada tingkat kesembuhan pasien, yang cenderung menurun dalam 3 tahun terakhir yakni dari 77,7% (tahun 2015) menjadi 72,5% (tahun 2017).
      Komplikasi TB bisa mencapai selaput otak, dengan akibat radang selaputotak (meningitis). Melalui aliran darah dan kelenjar getah bening, bakteri bisa menyebar ke organ tubuh lain seperti, kerusakan tulang dan sendi karena infeksi bakteri TB menyebar dari paru-paru ke jaringan tulang, kerusakan hati dan ginjal, kerusakan jantung, gangguan mata yang ditandai dengan mata yang berwarna kemerahan karena iritasi dan pembengkakan retina atau bagian lain, dan resistensi bakteri terjadi karena pasien TB tidak disiplin dalam menjalani masa pengobatan sehingga terputus dan mengalami resistensi atau sering disebut TB MDR. Komplikasi yang terjadi pada stadium lanjut adalah hemoptisis berat(pendarahan dari saluran napas bawah) yang dapat mengakibatkan kematian karena syok, terseumbatnya jalan napas, kolaps spontan karena kerusakan jaringan paru, penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, ginjal dan sebagainya.(4)
       A. Pengawasan Penderita, Kontak dan Lingkungan.Upaya pencegahan tb :
  1. Penderita menutup mulut sewaktu batuk dan berdahak tidak sembarangan 2. Vaksinasi BCG 3. Penyuluhan tentang penyakit TB 4. Isolasi, pemeriksaan orang-orang yang terinfeksi, pengobatan TBC 5. Desinfeksi, cuci tangan dan tata rumah tangga kebersihan yang ketat, ventilasi dan sinar matahari 6. Imunisasi BCG orang-orang kontak dan terdekat 7. Penyelidikan orang2 kontak. Tuberculin-test bagi seluruh anggota keluarga dengan rontgen positif, bila negatif, perlu diulang tiap bulan selama 3 bulan 8. Obat anti TBC diminum dengan tekun dan teratur, waktu 6 atau 12 bulan(5)
      Salah satu peran perawat dalam memberikan dukungan motivasi kepada pasien adalah peran perawat sebagai pendidik (educator). Peran perawat sebagai educator ditujukan untuk memberikan penjelasan informasi penyakit, kondisi klien maupun rencana pengobatan, memberi nasehat dan memfasilitasi klien dalam pengajaran, mengajarkan perilaku sehat dan mendukung kemampuan klien, serta memberikan contoh perilaku terkait kesehatan, hal ini bertujuan agar klien mendapat pengetahuan dan mampu merubah perilakunya kearah yang lebih sehat. Hal ini menunjukkan bahwa interaksi melalui peran dukungan tenaga kesehatan akan menstimulasi pasien untuk memiliki keinginan sembuh. Oleh karena itu dukungan motivasi bagi pasien merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi oleh tenaga kesehatan selama pasien dirawat di rumah sakit dalam upaya memotivasi pasien untuk sembuh. (6)


1.      Mahasiswa mengetahui terjadinya penyakit Tb Paru
2.      Mahasiswa mampu merumuskan asuhan keperawatan Tb Paru

       C. Manfaat

1        Bagi mahiswa, makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan reverensi untuk materi kasus tibi paru
2        Bagi masyarakat,makalah ini memberikan edukasi kepada masyarakat tentang tibi paru
3        Bagi ilmu pengetahuan keperawatan makalah ini dapat dijadikan update referensi mengenai tibi paru





 

 

BAB II

TINJAUN TEORI


\  A. Definisi Tb paru


        Penyakit Tuberculosis (TB) paru merupakan penyakit menular langsung yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Baksil TB yang masuk ke dalam tubuh melalui saluran pernapasan akan mengumpul di dalam paru-paru. Baksil ini juga bisa menyebar ke seluruh bagian tubuh melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening. Maka, infeksi TB bisa terjadi di banyak organ tubuh, seperti paru-paru, otak, ginjal, saluran pencernaan, tulang, kelenjar getah bening.(6)
       Tuberkulosis adalah penyakit infeksius terutama menyerang parenkim paru. TB paru adalah suatu penyakit yang menular yang disebabkan oleh bacil Mycobacterium tuberculosis yang merupakan salah satu penyakit saluran pernafasan bagian bawah. (2) Tuberkulosis Paru merupakan penyakit infeksi yang menyerang parenkim paru-paru dan disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini sangat mudah sekali dalam penularannya, karena penyebaranya melalui udara. Penyakit tuberkulosis sangat mematikan apabila tidak segera dilakukan penanganan.(7)
      Tuberkulosis adalah salah satu penyakit menular yang menjadi perhatian didunia. Dengan berbagai upaya pengendalian yang telah dilakukan, insidens dan kematian akibat turberkulosis sudah menurun.

   B. Etiologi


       Sumber penularan penyakit Tuberkulosis adalah penderita Tuberkulosis BTA positif pada waktu batuk atau bersin. Penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet ( percikan dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup ke dalam saluran pernafasan. Setelah kuman Tuberkulosis masuk ke dalam tubuh manusia melalui pernafasan, kuman Tuberkulosis tersebut dapat menyebar dari paru kebagian tubuh lainnya melalui sistem peredaran darah, saluran nafas, atau penyebaran langsung ke bagian-bagian tubuh lainnya. Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak terlihat kuman), maka penderita tersebut dianggap tidak menular.(1)    
      Tuberkulosis Paru disebabkan oleh mikroorganisme Mycobacterium tuberkulosis, yang biasanya ditularkan melalui inhalasi percikan ludah ( droplet ), dari satu individu ke individu lainnya, dan membentuk kolonisasi di bronkiolus atau alveolus.Kuman juga dapat masuk ke tubuh melalui saluran cerna, melalui ingesti susu tercemar yang tidak dipasteurisasi, atau kadang-kadang melalui lesi kulit. Kebanyakan masyarakat Indonesia masih belum mengerti , mengenal dan bermotivasi untuk pencegahan penyakit ini.(7)

    C. Patofisiologi


           Tuberkulosis adalah penyakit yang dikendalikan oleh respon imunitas dengan melakukan reaksi inflamasi bakteri dipindahkan melalui jalan nafas, basil tuberkel yang mencapai permukaan alveolus biasanya di inhalasi sebagai suatu unit yang terdiri dari satu sampai tiga basil, gumpalan yang lebih besar cenderung tertahan di saluran hidung dan cabang besar bronkhus dan tidak menyebabkan penyakit. Setelah berada dalam ruang(1)
       Tempat masuk kuman M.tuberculosis adalah saluran pernafasan, saluranpencernaan,dan luka terbuka pada kulit. Kebanyakan infeksi TB terjadi melalui udara, yaitu melalui inhalasi droplet yang mengandung kuman- kuman basil tuberkel yang berasal dari orang – orang yang terinfeksi. TB adalah penyakit yang dikendalikan oleh respon imunitas diperantarai sel. Sel efektor adalah makrofag, dan limfosit( biasanya sel T) adalah sel imunresponsif. Tipe imunitas seperti ini biasanya lokal, melibatkan makrofag yang diaktifkan ditempat infeksi oleh limfosit dan limfokinnya.Respons ini disebut sebagai reaksi hipersensitivitas seluler (lambat)(8)

   D. Klasifikasi

                       
       Klasifikasi TB paru dibuat berdasarkan gejala klinik, bakteriologik, radiologik, dan riwayat pengobatan sebelumnya.Klasifikasi ini penting karena merupakan salah satu faktor determinan untuk menentukan strategi terapi. Sesuai dengan program Gerdunas-TB (Gerakan Terpadu Nasional Penanggulan Tuberkulosis) klasifikasi TB paru dibagi sebagai berikut:
 a. TB Paru BTA Positif dengan kriteria:
 1) Dengan atau tanpa gejala klinik
 2) BTA positif: mikroskopik positif 2 kali, mikroskopik positif 1 kali disokong biakan positif satu kali atau disokong radiologik positif 1 kali. 3) Gambaran radiologik sesuai dengan TB paru.
 b. TB Paru BTA Negatif dengan kriteria:
 1) Gejala klinik dan gambaran radiologik sesuai dengan TB paru aktif.
 2) BTA negatif, biakan negatif tapi radiologik positif.
 c. Bekas TB Paru dengan kriteria:
 1) Bakteriologik (mikroskopik dan biakan) negatif
 2) Gejala klinik tidak ada atau ada gejala sisa akibat kelainan paru.
 3) Radiologik menunjukkan gambaran lesi TB inaktif, menunjukkan serial foto yang tidak berubah(8)

    E. Manifestasi Klinis


        Tanda dan gejala yang sering terjadi pada Tuberkulosis adalah batuk yang tidak spesifik tetapi progresif. Penyakit Tuberkulosis paru biasanya tidak tampak adanya tanda dan gejala yang khas. Biasanya keluhan yang muncul adalah :
a. Demam terjadi lebih dari satu bulan, biasanya pada pagi hari.
b. Batuk, terjadi karena adanya iritasi pada bronkus; batuk ini membuang / mengeluarkan produksi radang, dimulai dari batuk kering sampai batuk purulent (menghasilkan sputum)
c. Sesak nafas, terjadi bila sudah lanjut dimana infiltrasi radang sampai setengah paru
d. Nyeri dada. Nyeri dada ini jarang ditemukan, nyeri timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis.
e. Malaise ditemukan berupa anoreksia, berat badan menurun, sakit kepala, nyeri otot dan keringat di waktu di malam hari.(1)

   F. Penatalaksanaan


        Menurut Zain (2001) membagi penatalaksanaan tuberkulosis paru menjadi tiga bagian, pengobatan, dan penemuan penderita (active case finding).
1) pemeriksaan kontak, yaitu pemeriksaan terhadap individu yang bergaul erat dengan penderita TB paru BTA positif. Pemeriksaan meliputi tes tuberkulin, klinis dan radiologis. Bila tes tuberkulin positif, maka pemeriksaan radiologis foto thoraks diulang pada 6 dan 12 bulan mendatang. Bila masih negatif, diberikan BCG vaksinasi. Bila positif, berarti terjadi konversi hasil tes tuberkulin dan diberikan kemoprofilaksis.
2) Mass chest X-ray, yaitu pemeriksaan massal terhadap kelompok-kelompok populasi tertentu misalnya: a) Karyawan rumah sakit/Puskesmas/balai pengobatan. b) Penghuni rumah tahanan.
3) Vaksinasi BCG Tabrani Rab (2010), Vaksinasi BCG dapat melindungi anak yang berumur kurang dari 15 tahun sampai 80%, akan tetapi dapat mengurangi makna pada tes tuberkulin. Dilakukan pemeriksaan dan pengawasan pada pasien yang dicurigai menderita tuberkulosis, yakni:
   a) Pada etnis kulit putih dan bangsa Asia dengan tes Heaf positif dan pernah berkontak dengan pasien yang mempunyai sputum positif harus diawasi.
   b) Walaupun pemeriksaan BTA langsung negatif, namun tes Heafnya positif dan pernah berkontak dengan pasien penyakit paru.
   c) Yang belum pernah mendapat kemoterapi dan mempunyai kemungkinan terkena.
   d) Bila tes tuberkulin negatif maka harus dilakukan tes ulang setelah 8 minggu dan ila tetap negatif maka dilakukan vaksinasi BCG. Apabila tuberkulin sudah mengalami konversi, maka pengobatan harus diberikan.
4) Kemoprofilaksis dengan mengggunakan INH 5 mg/kgBB selama 6-12 bulan dengan tujuan menghancurkan atau mengurangi populasi bakteri yang masih sedikit. Indikasi kemoprofilaksis primer atau utama ialah bayi yang menyusu pada ibu dengan BTA positif, sedangkan kemoprofilaksissekunder diperlukan bagi kelompok berikut:
    a) Bayi dibawah lima tahun dengan hasil tes tuberkulin positif karena resiko timbulnya TB milier dan meningitis TB,
    b) Anak dan remaja dibawah dibawah 20 tahun dengan hasil tuberkulin positif yang bergaul erat dengan penderita TB yang menular,
    c) Individu yang menunjukkan konversi hasil tes tuberkulin dari negatif menjadi positif(9)

     F. Pemeriksaan penunjang


Tuberkulosis Pemeriksaan yang dilakukan pada penderita TB paru adalah :
a. Pemeriksaan Diagnostik
b. Pemeriksaan sputum
Pemeriksaan sputum sangat penting karena dengan di ketemukannya kuman BTA diagnosis tuberculosis sudah dapat di pastikan. Pemeriksaan dahak dilakukan 3 kali yaitu: dahak sewaktu datang, dahak pagi dan dahak sewaktu kunjungan kedua. Bila didapatkan hasil dua kali positif maka dikatakan mikroskopik BTA positif. Bila satu positif, dua kali negatif maka pemeriksaan perlu diulang kembali. Pada pemeriksaan ulang akan didapatkan satu kali positif maka dikatakan mikroskopik BTA negatif.
c. Ziehl-Neelsen (Pewarnaan terhadap sputum). Positif jika diketemukan bakteri taham asam.
d. Skin test (PPD, Mantoux)
e. Rontgen dada Menunjukkan adanya infiltrasi lesi pada paru-paru bagian atas, timbunan kalsium dari lesi primer atau penumpukan cairan. Perubahan yang menunjukkan perkembangan Tuberkulosis meliputi adanya kavitas dan area fibrosa.
f. Pemeriksaan histology / kultur jaringan Positif bila terdapat Mikobakterium Tuberkulosis.
g. Biopsi jaringan paru Menampakkan adanya sel-sel yang besar yang mengindikasikan terjadinya nekrosis.
h. Pemeriksaan elektrolit Mungkin abnormal tergantung lokasi dan beratnya infeksi.
i. Analisa gas darah (AGD) Mungkin abnormal tergantung lokasi, berat, dan adanya sisa kerusakan jaringan
paru.
j. Pemeriksaan fungsi paru Turunnya kapasitas vital, meningkatnya ruang fungsi, meningkatnya rasio residu
udara pada kapasitas total paru, dan menurunnya saturasi oksigen sebagai akibat infiltrasi parenkim / fibrosa, hilangnya jaringan paru, dan kelainan pleura (akibat dari tuberkulosis kronis)(1)

  G. Komplikasi


      Menurut Wahid&Imam (2013), dampak masalah yang sering terjadi pada TB paru adalah:
1) Hemomtisis berat (perdarahan dari saluran nafas bawah) yang dapat mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau tersumbatnya jalan nafas.
2) Kolaps dari lobus akibat retraksi bronchial. 3) Bronki ektasis (peleburan bronkus setempat) dan fibrosis (pembentukan jaringan ikat pada proses pemulihan atau reaktif) pada paru.
4) Pneumothorak (adanya udara dalam rongga pleura) spontan: kolaps spontan karena kerusakan jaringan paru.
5) Penyebaran infeksi keorgan lain seperti otak, tulang, persendian, ginjal, dan sebagainya.
6) Insufisiensi kardiopulmonar (Chardio Pulmonary Insuffciency).(9)






                   A.    Pengkajian

Pengkajian tergantung pada tahap penyakit dan derajat yang terkena
1. Aktivitas atau istirahat
Gejala : kelelahan umum dan kelemahan, mimpi buruk, nafas pendek karena kerja, kesulitan tidur pada malam hari, menggigil atau berkeringat.
Tanda : takikardia. takipnea/dispnea pada kerja, kelelahan otot, nyeri dan sesak (tahap lanjut).
2. Integritas EGO
Gejala : adanya faktor stress lama, masalah keuangan rumah, perasaan tidak berdaya/tidak ada harapan. Populasi budaya/etnik, missal orang Amerika asli atau imigran dari Asia Tenggara/benua lain.
Tanda : menyangkal (khususnya selama tahap dini) ansietas ketakutan, mudah terangsang.
3. Makanan/cairan
Gejala : kehilangan nafsu makan. tidak dapat mencerna penurunan berat badan. Tanda : turgor kulit buruk, kering/kulit bersisik, kehilangan otot/hilang lemak subkutan.
 4. Nyeri atau kenyamanan
Gejala : nyeri dada meningkat karena batuk berulang.
Tanda : berhati-hati pada area yang sakit, perilaku distraksi, gelisah.
5. Pernafasan
Gejala : batuk produktif atau tidak produktif, nafas pendek, riwayat tuberculosis terpajan pada individu terinfeksi.
Tanda : peningkatan frekuensi pernafasan (penyakit luas atau fibrosis parenkim paru pleura) pengembangan pernafasan tidak simetri (effuse pleura) perkusi pekak dan penurunan fremitus (cairan pleural atau penebalan pleural bunyi nafas menurun/tidak ada secara bilateral atau unilateral efusi pleural/pneumotorak) bunyi nafas tubuler dan bisikan pectoral di atas lesi luas, krekels tercabut di atas aspek paru selama inspirasi cepat setelah batuk pendek (krekes posttussic) karakteristik sputum: hijau, puluren, muloid kuning atau bercak darah deviasi trakeal (penyebaran bronkogenik).
 6. Keamanan
Gejala : adanya kondisi penekanan imun. contoh: AIDS, kanker. Tes 111V positif.
Tanda : demam rendah atau sedikit panas akut.
7. Interaksi sosial Gejala : perasaan isolasi/penolakan karena penyakit menular, perubahan bisa dalam tanggungjawab/perubahan kapasitas fisik untuk melaksanakan peran.


1.      Bersihan jalan napas tidak efektif b.d batuk tidak efektif (D.0149)
2.     Intoleransi aktivitas (D.0056)
3.  Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan makan (D.0019)

C. Kriteria Hasil

    1.      Bersihan jalan napas tidak efektif b.d batuk tidak efektif (D.0149) menunjukkan jalan nafas Intoleransi aktivitas (D.0056) tidak ada kelemahan berlebih

    2.      Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan makan (D.0019) nafsu makan menurun.


D. Intervensi

1. Bersihan jalan napas tidak efektif: latihan batuk efektif (1.01006)

  a.       Identifikasi kemampuan batuk
  b.      Atur posisi semi-fowler atau fowler 
  c.       Jelaskan tujuan dan prosedur batuk efektif 
  d.      Kolaborasi pemberian mukolitik atau ekspektoran,jika perlu 

2. Intoleransi aktivitas:terapi aktivitas (1.05186)

  a.       Identifikasi deficit tingkat aktivitas
  b.      Fasilitasi focus pada kemampuan,bukan deficit yang di alami.
  c.       Jelaskan metode aktivitas fisik sehari-hari, jika perlu
 d.  Kolaborasi dengan terapis okupasi dalam merencanakan dan memonitor program aktivitas,jika sesuai

3. Deficit nutrisi: Manajemen nutrisi (1.03119)

a.       Identifikasi status nutrisi

b.      Lakukan oral hygiene sebelum makan,jika perlu.

c.       Anjurkan posisi duduk jika mampu

d. Kolaborasi pemberian medikasi sebelum makan (misalnya pereda nyeri,antlemetik) jika perlu





BAB IV

 A. Kasus


          Pasien Tn.A datang dengan keluhan sesak napas sejak 1 minggu sebelum datang  berobat ke Puskesmas Muara Aman. Sesak dirasakan hilang timbul dan bertambah  berat jika pasien batuk. Sesak timbul perlahan dan tidak menetap. Keluhan sesak disertai dengan napas berbunyi dan terbangun malam hari karena sesak disangkal  pasien. Pasien mengeluh nyeri dada yang tidak menjalar ke bagian lain. Penderita masih dapat tidur dengan 1 bantal. Keluhan tidak disertai adanya bengkak di kelopak mata, bengkak di kaki ataupun di perut. Selain itu juga pasien mengeluh batuk sejak lebih dari 1 tahun, batuk disertai dahak berwarna putih kehijauan dan dirasakan setiap hari. Pasien mengaku pernah  batuk disertai darah. Keluhan Sering berkeringat saat malam dan napsu makan  berkurang diakui pasien. Pasien juga mengeluh berat badannya semakin menurun. Demam dirasakan oleh pasien hilang timbul dan tidak terlalu tinggi. Buang air besar dan buang air kecil diakui pasien tidak ada keluhan. Pasien mengaku sebagai perokok aktif.

 B. Pengkajian


      1. Biodata pasien
a.       Nama                  : Tn. A
b.      Umur                  : 26 tahun
c.       Jenis kelamin      : laki-laki
d.      Suku                    : Jawa
e.       Agama                 : Islam
f.       Status                   : menikah
g.      Pendidikan          : SMA
h.      Pekerjaan             : Mahasiswa
i.        Alamat                 : Kwaon Rt 7 / Rw IV, Jemawan, Jatinom, Klaten
j.        Tanggal masuk    : 30 April 2018
k.      Nomor RM          : 393188
l.        Ruang                  : Cempaka III
m.    Diagnosa medis   : TB Paru.
     2. Identitas keluarga/wali
a.       Nama                  : Tn.R
b.      Jenis kelamin     : Laki laki
c.       Usia                    : 60
n.      Alamat               : Kwaon Rt 7 / Rw IV, Jemawan, Jatinom, Klaten
d.      Hubungan keluarga dengan pasien : Orang tua pasien

     3. Riwayat kesehatan
a.       keluhan utama saat MRS  : Pasien mengeluh sesak napas sejak 1 minggu sebelum datang ke poli umum puskesmas muara aman
b.      keluhan utama saat pengkajian : Pasien mengeluh sesak napas sejak 1 minggu sebelum datang ke poli umum puskesmas muara aman
c.       riwayat keluhan utama : Pasien mengeluh sesak napas sejak 1 minggu sebelum datang ke poli umum puskesmas muara aman
d.      riwayat kesehatan sekarang : Pasien mengaku pernah  batuk disertai darah. Keluhan Sering berkeringat saat malam dan napsu makan  berkurang diakui pasien. Pasien juga mengeluh berat badannya semakin menurun
e.       riwayat penyakit yang pernah di derita : asma, kencing manis, darah tinggi, penyakit jantung maupun penyakit kuning disangkal pasien.
f.       kebiasaan : minum kopi
g.      Riwayat alergi: Alergi obat dan makanan disangkal pasien
h.      Riwayat kehamilan: -
i.        Riwayat kesehatan keluarga: -

           4. Keadaan umum dan tanda-tanda vital
a.       Keadaan Umum: Tampak sesak kesadaran (composmetis) GCS E4M6V5 Tampak sakit sedang
b.      Td: 120/80 mmHg
c.       N: 88 X/Menit
d.      S: 36,7o C
e.       R : 28 X/Menit
           5. Pengkajian fisik
a.       Kepala
1)      Rambut : Hitam, tidak mudah dicabut.
2)      Mata   : sclera ikterik (-), konjungtiva anemis (-), pupil bula isokor, RCL +/+, RCTL +/+ Hidung : Pernapasan cuping hidung (-), Epistaksis (-), secret (-)
3)      Telinga: Gangguan pendengaran (-), Perdarahan dari liang telinga (-)
4)      Mulut   : Bibir kering (-), Perdarahan gusi (-), Hipertrofi gusi (-), karies, dentis (+)
b.      Leher
1)      Tekanan vena jugularis (JVP) : 5– 2 cmH2O
2)      Kelenjar Tiroid : Tidak teraba pembesaran
3)      Kelenjar Limfe : Tidak teraba pembesaran
4)      Kelenjar Getah Bening Submandibula, Leher, Supraklavikula, Ketiak dan Paha tidak ada pembesaran.

c.       Thorax
           Paru-Paru
1)      Inspeksi : simetris hemitorak kanan-kiri, depan-belakang saat statis dan dinamis, dan tidak ada kelainan kulit
2)      Palpasi : Tidak teraba adanya masa ataupun benjolan, tidak terdapat nyeri tekan dan nyeri lepas, fremitus vokal dan taktil simetris kanan dan kiri.
3)      Perkusi : Sonor pada seluruh lapang paru kiri-kanan, depan-belakang. Peranjakan paru (+)
4)      Auskultasi: Vesikuler +/+ (paru-paru depan-belakang), Ronkhi +/+ basah kasar, Wheezing -/-,
d.      Jantung
1)      Inspeksi : Ictus cordis terlihat Palpasi : Ictus cordis teraba.
2)      Perkusi : Batas jantung kanan ICS V linea midclavicula dextra Batas jantung kiri ICS VI line midclavicula sinistra Batas pinggang jantung ICS III linea parasternal sinistra
3)      Auskultasi : Bunyi jantung I-II murni regular, Gallop (-), Murmur (-)

e.       Abdomen
1)      Inspeksi : Datar, tidak membuncit dan tidak ada luka Auskultasi : Bising usus (+) normal Perkusi : Terdengar suara timpani di seluruh kuadran abdomen, Shifting dullness (-), ketok CVA (-)
2)      Palpasi :Tidak terdapat nyeri tekan dan nyeri lepas di seluruh 4 kuadran abdomen, Pembesaran hepar, lien, ginjal, kandung kemih tidak teraba,Undulasi (-)
3)      Ekstremitas : Akral hangat, CRT <2”, edem 

C. Analisa data


            1. Nama   : Tn. A
            2. Dignosa: Tb paru
            3. Umur: 26 th
No
Data
Etiologi
Problem
1. 
Ds:
-Klien mengatakan sering batuk dan nafasnya terasa sesak
- Klien mengatakan aktivitasnya di bantu oleh orang tua
-Klien mengatakan nafsu makannya berkurang
Do:                
-klien tampak sesak dan batuk berdahak dan kental
-klien menggunakan alat bantu pernapasan
-klien tampak gelisah
TTV
Td : 120/80 mmHg
N : 100 X/Menit
S : 36,7o C      
R : 18 X/Menit
Mycobacterium
Tuberculosis

Inhalasi Droplet

Bakteri mencapai
alveolus

Terjadi reaksi antigen
        antibody

Muncul reaksi radang

Terjadi pengeluaran secret/mucus

Akumulasi secret di jalan nafas

Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif b.d batuk tidak efektif
2. 
Ds:
-Klien mengatakan sering merasa kelelahan
 Do:klien tampak lemah




Kelemahan tubuh




Aktivitas terbatas
3.
Ds: Klien mengatakan nafsu makannya berkuran


Do:klien Nampak lemas


Nafsu makan menurun
Deficit nutrisi b.d ketidakmampuan makan

D. Diagnosa


 

E. Rencana asuhan keperawatan keperawatan


Nama Inisial Pasien : Tn.A                                          Diagnosa Medis       : Tb paru
Umur:26 th 
NO
Diagnosa Keperawatan
Tujuan
& Kriteria Hasil (NOC)
Intervensi (NIC)
1.  1
kategori : fisiologis
subkategori   : respirasi
Kode : D.0149
Ds:
-Klien mengatakan sering batuk dan nafasnya terasa sesak
- Klien mengatakan aktivitasnya di bantu oleh orang tua
-Klien mengatakan nafsu makannya berkurang
Do:                
-klien tampak sesak dan batuk berdahak dan kental
-klien menggunakan alat bantu pernapasan
-klien tampak gelisah
TTV
Td : 120/80 mmHg
N : 100 X/Menit
S : 36,7o C      
R : 18 X/Menit


Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2X 24  jam :
NOC (L.01001) bersihan jalan napas(skala 1 :menurun, 2 :cukup menurun, 3 :sedang, 4 :cukup meningkat, 5 :meningkat), dengan kriteria :
Cukup meningkat (skala 3 menjadi 4)
Intervensi Keperawatan 
Bersihan jalan napas tidak efektif: latihan batuk efektif (1.01006)
AktivitasKeperawatan
1.      Identifikasi kemampuan batuk
2.      Atur posisi semi-fowler atau fowler
3.      Jelaskan tujuan dan prosedur batuk efektif
4.      Kolaborasi pemberian mukolitik atau ekspektoran,jika perlu

2.  2
kategori : fisiologis
subkategori : aktivitas/istrahat
Kode : D.0056
Intoleransi aktivitas
Ditandai dengan :
Ds:
-Klien mengatakan sering merasa kelelahan
 Do:klien tampak lemah
-klien tampak gelisah
b. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2X 24  jam :
NOC (L.05047) toleransi aktivitas (skala 1 :menurun, 2 :cukup menurun, 3 :sedang, 4 :cukup meningkat, 5 :meningkat), dengan kriteria :
Cukup meningkat (skala 2 menjadi 3)

Intervensi Keperawatan 
Intoleransi aktivitas:terapi aktivitas (1.05186)
Aktivitas Keperawatan
1.             Identifikasi deficit tingkat aktivitas
2.             Fasilitasi focus pada kemampuan,bukan deficit yang di alami.
3.             Jelaskan metode aktivitas fisik sehari-hari, jika perlu
4.             Kolaborasi dengan terapis okupasi dalam merencanakan dan memonitor program aktivitas,jika sesuai
                                                        
3
 kategori: fisiologis

subkategori : nutrisi dan cairan

Kode : D.0019

defisit nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan makan

ditandai dengan:

Ds: Klien mengatakan nafsu makannya berkurang

Do: klien tampak lemas
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2X24 jam :

Noc (L.03030) status nutrisi
(skala 1: menurun,2: cukup menurun,3:sedang, 4: cukup meningkat, 5: meningkat)

Dengan kriteria:
Cukup menurun (skala 2 menjadi 3)

Intervensi Keperawatan 
   Deficit nutrisi: Manajemen nutrisi (1.03119)
       
1.      Identifikasi status nutrisi
2.      Lakukan oral hygiene sebelum makan,jika perlu.
3.      Anjurkan posisi duduk jika mampu
4.      Kolaborasi pemberian medikasi sebelum makan (misalnya pereda nyeri,antlemetik) jika perlu


F. Implementasi & evaluasi


Nama Inisial Pasien : Tn. A                                                    Diagnosa Medis: Tb paru
Umur: 26 Th                                                                                  
Diagnosa Keperawatan
Implementasi
Evaluasi
Jam
kategori : fisiologis
subkategori   : respirasi
Kode : D.0149
07.00
1. 
  1.  Mengidentifikasi kemampuan batuk
Hasil : klien kooperatif

2.      Mengatur posisi semi-fowler atau fowler
Hasil: Agar klien dapat bernafas secara efektif dan merasa nyaman
3.      Menjelaskan tujuan dan prosedur batuk efektif
Hasil : klien kooperatif
K  4. Mengkolaborasikan pemberian mukolitik atau ekspektoran,jika perlu
        Hasil : klien tampak membaik
S : klien mengatakan pola nafas berangsur-angsur membaik
O : tampak produksi sputum berkurang
A: masalah sebagian teratasi
P : persepsi di lanjutkan
kategori : fisiologis
subkategori : aktivitas/istrahat
Kode : D.0056
Intoleransi aktivitas
1. Mengidentifikasi deficit tingkat aktivitas
Hasil : klien mengeluh cepat lelah/ cepat merasa sesak saat melakukan aktivitas
2. Memfasilitasi focus pada kemampuan,bukan deficit yang di alami.
Hasil : klien mengatakan badannya sehat dan masih mampu untuk beraktivitas
 3. Menjelaskan metode aktivitas fisik sehari-hari, jika perlu
Hasil : memberikan penjelasan tentang aktivitas yang dapat dilakukan pasien seperti seperti miring kanan atau miring kiri.
 4. Mengkolaborasikan dengan terapis okupasi dalam merencanakan dan memonitor program aktivitas,jika sesuai
Hasil :klien bisa saja mengatur pola makannya sehari hari


4. 
S : Klien mengatakan sesak ketika melakukan aktivitas.
TTV:
Td : 120/80 mmHg
N : 100 X/Menit
S : 36,7o C      
R : 18 X/Menit

O : klien tampak kelelahan dalam beraktivitas
A : masalah belum teratasi
P :lanjutkan tindakan keperawatan
-          Kolaborasi dengan ahli gizi makanan yang dapat diberikan kepada klien
-          Buat batasan aktivitas hiperaktif

kategori: fisiologis

subkategori : nutrisi dan cairan

Kode : D.0019

defisit nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan makan

1. 
1. Mengidentifikasi status nutrisi
Hasil : status nutrisi pasien menurun/belum membaik


2. Melakukan oral hygiene sebelum makan,jika perlu.
Hasil : klien selalu menjaga kebersihan sebelum makan

3. Mengajurkan posisi duduk jika mampu
Hasil : klien masih bisa duduk/berdiri sendiri tanpa bantuan
4. Mengkolaborasi pemberian medikasi sebelum makan (misalnya pereda nyeri,antlemetik) jika perlu
Hasil : pemberian obat antibiotik pereda nyeri
S : Klien mengatakan nafsu makannya belum membaik
O:  porsi makan tidak di habiskan
A: masalah belum teratasi
P : intervensi di lanjutkan





BAB V


PENUTUP


     A. Kesimpulan




1. Permasalahan yang muncul pada TN. A dengan penyakit tuberkulosis paru adalah bersihan jalan napas tidak efektif, resiko ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh,

2. Penyusunan rencana tindakan ditujukan pada tindakan mandiri atau kolaborasi untuk mengatasi masalah yang terjadi pada Tn. A dengan   tuberkulosis paru antara lain: pertahankan jalan napas dengan beri posisi yang nyaman (semi fowler), ajarkan batuk efektif. Meningkatkan status nutrisi dengan berikan porsi makan sedikit tapi sering, dan berikan perawatan oral. Rencanakan untuk istirahat yang optimal, ciptakan suasana yang nyaman dan atur posisi tidur yang nyaman. Tindakan yang penulis lakukan sesuia dengan perencanaan, dan ada yang dimodifikasi yaitu dengan fisiotherapi dada, menganjurkan untuk minum air hangat, dan cara batuk efektif. Dalam mengelola Tn. S penulis bekerjasama dengan pasien, keluarga, perawat, dan tim kesehatan yang lainnya.

3. Sesuai dengan respon perkembangan pada Tn. A dengan penyakit tuberkulosis paru, menilai masalah keperawatan yang teratasi seluruhnya adalah besihan jalan napas tidak efektif. Dan hal ini didukung oleh respon perkembangan pasien yang memenuhisebagian dari kriteria hasil.

      B. Saran  




                    Demi kemajuan selanjutnya maka penulis menyarankan kepada:

1.      Pasien lebih kooperatif, selalu memperhatikan serta tidak melakukan hal hal yang menyimpang dari petunjuk dokter dan perawat

2.      Keluarga senantiasa memotivasi pasien dan keluarga untuk selalu menjaga pola hidup dan kesehatan pasien.

3.      Perawat sebagai tim kesehatan sangat perlu meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan agar mampu merawat pasien secara komprehensif dan optimal.

4.      Institusi pelayanan kesehatan diharapkan dapat meningkatkan pelayanan kesehatan dengan menyediakan fasilitas-fasilitas yang mendukung terciptanya pelayanan kesehatan yang berkualitas.





DAFTAR PUSTAKA


 


1.        Oliver J. Tuberkulosis. J Chem Inf Model. 2013;53(9):1689–99.

2.        Pristiyaningsih A, Darmawati S, Sri Sinto Dewi. Gambaran Suspek TB Paru di Wilayah UPT Puskesmas Tunjungan Blora. 2017;2–3.

3.        Kementerian Kesehatan RI. InfoDatin Tuberculosis. Kementeri Kesehat RI [Internet]. 2018;1. Available from: https://www.depkes.go.id/article/view/18030500005/waspadai-peningkatan-penyakit-menular.html%0Ahttp://www.depkes.go.id/article/view/17070700004/program-indonesia-sehat-dengan-pendekatan-keluarga.html

4.        Nursalam, 2016  metode penelitian. Tuberkulosis. J Chem Inf Model. 2013;53(9):1689–99.

5.        Muliawan P. Sistem Respirasi , dua komponen fungsional • Rongga hidung. 2017;

6.        Sari NN, Patria A, Angayani R. Peran Perawat Dalam Keberhasilan Strategi Directly Observed Treatment Shortcourse (Dots) Pada Pasien Tb Paru. J Ilm Permas J Ilm STIKES Kendal. 2020;10(2):169–75.

7.        Nurlina. Jurnal Media Keperawatan : Politeknik Kesehatan Makassar Jurnal Media Keperawatan : Politeknik Kesehatan Makassar. Penerapan Asuhan Keperawatan Pada Pasien TnI Dengan Tuberkulosis Paru Dalm Pemenuhan Kebutuhan Oksigenasi Di Ruangan Baji Ati Rumah Sakit Umum Drh Labuang Baji Makassar. 2019;10(01):59–66.

8.        Learning C. Tuberkulosis. Perhimpun Dr Paru Indones. 2011;8–32.

9.        Padang PK. Tuberkulosis Paru Di Ruang Paru. 2017; Available from: https://repository.ac.id




Komentar

Postingan populer dari blog ini

  ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA Tn.H DENGAN MASALAH KESEHATAN ISPA (INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT) PADA An.M           Oleh :   WAODE YUNITA S.0017.P.041                 PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN STIKES KARYA KESEHATAN KENDARI 2021         KATA PENGANTAR           Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmatnya dapat penulis dapat menyelesaikan tugas kami dengan judul “ISPA” dengan tepat waktu. Makalah ini disusun untuk menyelesaikan tugas kuliah di Program Studi S1 keperawatan stikes karya kesehatan kendari. Dalam penyusunan makalah ini, kami telah mengalami berbagai hal baik suka maupun duka. Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini tidak akan selesai dengan lancar dan tepat waktu tanpa adanya bantuan, dorongan, serta bimbingan dari berbagai pihak. Sebagai r...

KEPERAWATAN KOMUNITAS TERAPI MODALITAS SENAM KAKI DIABETES (DM) PADA LANSIA

  Tugas individu MAKALAH TERAPI MODALITAS SENAM KAKI DIABETIK (DM) PADA LANSIA     Oleh :     WAODE YUNITA   S.0017.P.041         SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KARYA KESEHATAN KENDARI PRODI S1 KEPERAWATAN 2020 KATA PENGANTAR               Puji syukur kami ucapkan kepada Allah SWT karena atas rahmat dan hidayah-Nya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Terapi modalitas senam kaki diabetik pada lansia” dengan sebaik-baiknya.             Dalam penyusunan makalah ini, kami telah mengalami berbagai hal baik suka maupun duka. Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini tidak akan selesai dengan lancar dan tepat waktu tanpa adanya bantuan, dorongan, serta bimbingan dari berbagai pihak. Sebagai rasa syukur atas terselesainya maklah ini, maka dengan tulus kami sampaikan terimakasi kepada...

LINK VIDEO PENGKAJIAN DAN IMPLEMENTASI KEPERAWATAN PADA TAHAB ANAK USIA SEKOLAH

1. Link pengkajian keperawatan keluarga pada tahap perkembangan anak usia sekolah https://youtu.be/Uv6pBh6b7-k 2. Link implementasi keperawatan keluarga pada tahap perkembangan anak usia sekolah  https://youtu.be/Q5MbPleJXKA