ASUHAN KEPERAWATAN PADA
KLIEN
DENGAN TB PARU
Oleh;
Kelompok (V)
1.ASHARUDIN REZKY
2.DILA PUSPITA
3.SINDY SETYANI
4.WA ODE YUNITA
5.KIRANA
SEKOLAH
TINGGI ILMU KESEHATAN
KARYA
KESEHATAN KENDARI
PRODI
S1 KEPERAWATAN
KENDARI
2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang
Maha Esa karena atas berkat dan rahmatNya dapat penulis dapat menyelesaikan
tugas kami dengan judul “TB PARU” dengan tepat waktu. Askep ini disusun untuk
menyelesaikan tugas kuliah di Program Studi S1 keperawatan STIKES KARKES
KENDARI Di dalam penyusunan skripsi ini, penulis merasa bahwa banyak hambatan
yang dihadapi. Namun, berkat bimbingan dan dukungan dari beberapa pihak,
hambatan-hambatan tersebut dapat penulis atasi sedikit demi sedikit.
Dalam penyusunan makalah ini, kami
telah mengalami berbagai hal baik suka maupun duka. Kami menyadari bahwa
penyusunan makalah ini tidak akan selesai dengan lancar dan tepat waktu tanpa
adanya bantuan, dorongan, serta bimbingan dari berbagai pihak. Sebagai rasa
syukur atas terselesainya maklah ini, maka dengan tulus kami sampaikan
terimakasi kepada pihak-pihak yang turut membantu.
Dalam penyusunan makalah ini, kami
menyadari masih banyak kekurangan baik padaa teknik penulisan penyempurnaan
pembuatan makalah ini. Akhir kata, kami berharap semoga makalah ini dapat
menambah pengetahuan dan dapat diterapkam dalam, menyelesaikan suatu
permasalahan yang berhubungan dengan judul makalah ini.
Kendari,
27 juni 2020
DAFTAR ISI
BAB 1
PENDAHULUAN
Tuberkulosis paru (TB paru) adalah
penyakit infeksius, yang terutama menyerang penyakit parenkim paru. Nama Tuberkulosis
berasal dari tuberkel yang berarti tonjolan kecil dan keras yang terbentuk
waktu sistem kekebalan membangun tembok mengelilingi bakteri dalam paru. Tb
paru ini bersifat menahun dan secara khas ditandai oleh pembentukan granuloma
dan menimbulkan nekrosis jaringan. Tb paru dapat menular melalui udara, waktu
seseorang dengan Tb aktif pada paru batuk, bersin atau bicara. Pengertian
Tuberkulosis adalah suatu penyakit menular langsung yang disebabkankarena kuman
TB yaitu Myobacterium Tuberculosis. (1)
Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman M. tuberculosis
atau dikenal sebagai Bakteri Tahan Asam ( BTA ).Untuk pemeriksaan bakterologis
yang bisa mengidentifikasi kuman M. tuberculosis menjadi sarana yang diagnosis yang
ideal untuk TB.(2)
Jumlah kasus baru TB di Indonesia
sebanyak 420.994 kasus pada tahun 2017 (data per 17 Mei 2018). Berdasarkan
jenis kelamin, jumlah kasus baru TBC tahun 2017 pada laki-laki 1,4 kali lebih
besar dibandingkan pada perempuan. Bahkan berdasarkan Survei Prevalensi
Tuberkulosis prevalensi pada laki-laki 3 kali lebih tinggi dibandingkan pada
perempuan. Begitu juga yang terjadi di negara-negara lain. Hal ini terjadi
kemungkinan karena laki-laki lebih terpapar pada fakto risiko TBC misalnya
merokok dan kurangnya ketidakpatuhan minum obat. Survei ini menemukan bahwa
dari seluruh partisipan laki-laki yang merokok sebanyak 68,5% dan hanya 3,7%
partisipan perempuan yang merokok.(3)
penanggulangan
Tuberkulosis di provinsi Sulawesi Tenggara yang perlu mendapat perhatian, yakni
angka kepatuhan penderita TB dalam meminum obat masih perlu ditingkatkan. Bila
diasumsikan bahwa data hasil program Indonesia Sehat dengan pendekatan keluarga
(PIS-PK) dapat merepresentasikan data Provinsi Sulawesi Tenggara, maka hanya
sebanyak 32,6% dari 3951 Penderita TB Paru yang meminum obat sesuai dengan
anjuran/standar. Kondisi tersebut, juga berdampak pada pada tingkat kesembuhan
pasien, yang cenderung menurun dalam 3 tahun terakhir yakni dari 77,7% (tahun
2015) menjadi 72,5% (tahun 2017).
Komplikasi TB bisa mencapai selaput otak,
dengan akibat radang selaputotak (meningitis). Melalui aliran darah dan
kelenjar getah bening, bakteri bisa menyebar ke organ tubuh lain seperti,
kerusakan tulang dan sendi karena infeksi bakteri TB menyebar dari paru-paru ke
jaringan tulang, kerusakan hati dan ginjal, kerusakan jantung, gangguan mata
yang ditandai dengan mata yang berwarna kemerahan karena iritasi dan
pembengkakan retina atau bagian lain, dan resistensi bakteri terjadi karena
pasien TB tidak disiplin dalam menjalani masa pengobatan sehingga terputus dan
mengalami resistensi atau sering disebut TB MDR. Komplikasi yang terjadi pada
stadium lanjut adalah hemoptisis berat(pendarahan dari saluran napas bawah)
yang dapat mengakibatkan kematian karena syok, terseumbatnya jalan napas,
kolaps spontan karena kerusakan jaringan paru, penyebaran infeksi ke organ lain
seperti otak, tulang, persendian, ginjal dan sebagainya.(4)
A. Pengawasan Penderita, Kontak dan
Lingkungan.Upaya pencegahan tb :
1. Penderita menutup mulut sewaktu batuk dan
berdahak tidak sembarangan 2. Vaksinasi BCG 3. Penyuluhan tentang penyakit TB 4.
Isolasi, pemeriksaan orang-orang yang terinfeksi, pengobatan TBC 5. Desinfeksi,
cuci tangan dan tata rumah tangga kebersihan yang ketat, ventilasi dan sinar
matahari 6. Imunisasi BCG orang-orang kontak dan terdekat 7. Penyelidikan
orang2 kontak. Tuberculin-test bagi seluruh anggota keluarga dengan rontgen
positif, bila negatif, perlu diulang tiap bulan selama 3 bulan 8. Obat anti TBC
diminum dengan tekun dan teratur, waktu 6 atau 12 bulan(5)
Salah satu peran perawat dalam memberikan
dukungan motivasi kepada pasien adalah peran perawat sebagai pendidik
(educator). Peran perawat sebagai educator ditujukan untuk memberikan
penjelasan informasi penyakit, kondisi klien maupun rencana pengobatan, memberi
nasehat dan memfasilitasi klien dalam pengajaran, mengajarkan perilaku sehat
dan mendukung kemampuan klien, serta memberikan contoh perilaku terkait kesehatan,
hal ini bertujuan agar klien mendapat pengetahuan dan mampu merubah perilakunya
kearah yang lebih sehat. Hal ini menunjukkan bahwa interaksi melalui peran
dukungan tenaga kesehatan akan menstimulasi pasien untuk memiliki keinginan
sembuh. Oleh karena itu dukungan motivasi bagi pasien merupakan kebutuhan yang
harus dipenuhi oleh tenaga kesehatan selama pasien dirawat di rumah sakit dalam
upaya memotivasi pasien untuk sembuh. (6)
1. Mahasiswa mengetahui terjadinya penyakit Tb Paru
2. Mahasiswa mampu merumuskan asuhan keperawatan Tb Paru
C. Manfaat
1
Bagi mahiswa,
makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan reverensi untuk materi kasus tibi
paru
2
Bagi
masyarakat,makalah ini memberikan edukasi kepada masyarakat tentang tibi paru
3
Bagi ilmu
pengetahuan keperawatan makalah ini dapat dijadikan update referensi mengenai
tibi paru
BAB II
TINJAUN TEORI
\ A. Definisi Tb paru
Penyakit
Tuberculosis (TB) paru merupakan penyakit menular langsung yang disebabkan oleh
bakteri Mycobacterium tuberculosis. Baksil TB yang masuk ke dalam tubuh melalui
saluran pernapasan akan mengumpul di dalam paru-paru. Baksil ini juga bisa
menyebar ke seluruh bagian tubuh melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening.
Maka, infeksi TB bisa terjadi di banyak organ tubuh, seperti paru-paru, otak,
ginjal, saluran pencernaan, tulang, kelenjar getah bening.(6)
Tuberkulosis adalah penyakit infeksius
terutama menyerang parenkim paru. TB paru adalah suatu penyakit yang menular
yang disebabkan oleh bacil Mycobacterium tuberculosis yang merupakan salah satu
penyakit saluran pernafasan bagian bawah. (2) Tuberkulosis Paru merupakan penyakit infeksi yang
menyerang parenkim paru-paru dan disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis.
Penyakit ini sangat mudah sekali dalam penularannya, karena penyebaranya
melalui udara. Penyakit tuberkulosis sangat mematikan apabila tidak segera dilakukan
penanganan.(7)
Tuberkulosis
adalah salah satu penyakit menular yang menjadi perhatian didunia. Dengan
berbagai upaya pengendalian yang telah dilakukan, insidens dan kematian akibat
turberkulosis sudah menurun.
B. Etiologi
Sumber penularan penyakit Tuberkulosis adalah
penderita Tuberkulosis BTA positif pada waktu batuk atau bersin. Penderita
menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet ( percikan dahak). Droplet yang
mengandung kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar selama beberapa jam.
Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup ke dalam saluran
pernafasan. Setelah kuman Tuberkulosis masuk ke dalam tubuh manusia melalui
pernafasan, kuman Tuberkulosis tersebut dapat menyebar dari paru kebagian tubuh
lainnya melalui sistem peredaran darah, saluran nafas, atau penyebaran langsung
ke bagian-bagian tubuh lainnya. Daya penularan dari seorang penderita
ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi
derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut. Bila
hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak terlihat kuman), maka penderita tersebut
dianggap tidak menular.(1)
Tuberkulosis Paru disebabkan oleh mikroorganisme
Mycobacterium tuberkulosis, yang biasanya ditularkan melalui inhalasi percikan
ludah ( droplet ), dari satu individu ke individu lainnya, dan membentuk
kolonisasi di bronkiolus atau alveolus.Kuman juga dapat masuk ke tubuh melalui
saluran cerna, melalui ingesti susu tercemar yang tidak dipasteurisasi, atau
kadang-kadang melalui lesi kulit. Kebanyakan masyarakat Indonesia masih belum
mengerti , mengenal dan bermotivasi untuk pencegahan penyakit ini.(7)
C. Patofisiologi
Tuberkulosis adalah penyakit yang dikendalikan oleh
respon imunitas dengan melakukan reaksi inflamasi bakteri dipindahkan melalui
jalan nafas, basil tuberkel yang mencapai permukaan alveolus biasanya di
inhalasi sebagai suatu unit yang terdiri dari satu sampai tiga basil, gumpalan
yang lebih besar cenderung tertahan di saluran hidung dan cabang besar bronkhus
dan tidak menyebabkan penyakit. Setelah berada dalam ruang(1)
Tempat masuk kuman M.tuberculosis adalah
saluran pernafasan, saluranpencernaan,dan luka terbuka pada kulit. Kebanyakan
infeksi TB terjadi melalui udara, yaitu melalui inhalasi droplet yang
mengandung kuman- kuman basil tuberkel yang berasal dari orang – orang yang
terinfeksi. TB adalah penyakit yang dikendalikan oleh respon imunitas
diperantarai sel. Sel efektor adalah makrofag, dan limfosit( biasanya sel T)
adalah sel imunresponsif. Tipe imunitas seperti ini biasanya lokal, melibatkan
makrofag yang diaktifkan ditempat infeksi oleh limfosit dan limfokinnya.Respons
ini disebut sebagai reaksi hipersensitivitas seluler (lambat)(8)
D. Klasifikasi
Klasifikasi TB paru dibuat berdasarkan
gejala klinik, bakteriologik, radiologik, dan riwayat pengobatan
sebelumnya.Klasifikasi ini penting karena merupakan salah satu faktor
determinan untuk menentukan strategi terapi. Sesuai dengan program Gerdunas-TB
(Gerakan Terpadu Nasional Penanggulan Tuberkulosis) klasifikasi TB paru dibagi
sebagai berikut:
a. TB Paru BTA Positif dengan kriteria:
1) Dengan atau tanpa gejala klinik
2) BTA positif: mikroskopik positif 2 kali,
mikroskopik positif 1 kali disokong biakan positif satu kali atau disokong
radiologik positif 1 kali. 3) Gambaran radiologik sesuai dengan TB paru.
b. TB Paru BTA Negatif dengan kriteria:
1) Gejala klinik dan gambaran radiologik
sesuai dengan TB paru aktif.
2) BTA negatif, biakan negatif tapi radiologik
positif.
c. Bekas TB Paru dengan kriteria:
1) Bakteriologik (mikroskopik dan biakan)
negatif
2) Gejala klinik tidak ada atau ada gejala
sisa akibat kelainan paru.
3) Radiologik menunjukkan gambaran lesi TB
inaktif, menunjukkan serial foto yang tidak berubah(8)
E. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala yang sering terjadi
pada Tuberkulosis adalah batuk yang tidak spesifik tetapi progresif. Penyakit
Tuberkulosis paru biasanya tidak tampak adanya tanda dan gejala yang khas.
Biasanya keluhan yang muncul adalah :
a.
Demam terjadi lebih dari satu bulan, biasanya pada pagi hari.
b.
Batuk, terjadi karena adanya iritasi pada bronkus; batuk ini membuang /
mengeluarkan produksi radang, dimulai dari batuk kering sampai batuk purulent
(menghasilkan sputum)
c.
Sesak nafas, terjadi bila sudah lanjut dimana infiltrasi radang sampai setengah
paru
d.
Nyeri dada. Nyeri dada ini jarang ditemukan, nyeri timbul bila infiltrasi
radang sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis.
e.
Malaise ditemukan berupa anoreksia, berat badan menurun, sakit kepala, nyeri
otot dan keringat di waktu di malam hari.(1)
F. Penatalaksanaan
Menurut Zain (2001) membagi
penatalaksanaan tuberkulosis paru menjadi tiga bagian, pengobatan, dan penemuan
penderita (active case finding).
1)
pemeriksaan kontak, yaitu pemeriksaan terhadap individu yang bergaul erat
dengan penderita TB paru BTA positif. Pemeriksaan meliputi tes tuberkulin,
klinis dan radiologis. Bila tes tuberkulin positif, maka pemeriksaan radiologis
foto thoraks diulang pada 6 dan 12 bulan mendatang. Bila masih negatif,
diberikan BCG vaksinasi. Bila positif, berarti terjadi konversi hasil tes
tuberkulin dan diberikan kemoprofilaksis.
2)
Mass chest X-ray, yaitu pemeriksaan massal terhadap kelompok-kelompok populasi
tertentu misalnya: a) Karyawan rumah sakit/Puskesmas/balai pengobatan. b)
Penghuni rumah tahanan.
3)
Vaksinasi BCG Tabrani Rab (2010), Vaksinasi BCG dapat melindungi anak yang
berumur kurang dari 15 tahun sampai 80%, akan tetapi dapat mengurangi makna
pada tes tuberkulin. Dilakukan pemeriksaan dan pengawasan pada pasien yang
dicurigai menderita tuberkulosis, yakni:
a) Pada etnis kulit putih dan bangsa Asia
dengan tes Heaf positif dan pernah berkontak dengan pasien yang mempunyai
sputum positif harus diawasi.
b) Walaupun pemeriksaan BTA langsung
negatif, namun tes Heafnya positif dan pernah berkontak dengan pasien penyakit
paru.
c) Yang belum pernah mendapat kemoterapi dan
mempunyai kemungkinan terkena.
d) Bila tes tuberkulin negatif maka harus
dilakukan tes ulang setelah 8 minggu dan ila tetap negatif maka dilakukan
vaksinasi BCG. Apabila tuberkulin sudah mengalami konversi, maka pengobatan
harus diberikan.
4)
Kemoprofilaksis dengan mengggunakan INH 5 mg/kgBB selama 6-12 bulan dengan
tujuan menghancurkan atau mengurangi populasi bakteri yang masih sedikit.
Indikasi kemoprofilaksis primer atau utama ialah bayi yang menyusu pada ibu
dengan BTA positif, sedangkan kemoprofilaksissekunder diperlukan bagi kelompok
berikut:
a)
Bayi dibawah lima tahun dengan hasil tes tuberkulin positif karena resiko
timbulnya TB milier dan meningitis TB,
b) Anak dan remaja dibawah dibawah 20 tahun
dengan hasil tuberkulin positif yang bergaul erat dengan penderita TB yang
menular,
c) Individu yang menunjukkan konversi hasil
tes tuberkulin dari negatif menjadi positif(9)
F. Pemeriksaan penunjang
Tuberkulosis
Pemeriksaan yang dilakukan pada penderita TB paru adalah :
a.
Pemeriksaan Diagnostik
b.
Pemeriksaan sputum
Pemeriksaan
sputum sangat penting karena dengan di ketemukannya kuman BTA diagnosis
tuberculosis sudah dapat di pastikan. Pemeriksaan dahak dilakukan 3 kali yaitu:
dahak sewaktu datang, dahak pagi dan dahak sewaktu kunjungan kedua. Bila
didapatkan hasil dua kali positif maka dikatakan mikroskopik BTA positif. Bila
satu positif, dua kali negatif maka pemeriksaan perlu diulang kembali. Pada
pemeriksaan ulang akan didapatkan satu kali positif maka dikatakan mikroskopik
BTA negatif.
c.
Ziehl-Neelsen (Pewarnaan terhadap sputum). Positif jika diketemukan bakteri
taham asam.
d.
Skin test (PPD, Mantoux)
e.
Rontgen dada Menunjukkan adanya infiltrasi lesi pada paru-paru bagian atas,
timbunan kalsium dari lesi primer atau penumpukan cairan. Perubahan yang
menunjukkan perkembangan Tuberkulosis meliputi adanya kavitas dan area fibrosa.
f.
Pemeriksaan histology / kultur jaringan Positif bila terdapat Mikobakterium
Tuberkulosis.
g.
Biopsi jaringan paru Menampakkan adanya sel-sel yang besar yang mengindikasikan
terjadinya nekrosis.
h.
Pemeriksaan elektrolit Mungkin abnormal tergantung lokasi dan beratnya infeksi.
i.
Analisa gas darah (AGD) Mungkin abnormal tergantung lokasi, berat, dan adanya
sisa kerusakan jaringan
paru.
j.
Pemeriksaan fungsi paru Turunnya kapasitas vital, meningkatnya ruang fungsi,
meningkatnya rasio residu
udara
pada kapasitas total paru, dan menurunnya saturasi oksigen sebagai akibat
infiltrasi parenkim / fibrosa, hilangnya jaringan paru, dan kelainan pleura
(akibat dari tuberkulosis kronis)(1)
G. Komplikasi
Menurut Wahid&Imam (2013), dampak
masalah yang sering terjadi pada TB paru adalah:
1)
Hemomtisis berat (perdarahan dari saluran nafas bawah) yang dapat mengakibatkan
kematian karena syok hipovolemik atau tersumbatnya jalan nafas.
2)
Kolaps dari lobus akibat retraksi bronchial. 3) Bronki ektasis (peleburan
bronkus setempat) dan fibrosis (pembentukan jaringan ikat pada proses pemulihan
atau reaktif) pada paru.
4)
Pneumothorak (adanya udara dalam rongga pleura) spontan: kolaps spontan karena
kerusakan jaringan paru.
5)
Penyebaran infeksi keorgan lain seperti otak, tulang, persendian, ginjal, dan
sebagainya.
6)
Insufisiensi kardiopulmonar (Chardio Pulmonary Insuffciency).(9)
Pengkajian
tergantung pada tahap penyakit dan derajat yang terkena
1. Aktivitas
atau istirahat
Gejala :
kelelahan umum dan kelemahan, mimpi buruk, nafas pendek karena kerja, kesulitan
tidur pada malam hari, menggigil atau berkeringat.
Tanda :
takikardia. takipnea/dispnea pada kerja, kelelahan otot, nyeri dan sesak (tahap
lanjut).
2. Integritas
EGO
Gejala : adanya
faktor stress lama, masalah keuangan rumah, perasaan tidak berdaya/tidak ada
harapan. Populasi budaya/etnik, missal orang Amerika asli atau imigran dari
Asia Tenggara/benua lain.
Tanda :
menyangkal (khususnya selama tahap dini) ansietas ketakutan, mudah terangsang.
3.
Makanan/cairan
Gejala :
kehilangan nafsu makan. tidak dapat mencerna penurunan berat badan. Tanda :
turgor kulit buruk, kering/kulit bersisik, kehilangan otot/hilang lemak
subkutan.
4. Nyeri atau kenyamanan
Gejala : nyeri
dada meningkat karena batuk berulang.
Tanda :
berhati-hati pada area yang sakit, perilaku distraksi, gelisah.
5. Pernafasan
Gejala : batuk
produktif atau tidak produktif, nafas pendek, riwayat tuberculosis terpajan
pada individu terinfeksi.
Tanda :
peningkatan frekuensi pernafasan (penyakit luas atau fibrosis parenkim paru
pleura) pengembangan pernafasan tidak simetri (effuse pleura) perkusi pekak dan
penurunan fremitus (cairan pleural atau penebalan pleural bunyi nafas
menurun/tidak ada secara bilateral atau unilateral efusi pleural/pneumotorak)
bunyi nafas tubuler dan bisikan pectoral di atas lesi luas, krekels tercabut di
atas aspek paru selama inspirasi cepat setelah batuk pendek (krekes posttussic)
karakteristik sputum: hijau, puluren, muloid kuning atau bercak darah deviasi
trakeal (penyebaran bronkogenik).
6. Keamanan
Gejala : adanya
kondisi penekanan imun. contoh: AIDS, kanker. Tes 111V positif.
Tanda : demam
rendah atau sedikit panas akut.
7. Interaksi
sosial Gejala : perasaan isolasi/penolakan karena penyakit menular, perubahan
bisa dalam tanggungjawab/perubahan kapasitas fisik untuk melaksanakan peran.
1. Bersihan jalan napas tidak efektif b.d batuk
tidak efektif (D.0149)
2. Intoleransi aktivitas (D.0056)
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh b.d ketidakmampuan makan (D.0019)
C. Kriteria Hasil
D. Intervensi
1. Bersihan jalan napas tidak efektif: latihan batuk efektif (1.01006)
a. Identifikasi status nutrisi
b. Lakukan oral hygiene sebelum makan,jika perlu.
c. Anjurkan posisi duduk jika mampu
d. Kolaborasi pemberian
medikasi sebelum makan (misalnya pereda nyeri,antlemetik) jika perlu
1. Bersihan jalan napas tidak efektif b.d batuk
tidak efektif (D.0149) menunjukkan jalan nafas Intoleransi aktivitas (D.0056) tidak
ada kelemahan berlebih
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh b.d ketidakmampuan makan (D.0019) nafsu makan menurun.
D. Intervensi
1. Bersihan jalan napas tidak efektif: latihan batuk efektif (1.01006)
a. Identifikasi
kemampuan batuk
b. Atur
posisi semi-fowler atau fowler
c. Jelaskan
tujuan dan prosedur batuk efektif
d. Kolaborasi
pemberian mukolitik atau ekspektoran,jika perlu
2. Intoleransi aktivitas:terapi aktivitas (1.05186)
a.
Identifikasi deficit tingkat
aktivitas
b.
Fasilitasi focus pada kemampuan,bukan
deficit yang di alami.
c.
Jelaskan metode aktivitas fisik
sehari-hari, jika perlu
d. Kolaborasi dengan terapis okupasi
dalam merencanakan dan memonitor program aktivitas,jika sesuai
3. Deficit nutrisi: Manajemen nutrisi (1.03119)
3. Deficit nutrisi: Manajemen nutrisi (1.03119)
a. Identifikasi status nutrisi
b. Lakukan oral hygiene sebelum makan,jika perlu.
c. Anjurkan posisi duduk jika mampu
BAB IV
A. Kasus
Pasien Tn.A datang dengan keluhan sesak napas sejak 1 minggu sebelum
datang berobat ke Puskesmas Muara Aman.
Sesak dirasakan hilang timbul dan bertambah
berat jika pasien batuk. Sesak timbul perlahan dan tidak menetap.
Keluhan sesak disertai dengan napas berbunyi dan terbangun malam hari karena
sesak disangkal pasien. Pasien mengeluh
nyeri dada yang tidak menjalar ke bagian lain. Penderita masih dapat tidur
dengan 1 bantal. Keluhan tidak disertai adanya bengkak di kelopak mata, bengkak
di kaki ataupun di perut. Selain itu juga pasien mengeluh batuk sejak lebih
dari 1 tahun, batuk disertai dahak berwarna putih kehijauan dan dirasakan
setiap hari. Pasien mengaku pernah batuk
disertai darah. Keluhan Sering berkeringat saat malam dan napsu makan berkurang diakui pasien. Pasien juga mengeluh
berat badannya semakin menurun. Demam dirasakan oleh pasien hilang timbul dan tidak terlalu tinggi.
Buang air besar dan buang air kecil diakui pasien tidak ada keluhan. Pasien
mengaku sebagai perokok aktif.
B. Pengkajian
1. Biodata pasien
a.
Nama : Tn. A
b.
Umur : 26
tahun
c.
Jenis
kelamin : laki-laki
d.
Suku : Jawa
e.
Agama : Islam
f.
Status : menikah
g.
Pendidikan
: SMA
h.
Pekerjaan : Mahasiswa
i.
Alamat : Kwaon
Rt 7 / Rw IV, Jemawan, Jatinom, Klaten
j.
Tanggal
masuk : 30 April 2018
k.
Nomor
RM : 393188
l.
Ruang : Cempaka III
m.
Diagnosa
medis : TB Paru.
2. Identitas keluarga/wali
a.
Nama
:
Tn.R
b.
Jenis
kelamin : Laki laki
c.
Usia
: 60
n.
Alamat
: Kwaon Rt 7 / Rw IV,
Jemawan, Jatinom, Klaten
d.
Hubungan
keluarga dengan pasien : Orang tua pasien
3. Riwayat kesehatan
a.
keluhan
utama saat MRS : Pasien mengeluh sesak
napas sejak 1 minggu sebelum datang ke poli umum puskesmas muara aman
b.
keluhan
utama saat pengkajian : Pasien mengeluh sesak napas sejak 1 minggu sebelum
datang ke poli umum puskesmas muara aman
c.
riwayat
keluhan utama : Pasien mengeluh sesak napas sejak 1 minggu sebelum datang ke
poli umum puskesmas muara aman
d.
riwayat
kesehatan sekarang : Pasien mengaku pernah
batuk disertai darah. Keluhan Sering berkeringat saat malam dan napsu
makan berkurang diakui pasien. Pasien
juga mengeluh berat badannya semakin menurun
e.
riwayat
penyakit yang pernah di derita : asma, kencing manis, darah tinggi, penyakit
jantung maupun penyakit kuning disangkal pasien.
f.
kebiasaan
: minum kopi
g.
Riwayat alergi: Alergi obat dan makanan disangkal pasien
h.
Riwayat kehamilan: -
i.
Riwayat kesehatan keluarga: -
4. Keadaan umum
dan tanda-tanda vital
a.
Keadaan Umum: Tampak sesak kesadaran (composmetis) GCS E4M6V5 Tampak sakit sedang
b.
Td: 120/80 mmHg
c.
N: 88 X/Menit
d.
S: 36,7o C
e.
R : 28 X/Menit
5. Pengkajian
fisik
a.
Kepala
1)
Rambut
: Hitam, tidak mudah dicabut.
2)
Mata : sclera ikterik (-), konjungtiva anemis
(-), pupil bula isokor, RCL +/+, RCTL +/+ Hidung : Pernapasan cuping hidung
(-), Epistaksis (-), secret (-)
3)
Telinga:
Gangguan pendengaran (-), Perdarahan dari liang telinga (-)
4)
Mulut : Bibir kering (-), Perdarahan gusi (-),
Hipertrofi gusi (-), karies, dentis (+)
b.
Leher
1)
Tekanan
vena jugularis (JVP) : 5– 2 cmH2O
2)
Kelenjar
Tiroid : Tidak teraba pembesaran
3)
Kelenjar
Limfe : Tidak teraba pembesaran
4)
Kelenjar
Getah Bening Submandibula, Leher, Supraklavikula, Ketiak dan Paha tidak ada
pembesaran.
c.
Thorax
Paru-Paru
1)
Inspeksi
: simetris hemitorak kanan-kiri, depan-belakang saat statis dan dinamis, dan
tidak ada kelainan kulit
2)
Palpasi
: Tidak teraba adanya masa ataupun benjolan, tidak terdapat nyeri tekan dan
nyeri lepas, fremitus vokal dan taktil simetris kanan dan kiri.
3)
Perkusi
: Sonor pada seluruh lapang paru kiri-kanan, depan-belakang. Peranjakan paru
(+)
4)
Auskultasi:
Vesikuler +/+ (paru-paru depan-belakang), Ronkhi +/+ basah kasar, Wheezing -/-,
d.
Jantung
1)
Inspeksi
: Ictus cordis terlihat Palpasi : Ictus cordis teraba.
2)
Perkusi
: Batas jantung kanan ICS V linea midclavicula dextra Batas jantung kiri ICS VI
line midclavicula sinistra Batas pinggang jantung ICS III linea parasternal
sinistra
3)
Auskultasi
: Bunyi jantung I-II murni regular, Gallop (-), Murmur (-)
e.
Abdomen
1)
Inspeksi
: Datar, tidak membuncit dan tidak ada luka Auskultasi : Bising usus (+) normal
Perkusi : Terdengar suara timpani di seluruh kuadran abdomen, Shifting dullness
(-), ketok CVA (-)
2)
Palpasi
:Tidak terdapat nyeri tekan dan nyeri lepas di seluruh 4 kuadran abdomen,
Pembesaran hepar, lien, ginjal, kandung kemih tidak teraba,Undulasi (-)
3) Ekstremitas : Akral hangat, CRT <2”, edem
C. Analisa data
1. Nama : Tn. A
2. Dignosa: Tb paru
3. Umur: 26 th
No
|
Data
|
Etiologi
|
Problem
|
1.
|
Ds:
-Klien mengatakan sering batuk dan nafasnya terasa sesak
- Klien mengatakan aktivitasnya
di bantu oleh orang tua
-Klien mengatakan nafsu
makannya berkurang
Do:
-klien tampak sesak dan batuk
berdahak dan kental
-klien menggunakan alat bantu
pernapasan
-klien tampak gelisah
TTV
Td : 120/80 mmHg
N : 100 X/Menit
S : 36,7o C
R : 18 X/Menit
|
Mycobacterium
Tuberculosis
Inhalasi Droplet
Bakteri mencapai
alveolus
Terjadi reaksi antigen
antibody
Muncul reaksi radang
Terjadi pengeluaran
secret/mucus
Akumulasi secret di jalan nafas
|
Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif
b.d batuk tidak efektif
|
2.
|
Ds:
-Klien mengatakan sering merasa kelelahan
Do:klien tampak lemah
|
Kelemahan tubuh
Aktivitas terbatas
|
|
3.
|
Ds: Klien mengatakan nafsu makannya berkuran
Do:klien
Nampak lemas
|
Nafsu makan menurun
|
D. Diagnosa
E. Rencana asuhan keperawatan keperawatan
Nama Inisial Pasien : Tn.A Diagnosa
Medis : Tb paru
Umur:26 th
NO
|
Diagnosa Keperawatan
|
Tujuan
& Kriteria Hasil (NOC)
|
Intervensi (NIC)
|
1. 1
|
kategori : fisiologis
subkategori : respirasi
Kode : D.0149
Ds:
-Klien mengatakan sering batuk dan nafasnya terasa sesak
- Klien mengatakan aktivitasnya
di bantu oleh orang tua
-Klien mengatakan nafsu
makannya berkurang
Do:
-klien tampak sesak dan batuk
berdahak dan kental
-klien menggunakan alat bantu
pernapasan
-klien tampak gelisah
TTV
Td : 120/80 mmHg
N : 100 X/Menit
S : 36,7o C
R : 18 X/Menit
|
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan selama 2X 24 jam :
NOC
(L.01001) bersihan jalan napas(skala 1 :menurun, 2 :cukup menurun, 3 :sedang,
4 :cukup meningkat, 5 :meningkat), dengan kriteria :
Cukup meningkat
(skala 3 menjadi 4)
|
Intervensi
Keperawatan
Bersihan
jalan napas tidak efektif: latihan
batuk efektif (1.01006)
AktivitasKeperawatan
1. Identifikasi
kemampuan batuk
2. Atur
posisi semi-fowler atau fowler
3. Jelaskan
tujuan dan prosedur batuk efektif
4. Kolaborasi
pemberian mukolitik atau ekspektoran,jika perlu
|
2. 2
|
kategori : fisiologis
subkategori : aktivitas/istrahat
Kode : D.0056
Intoleransi aktivitas
Ditandai dengan :
Ds:
-Klien mengatakan sering merasa kelelahan
Do:klien tampak lemah
-klien tampak gelisah
|
b. Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 2X 24 jam :
NOC
(L.05047)
toleransi aktivitas (skala
1 :menurun, 2 :cukup menurun, 3 :sedang, 4 :cukup meningkat, 5 :meningkat),
dengan kriteria :
Cukup meningkat
(skala 2
menjadi 3)
|
Intervensi
Keperawatan
Intoleransi aktivitas:terapi aktivitas (1.05186)
Aktivitas Keperawatan
1.
Identifikasi deficit tingkat
aktivitas
2.
Fasilitasi focus pada
kemampuan,bukan deficit yang di alami.
3.
Jelaskan metode aktivitas fisik
sehari-hari, jika perlu
4.
Kolaborasi dengan terapis okupasi
dalam merencanakan dan memonitor program aktivitas,jika sesuai
|
3
|
kategori: fisiologis subkategori : nutrisi dan cairan Kode : D.0019 defisit nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan makan ditandai dengan:
Ds: Klien mengatakan nafsu makannya berkurang
Do: klien
tampak lemas
|
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 2X24
jam : Noc (L.03030) status nutrisi (skala 1: menurun,2: cukup menurun,3:sedang, 4: cukup meningkat, 5: meningkat) Dengan kriteria: Cukup menurun (skala 2 menjadi 3) |
Intervensi
Keperawatan
Deficit
nutrisi:
Manajemen
nutrisi (1.03119)
1.
Identifikasi
status nutrisi
2.
Lakukan oral
hygiene sebelum makan,jika perlu.
3.
Anjurkan posisi duduk
jika mampu
4.
Kolaborasi pemberian
medikasi sebelum makan (misalnya pereda nyeri,antlemetik) jika perlu
|
F. Implementasi & evaluasi
Nama Inisial Pasien : Tn. A Diagnosa
Medis: Tb paru
Umur: 26 Th
Diagnosa Keperawatan
|
Implementasi
|
Evaluasi
|
|
Jam
|
|||
kategori : fisiologis
subkategori : respirasi
Kode : D.0149
|
07.00
|
1.
Hasil : klien kooperatif
2. Mengatur posisi
semi-fowler atau fowler
Hasil: Agar klien dapat bernafas secara efektif dan
merasa nyaman
3. Menjelaskan tujuan dan
prosedur batuk efektif
Hasil : klien kooperatif
K 4. Mengkolaborasikan pemberian mukolitik
atau ekspektoran,jika perlu
Hasil : klien tampak membaik
|
S : klien mengatakan pola nafas berangsur-angsur membaik
O : tampak produksi sputum berkurang
A: masalah sebagian teratasi
P : persepsi di lanjutkan
|
kategori : fisiologis
subkategori : aktivitas/istrahat
Kode : D.0056
Intoleransi aktivitas
|
1. Mengidentifikasi deficit tingkat aktivitas
Hasil : klien mengeluh cepat lelah/ cepat merasa sesak saat melakukan
aktivitas
2. Memfasilitasi focus pada kemampuan,bukan deficit yang di
alami.
Hasil : klien mengatakan badannya sehat dan masih mampu untuk
beraktivitas
3. Menjelaskan
metode aktivitas fisik sehari-hari, jika perlu
Hasil : memberikan penjelasan tentang aktivitas yang dapat dilakukan
pasien seperti seperti miring kanan atau miring kiri.
4. Mengkolaborasikan dengan terapis okupasi dalam merencanakan dan
memonitor program aktivitas,jika sesuai
Hasil :klien bisa saja mengatur pola makannya sehari hari
4.
|
S : Klien mengatakan sesak ketika melakukan aktivitas.
TTV:
Td : 120/80 mmHg
N : 100 X/Menit
S : 36,7o C
R : 18 X/Menit
O : klien tampak kelelahan dalam beraktivitas
A : masalah belum teratasi
P :lanjutkan tindakan keperawatan
-
Kolaborasi dengan ahli gizi
makanan yang dapat diberikan kepada klien
-
Buat batasan aktivitas
hiperaktif
|
|
subkategori : nutrisi dan cairan Kode : D.0019 defisit nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan makan |
1.
1.
Mengidentifikasi status nutrisiHasil : status nutrisi pasien menurun/belum membaik Hasil : klien selalu menjaga kebersihan sebelum makan
3. Mengajurkan posisi duduk
jika mampu
Hasil : klien
masih bisa duduk/berdiri sendiri tanpa bantuan
4. Mengkolaborasi pemberian
medikasi sebelum makan (misalnya pereda nyeri,antlemetik) jika perlu
Hasil : pemberian obat antibiotik pereda nyeri
|
S : Klien mengatakan nafsu makannya belum membaik
O: porsi makan tidak di habiskan
A: masalah belum teratasi
P : intervensi di lanjutkan
|
|
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Permasalahan yang muncul pada TN. A dengan penyakit tuberkulosis paru adalah bersihan jalan napas tidak efektif, resiko ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh,
2. Penyusunan rencana tindakan ditujukan pada tindakan mandiri atau kolaborasi untuk mengatasi masalah yang terjadi pada Tn. A dengan tuberkulosis paru antara lain: pertahankan jalan napas dengan beri posisi yang nyaman (semi fowler), ajarkan batuk efektif. Meningkatkan status nutrisi dengan berikan porsi makan sedikit tapi sering, dan berikan perawatan oral. Rencanakan untuk istirahat yang optimal, ciptakan suasana yang nyaman dan atur posisi tidur yang nyaman. Tindakan yang penulis lakukan sesuia dengan perencanaan, dan ada yang dimodifikasi yaitu dengan fisiotherapi dada, menganjurkan untuk minum air hangat, dan cara batuk efektif. Dalam mengelola Tn. S penulis bekerjasama dengan pasien, keluarga, perawat, dan tim kesehatan yang lainnya.
3. Sesuai dengan respon perkembangan pada Tn. A dengan penyakit tuberkulosis paru, menilai masalah keperawatan yang teratasi seluruhnya adalah besihan jalan napas tidak efektif. Dan hal ini didukung oleh respon perkembangan pasien yang memenuhisebagian dari kriteria hasil.
B. Saran
Demi kemajuan selanjutnya maka
penulis menyarankan kepada:
1.
Pasien lebih kooperatif, selalu
memperhatikan serta tidak melakukan hal hal yang menyimpang dari petunjuk
dokter dan perawat
2.
Keluarga senantiasa memotivasi
pasien dan keluarga untuk selalu menjaga pola hidup dan kesehatan pasien.
3.
Perawat sebagai tim kesehatan
sangat perlu meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan agar mampu merawat pasien
secara komprehensif dan optimal.
4.
Institusi pelayanan kesehatan
diharapkan dapat meningkatkan pelayanan kesehatan dengan menyediakan
fasilitas-fasilitas yang mendukung terciptanya pelayanan kesehatan yang
berkualitas.
DAFTAR PUSTAKA
1. Oliver J.
Tuberkulosis. J Chem Inf Model. 2013;53(9):1689–99.
2. Pristiyaningsih
A, Darmawati S, Sri Sinto Dewi. Gambaran Suspek TB Paru di Wilayah UPT
Puskesmas Tunjungan Blora. 2017;2–3.
3. Kementerian
Kesehatan RI. InfoDatin Tuberculosis. Kementeri Kesehat RI [Internet]. 2018;1.
Available from:
https://www.depkes.go.id/article/view/18030500005/waspadai-peningkatan-penyakit-menular.html%0Ahttp://www.depkes.go.id/article/view/17070700004/program-indonesia-sehat-dengan-pendekatan-keluarga.html
4. Nursalam,
2016 metode penelitian. Tuberkulosis. J
Chem Inf Model. 2013;53(9):1689–99.
5. Muliawan P.
Sistem Respirasi , dua komponen fungsional • Rongga hidung. 2017;
6. Sari NN,
Patria A, Angayani R. Peran Perawat Dalam Keberhasilan Strategi Directly
Observed Treatment Shortcourse (Dots) Pada Pasien Tb Paru. J Ilm Permas J Ilm
STIKES Kendal. 2020;10(2):169–75.
7. Nurlina.
Jurnal Media Keperawatan : Politeknik Kesehatan Makassar Jurnal Media
Keperawatan : Politeknik Kesehatan Makassar. Penerapan Asuhan Keperawatan Pada
Pasien TnI Dengan Tuberkulosis Paru Dalm Pemenuhan Kebutuhan Oksigenasi Di
Ruangan Baji Ati Rumah Sakit Umum Drh Labuang Baji Makassar. 2019;10(01):59–66.
8. Learning C.
Tuberkulosis. Perhimpun Dr Paru Indones. 2011;8–32.
9. Padang PK.
Tuberkulosis Paru Di Ruang Paru. 2017; Available from: https://repository.ac.id
Komentar
Posting Komentar