ASUHAN KEPERWATAN DEMENSIA

Oleh
Klompok
3 :
Karel
Gusti
Komang Sudarmayasa
Ayu
Andira
Sri
Angli
Noperialda
Angraeni S
Anggi
Angraeni
Waode
Yunita
SEKOLAH
TINGGI ILMU KSESHATAN
KARYA
KESEHATAN KENDARI
PRODI
S1 KEPERAWATN
KENDARI
2020
KATA PEGANTAR
Puji
syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan anugrah dari-Nya kami dapat
menyelesaikan makalah tentang “ASUHAN KEPERAWATAN DEMENSIA” ini. Sholawat dan
salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan besar kita, Nabi Muhammad
SAW yang telah menunjukkan kepada kita semua jalan yang lurus berupa ajaran
agama islam yang sempurna dan menjadi anugrah terbesar bagi seluruh alam
semesta.
Disamping itu, kami mengucapkan banyak
terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu kami selama pembuatan
makalan ini berlangsung sehingga dapat terealisasikanlah makalah ini.
Demikian
yang dapat kami sampaikan, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para
pembaca. Kami mengharapkan kritik dan saran terhadap makalah ini agar
kedepannya dapat kami perbaiki. Karena kami sadar, makalah yang kami buat ini
masih banyak terdapat kekurangannya.
kendari, maret 2020
Penyusun
DAFTAR TABEL
|
Nomor
|
Judul
|
Halaman
|
|
Tabel 1.
|
Analisa Data
|
21
|
|
Tabel 2.
|
Rencana asuhan keperawatan
|
22
|
|
Tabel 3.
|
Implimentasi & evaluasi
|
23
|
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Proses menua adalah
suatu menghilangnya secara perlahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/
mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan
terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Constantindes, 1994)
dalam (Penelitian et al., 2020) Proses menua
menyebabkan terjadinya perubahan perubahan pada diri manusia antara lain
perubahan fisik, perubahan kognitif, perubahan spiritual, perubahan psikososial
dan penurunan fungsi dan potensi seksual(Penelitian et al., 2020).
Menurut
UU No. 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan
lansia disebutkan bahwa lansia adalah seseorang yang telah mencapai
usia 60 tahun. persentase penduduk lansia di sultra berdasarkan badan statistik tahun 2020
meliputi umur 60 – 75 tauhun keatas memiliki total persentase 216.524 dan di
perkirakan terus naik pada tahun 2025 . Hal ini sejalan dengan semakin membaiknya
tingkat kesehatan
penduduk dan berkurangnya angka kelahiran. Berkurangnya
angka kelahiran juga erat kaitannya dengan tingkat pendidikan.
Menurut Oktavia (2014), semakin tinggi tingkat pendidikan seorang
ibu, maka akan semakin mengerti
tentang kesejahteraan keluarga dalam menciptakan keluarga kecil yang
bahagia dan berkualitas. Pendidikan yang tinggi dapat menunda perkawinan
seseorang dalam (Sosial, n.d.)
Pada
lanjut usia, daya ingat merupakan salah satu fungsi kognitif yang sering kali paling awal mengalami
penurunan. Kerusakan kognitif pada lansia yang berupa penurunan daya ingat
biasa disebut dengan demensia. Demensia merupakan suatu sindrom yang biasanya
bersifat kronis atau progresif dimana ada kerusakan fungsi kognitif yaitu
kemampuan untuk memproses
pikiran di luar
apa yang mungkin diharapkan dari
penuaan normal. Hal
ini mempengaruhi ingatan, pemikiran, orientasi, pemahaman,
perhitungan, kapasitas belajar, bahasa, dan penilaian. Namun tidak mempengaruhi
status kesadaran. Gangguan dalam fungsi kognitif biasanya disertai, dan
kadang-kadang didahului oleh penurunan kontrol emosi, perilaku sosial, atau
motivasi (WHO, 2016).
B. Tujuan
a. Mahasiswa
dapat mengetahui apa itu proses menua !
b. Mahasiswa
mampu mengetahui penanganan lansia yang mengalami dimensia!
c. Mahasiswa
mampu merumuskan rancangan keperwatan pada kasus dimensia!
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Definisi Dimensia
Istilah
demensia itu berasal dari bahasa asing emence yang pertama kali dipakai oleh
Pinel(1745 - 1826). Pikun sebagaimana orang awam mengatakan merupakan gejala
lupa yang terjadi pada orang lanjut usia. Pikun ini termasuk gangguan otak yang
kronis. Biasanya (tetapi tidak selalu) berkembang secara perlahan-lahan,
dimulai dengan gejala depresi yang
ringan atau kecemasan yang kadangkadang disertai dengan gejala kebingungan, kemudian
menjadi parah diiringi dengan hilangnya kemampuan intelektual yang umum atau demensia.
Jadi istilah pikun yang dipakai oleh kebanyakan orang, terminologI ilmiahnya
adalah demensia. (Schaei & Willis,1991). Jabaran demensia sekarang adalah "kehilangan
kemampuan kognisi yang sedemikian berat hingga mengganggu fungsi sosial dan pekerjaan".
Dalam (Hartati & Widayanti, 2010)
B. Etiologi
berdasarkan
anatominya demensia dibedakan atas demensia kortikal dan demensia subkortikal.
Demensia kortikal, seperti yang dijumpai pada penyakit Alzheimer dan Pick,
ditandai oleh defisit memori yang dini dan biasanya penderita menunjukkan
gejala defisit visiospasial, gangguan berbahasa (afasia), apraksia, dan
agnosia. Pada demensia subkortikal didapatkan gejala proses berfikir lambat. Di
samping proses berfikir yang lambat didapatkan pelupa dan gangguan kemampuan
mem anipulasi pengetahuan yang diperoleh. Juga didapatkan gangguan system
ektrapiramidal, misalnya tremor, diskinesia, festinasi (Lumbantobing, 2004). dalam
(Veithzal Rivai, 2010).
C. Patofisiologi Demensia
Proses menua tidak dengan sendirinya menyebabkan terjadinya demensia. Penuaan menyebabkan terjadinya perubahan anatomi
dan biokimiawi di susunan
saraf pusat yaitu berat otak akan menurun sebanyak sekitar
10 % pada penuaan
antara umur 30 sampai 70 tahun. Berbagai
faktor etiologi yang telah disebutkan di atas merupakan kondisi-kondisi yang dapat mempengaruhi
sel-sel neuron korteks serebri.Penyakit degeneratif pada otak,
gangguan vaskular dan penyakit
lainnya, serta gangguan nutrisi, metabolik dan toksisitas secara langsung maupun tak langsung dapat menyebabkan sel
neuron mengalami kerusakan melalui
mekanisme iskemia, infark, inflamasi, deposisi protein abnormal sehingga jumlah
neuron menurun dan mengganggu fungsi dari area
kortikal ataupun subkortika.Di samping itu, kadar neurotransmiter di otak yang diperlukan
untuk proses konduksi
saraf juga akan berkurang. Hal ini akan menimbulkan
gangguan fungsi kognitif (daya ingat, daya pikir dan belajar), gangguan sensorium (perhatian, kesadaran),
persepsi, isi pikir, emosi dan mood. Fungsi yang mengalami gangguan tergantung lokasi area yang terkena
(kortikal atau subkortikal) atau penyebabnya, karena
manifestasinya
dapat berbeda. Keadaan patologis dari
hal tersebut akan memicu keadaan konfusio akut demensia menurut
Boedhi-Darmojo (2009)
dalam (GOY,
2019)
D. Gejala Dimensia
Gejala
klinik daripada demensia adalah:
1). Gangguan mem ori, dalam bentuk
ketidakmampuan untuk belajar tentang
hal-hal baru, atau lupa akan hal-hal yang
baru saja dikenal, dikerjakan atau dipelajari.
2). Afasia, dapat dalam bentuk kesulitan
menyebut nama orang atau benda.
Penderita afasia berbicara secara samar-samar
atau terkesan hampa, dengan ungkapan kata-kata yang panjang, dan menggunakan istilah-istilah yang
tak m enentu.
3). Apraksia, ialah ketidakmampuan untuk
melakukan gerakan meskipun kemam puan motorik, fungsi sensorik, dan pengertian yang diperlukan tetap baik.
4). Agnosia, ialah ketidakmampuan untuk
mengenali atau mengidentifikasi benda
meskipun fungsi sensoriknya utuh.
5). Gangguan fungsi eksekutif, merupakan
gejala yang sering dijumpai pada
demensia. Fungsi eksekutif melibatkan
kemampuan berpikir abstrak, merencanakan, mengambil inisiatif, membuat urutan, memantau, dan
menghentikan kegiatan yang kompleks. (Harsono,
2007)
6). Gejala yang lain, sangat bervariasi.
Penderita demensia dapat mengalami
gangguan orientasi ruang, wawasannya
menjadi sempit dan sulit untuk menyatakan pendapat, kejang. Penderita
sulit menggeneralisasi suatu hal, membuat konsep, serta membuat persamaan dan
perbedaan suatu konsep. Mungkin terdapat katastropik. Selain ituterdapat
sindrom sundrowner, berupa mengantuk,
kebingungan, ataksia, dan jatuh tiba-tiba (Mansjoer, 2000)
E. Phatway
![]() |
![]() |
BAB III
KONSEP KEPERAWATAN DIMENSIA
A. Pengkajian
1). Biodata
Nama klien perlu
diketahui
untuk mengidentifikasi kebenaran
nama
dalam melakukan asuhan keperawatan secara
komprehensif. Alamat
perlu dilengkapi secara jelas
untuk bisa di hubungi.Umur
perlu diketahui untuk mengetahui berapa umur pasien sekarang sehingga tidak salah dalam
pemberian dosis obat, melakukan tindakan keperawatan dan melayani terapi guna mempercepat
proses penyembuhan pasien di pelayanan kesehatan. Pekerjaan pasien perlu dikaji untuk mengetahui kondisi ekonomi dalam
proses administrasi
pasien selama dirawat
di fasilias kesehatan.Tanggal masuk perlu diketahui berapa lama
klien tinggal di panti.
2). Riwayat Keluarga
Pasangan
(Apabila pasangan masih hidup):Status kesehatan,
Umur, Pekerjaan.Anak –anak (Apabila anak-anak masih
hidup): Nama dan alamat.
3).
Riwayat Pekerjaan
Status
pekerjaan saat ini, Pekerjaan sebelumnya, Sumber
pendapatan dan kecukupan
terhadap kebutuhan.
4). Riwayat Lingkungan
Hidup
Tipe tempat tinggal, Jumlah kamar, Jumlah tingkat, Jumlah orang yang
tinggal serumah, Derajat privasi,
Tetangga
terdekat
5). Riwayat RekreasiHobi/minat, Keanggotaan klpk, Liburan/perjalanan
6). Sumber/Sistem prndukung yang digunakan: a), DokterRumah sakit; b).
Kontrol Kesehatan di Rumah sakit;
c), Klinik dan d), Pelayanan kesehatan di rumah
7). Riwayat Kesehatan Saat Ini
Untuk mengetahui penyakit yang diderita 1 tahun terakhir sampai Penyakit yang diderita saat ini, dengan Keluhan yang dialami 1 tahun terakhir,
termasuk Keluhan saat ini, cara pemahaman
dan
penatalaksanaan masalah
kesehatan
(mis.
Diet
khusus, mengganti
balutan). Termasuk Penggunaan Obat,
nama
dan dosis obat serta
cara penggunaannya sesuai instruksi Dokter,
8).
Riwayat Alergi (catat agen dan reaksi spesifik) dan beberapa jenis onata yang
sring tidak cocok dengan
klien termasuk
makanan
9). Riwayat peningkatan/penurunan
berat badah
Indeks
Massa
Tubuh, Pola konsumsi makanan (misal
frekuensi, sendiri/dengan
orang lain)
10). Pola istirahat tidur,
Lama
tidur, Gangguan tidur yang
sering dialami
11). Riwayat Kesehatan Masa Lalu; Penyakit masa kanak2 sampai dewasa
dan Penyakit serius/kronik, Trauma
Perawatan di rumah
sakit
12). Riwayat Keluarga
Silsilah
keluarga
(identifikasi kakek atau nenek, orang tua,
paman,
bibi, saudara
kandung, pasangan, anak-anak), Riwayat
penyakit yang
pernah diderita oleh anggota keluarga
13.Tinjauan Sistem
Dalam tinjau sitem ini penulisa melakukan pemeriksaan fisi dari kepala
sampai kaki menggunakan metode
auto dan allo anamnesa serta Inpeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi (IPPA) yang di awali
dengan penilaian tingkat kesadaran dengan nilai
noemal 15 yang terdri dari membukan mata dengan
spontas nilainya 4, mampu berbicara secara verbal
dengan nilai
5 dan klien mampu menunjukkan tempat yang sakit
dengan nilai 6. Dan di ikuti dengan pengukuran
TTVl: Tekanan darah, Nadi, Suhu, RR:
a). Kepala
Untuk
daerah
kepala, mata, hidung,
telinga dan heler penulis melakukan pemeriksaan
dengan metode Inspeksi dan Palpasi saja;
saat Inspeksi terlihat bentuk kepala, warna
rambut, terdapat lesi, ketombe
pada
rambut dan kebersihan kepala; pada mata bentuk mata, kesimetrisan mata
kiri dan kanan, konjungtiva; bentuk telinga
kiri dan kanan, kelainan
pada telinga.kelainan hidung, adanya mimisan, kotor atau
bersih;
adanya kelainan pada leher,
adanya lesi, edema, kemerahan dan palpasi apakah ada pembersaran kelenjar
tiroid, dan JVP; sedangka
saat dilakukan
palpasi untuk mengetahui apakah terdapat nodul; apakah terjadi edema atau pembengkakan pada mata.apakah ada
nyeri tekan dan
adanya kotoran di
daerah telinga; di daerah sinus hidung apakah terjadi nyeri tekan; dan pengukuran
vona jugolari pada lehe.
b). Dada
Untuk dara
dilakukan dengan cara Inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultas
(IPPA); saat dilakukan inspeksi terlihat
bentuk dada, kesimetrisan, retraksi dinding dada; saat
dilakukan
Palpasi untukmengetahui
batas jantung atas setinggi iga 2 dan bjb
setinggi iga ke 6 bjk sejajar dengan gari midklavikula sedangkan bjk sejajar dengan garis prosesusspoideus, perkusi
untuk mengetahui batas
jantung dengan
bunyi
ketokan padat
menunjukkan adanya jantung bagia dalam, sedangkan auskultasi
untuk mendengarkan bunyi jantung I terdengar pada
S1 dan
S2 bunyijantung 2 terdengar pada S3 dan S4 bunyi
janutng tambahan terndengar jika ada kelainan
pada jantung atau
bunyi jantung murmur.
c). Abdomen:
Inspeksi bentuk abdomen
apakah terjadi kelainan, adanya lesi. Sedangkan palpasi dilakuakan dengan
palpasi ringan atau palpasi
dalam
tergantung tujuan untuk mengetahui bentuk, ukuran,
dan konsistensi organ-organ dan struktur-struktur dalam perut, palpasi
ringan
dilakuakan untuk mengetahui area-area nyeri tekan dan
adanya massa, palpasi dalam dilakukan untuk mengetahui keadaan hepar, lien, ginjal, dan kandung kemih. Lakukan perkusi di empat kuadran dan perhatikan suara yang timbul pada saat melakukannya dan
bedakan batas-batas dari organ dibawah kulit. Organ
berongga seperti lambung, usus, kandung
kemih
berbunyi timpani, sedangkan bunyi pekak terdapat pada hati,
limfa, pankreas, ginjal.Tehnik perkusi yaitu pertama kali yakinkan
tangan
pemeriksa hangat sebelum menyentuh perut
pasien Kemudian
tempatkan tangan
kiri dimana hanya jari tengah yang melekat erat
dengan dinding perut. Selanjutnya diketok 2-3 kali dengan ujung
jari
tengah tangan kanan.Lakukanlah
perkusi
pada
keempat kuadran untuk memperkirakan distribusi suara timpani
dan redup. Biasanya suara timpanilah yang dominan karena
adanya gas pada saluran gastrointestinal,
tetapi cairan dan faeces menghasilkan
suara redup. Pada sisi abdomen
perhatikanlah daerah
dimana suara
timpani berubah menjadi
redup. Periksalah daerah suprapublik untuk mengetahui adanya kandung
kencing yang teregang atau uterus yang membesar.Perkusilah
dada bagian bawah, antara paru
dan arkus costa, Anda
akan mendengar suara redup hepar disebelah
kanan, dan suara timpani di
sebelah kiri
karena gelembung udara
pada lambung
dan
fleksura splenikus
kolon. Suara redup pada kedua
sisi abdomen mungkin menunjukkan adanya
asites.Auskultasi abdomen dengan normal bising usus 15-35 x/menit:Letakkan kepala stetoskop sisi diafragma yang telah
dihangatkan di daerah kuadran kiri bawah. Berikan
tekanan ringan, minta pasien agar tidak berbicara.
Bila mungkin diperlukan
5 menit terus menerus untuk mendengar sebelum pemeriksaan menentukan tidak
adanya bising usus.
Dengarkan bising usus apakah
normal, hiperaktif,
hipoaktif,
tidak ada bising usus dan
perhatikan frekwensi/karakternya; Bila bising usus tidak mudah terdengar, lanjutkan pemeriksaan dengan sistematis dan
dengarkan tiap kuadran abdomen. Dan dilanjutkan
dengan menggunakan gunakan sisi bel
stetoskop, untuk mendengarkan bunyi desiran dibagian epigastrik dan pada tiap kuadran
diatas arteri
aortik, ginjal, iliaka, femoral dan aorta
torakal. Pada orang kurus
mungkin dapat terlihat gerakan
peristaltik usus atau denyutan
aorta.
d). Extremitas,
ispeksi
bentuk ekstremitas apakah
ada kelainan bentuk,
adanya lesi, edema, dan
kemerahan. Palpasi apakah
ada nodul dan nyeri tekan pada daerah
ekstremitas
atas dan bawah.
B. Diagnosa Keperawatan
Menurut NANDA 2015 dalam studi
kasus ini
ditemukan
diagnosa keperawatan seperti:
a. Risiko
Jatuh dengan kode 00155
b.
Hambatan
Komunikasi
Verbal dengan kode 00051
C. Intervensi Keperawatan
1. Diagnosa Resiko
Jatuh dengan kode 00155
Batasan karakteristik:Faktor
risiko, Dewasa Usia 65 tahun
atau
lebih, Riwayat jatuh, Tinggal sendiri,
Prosthesis eksremitas bawah,
Gangguan fungsi kognitif
NOC:
Kriteria hasil: setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam diharapkan
klien mmpu untuk:
a) Gerakan terkoordinasi : kemampuan otot untuk bekerjasama secara
volunte untuk melakukan gerakan bertujuan.
b)
Kejadian jatuh: tidak ada kejadian jatuh.
c) Pengetahuan: pemahaman penjegahan
jatuh.
d)
Pengetahuan: kemampuan pribadi
NIC:
a) Mengidentifikasi
defisit kognitif
atau fisik yang dapa
meningkatkan
potensi jatuh
dalam lingkungan tertentu.
b)
Mengidentifiksi perilaku dan
faktor yang mempengaruhi
resiko jatuh.
c) Mendorong pasien untuk menggunakan tongkat
atau alat bantu
berjalan.
d)
Sarankan alas kaki yang
aman
(tidak licin).
e) Dorong aktifitas fisik pada
siang hari.(menyapu, menyiram bunga agar
pasien tidak dapat
waktu untuk jalan).
f) Pasang palang pegangan keselamatan
kamar mandi.
2. Hambatan Komunikasi Verbal dengan
kode 00051
Batasan Kharateristik: disorientasi orang,
ruang, waktu, kesulitan memahami
komunikasi, menolak bicara,
tidak ada
kontak
mata,
tidak
bicara,
ketidak
tepatan verbalisasi ketidak mampuan menggunakan ekspresi wajah.
NOC:
Kriteria hasil: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam klien mampu:
a) Berkomunikasi : penerimaan interpretasi dan
ekspresi pesan.
b) Lisan,
tulisan dan non verbal meningkat
c) Pengolahan
informasi klien
mampu untuk memperoleh mengatur, menggunakan
informasi.
d) Mampu memanajemen,
kemampuan fisik yang
di
miliki.
e) Komunikasi ekspresif
:
(
kesulitan berbicara,
eksresi
, pesan verbal atau nonverbal, yang bermakna.
NIC:
a) Gunakan penerjemah jika diperlukan.
b) Berikan
satu kata simpel saat bertemu
(selamat pagi)
c) Dorong
pasien untuk bicara perlahan.
d) Dengarkan
dengan penuh perhatian
berdiri didepan
pasien. e) Gunakan kartu baca, gambar,
dan lain-lain.
f)
Anjurkan untuk
berbicara dalam kelompok
wisma.
g) Anjurkan untuk memberi stimulus
komunikasi
D. Implementasi Keperawatan
Menurut
Potter &Perry(2005)Tindakan keperawatan
(Implementasi)
adalah kategori dari perilaku keperawatan
dimana tindakan yang diperlukan
untuk mencapai tujuan dan hasil yangdiperkirakan dari asuhan
keperawatan dilakukan dan diselesaikan.
Implementasi mencakup melakukan, membantu,
atau mengarahkan
kinerja
aktivitas kehidupan sehari-hari, memberikan asuhan
perawatan untuk
tujuan
yang
berpusat pada klien. Pelaksanaan keperawatan pada demensia dikembangkan untuk memantau tanda-tanda vital, melakukan
latihan rentang
pergerakan sendi aktif dan pasif, meminta klien untuk mengikuti perintah sederhana, memberikan stimulus terhadap sentuhan, membantu
klien
dalam
personal hygiene, dan menjelaskan tentang penyakit, perawatan dan pengobatan Demensia.
E. Evaluasi Keperawatan
Menurut (Craven dan Hirnle
2000) evaluasi merpakan keputusan dari
efektifitas asuhan keperawatan antara dasar
tujuan
keperawatan yang telah ditetapkan dengan respon perilaku lansia yang tampilkan. Penilaian keperawatan
adalah mengukur keberhasilan dari rencana,
dan pelaksanaan tindakan
keperawatan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan lansia, maka
beberapa kegiatan yang
harus diikuti oleh
perawat, antara lain:
1) Mengkaji
ulang tujuan klien
dan kriteria hasil yang
telah ditetapkan
2) Mengumpulkan data yang
berhubungan dengan hasil yang diharapkan
3) Mengukur pencapaian tujuan
4) Mencatat keputusan atau
hasil pengukuran
pencapaian tujuan
5) Melakukan revisi atau modifikasi terhadap rencana keperawatan bila
perlu.
Evaluasi
hasil: Evaluasi
ini berfokus pada respons dan fungsi klien. Respons
perilaku lansia merupakan pengaruh dari intervensi keperawatan dan
akan terlihat pada pencapaian tujuan dan kriteria hasil. Cara membandingkan antara
SOAP
(Subjektive-Objektive-Assesment-Planning) dengan tujuan
dan kriteria hasil yang telah ditetapkan. S (Subjective)
adalah informasi berupa ungkapan
yang
didapat dari lansia setelah tindakan
diberikan, O (Objective) adalah informasi yang didapat berupa hasil
pengamatan, penilaian, pengukuran yang dilakukan oleh perawat
setelah tindakan dilakukan, A (Assessment) adalah
membandingkan antara informasi subjective dan
objective dengan tujuan
dan kriteria hasil, kemudian diambil
kesimpulan bahwa masalah teratasi, teratasi sebagian,
atau tidak teratasi,
P (Planning) adalah rencana
keperawatan lanjutan yang akan dilakukan berdasarkan
hasil analisi.
BAB IV
ASUHAN KEPERWATAN
A. Pengkajian
1).
Identitas
Studi kasus ini dilakukan pada Tn. L.A berumur 75 tahun jenis kelamin laki-laki, suku Rote, Agama Kristen
protestan, Pendidikan perguruan tinggi, Status perkawinan Menikah, tanggal masuk panti 7 agustus 2015, alasan
pasien masuk panti
karena tidak ada yang
mengurusnya Saat dikaji
didapatkan pasien dengan diagnosa Demensia sedang.
2).
Riwayat keluargA
Istri dari Tn. L.A masih hidup, istrinya sehat, berumur 73 tahun,
bekerja sebagai IRT. Pasangan
Tn. L.A memiliki 1 orang anak laki-laki bernama Tofri, anaknya tidak
tinggal
bersama
karena sudah berkeluarga
dan istri Tn L.A tinggal bersama anaknya.
3). Riwayat pekerjaan
Tn. L.A mengatakan dahulu bekerja sebagai PNS, Status pekerjaan saat ini: pensiunan PNS dan tinggal di panti
jompo, Sumber pendapatan dan
kecukupan terhadap kebutuhan
saat ini: kebutuhan
di tanggung
oleh Panti Werda Budi Agung Kupang.
4).
Riwayat lingkungan
hidup
Tipe tempat tinggal Permanen, Jumlah kamar 3 kamar, 3 kamar mandi,
jumlah yang
jumlah orang yang tinggal dalam rumah
6 orang
5).
Riwayat rekreasi
Pasien mengatakan hobinya adalah bermain
bola
kaki bersama teman-teman di
karenakan dulu pasien adalah guru olahraga, pasien juga
pernah berlibur di kampung
halamanya
di Rote.
6). Suber dukungan yang
di
gunakan
Tn A.L mengatakan biasa periksa kesehatan di dokter tetapi pasien lupa
nama
dokter, klinik yang di gunakan adalah klinik panti werdah
budi agung kupang
7).
Riwayat kesehatan
saat ini
Penyakit yang di derita
1 tahun terakhir adalah dimensia dan malaria, penyakit yang di derita saat
ini
dimensia sedang, keluhan saat ini: Tn L.A mengatakan
tidak
bisa
atau susah untuk mengingatkan kembali masa yang
sudah lalu atau yang sudah
terjadi bahkan lupa
nama ibunya
8).
Nutrisi
Kebiasaan makan 3 x sehari
, pasien tidak ada diaet khusus atau pembatasan makanan, indek masa tubuh dari passien dengan bb 55 kg tinggi badan
160 cm dengan menggunakan
rumus IMT BB/TB kuadrat dan
hasinya 21,48 berat badan
dalam
kategori normal, pasien juga tidak ada
masah intake makanan
.
9).
Pola istirahat tidur
Tn. L.A mengatakan lama ia tidur 2-5 jam, pasien mengalami gangguan
tidur pada malam
hari dikarenakan mendengar bunyi yang
mengganggunya tidur
dan suasan kamar ribut.
10).
Tinjauan sistem
a). Tingkat kesadaran Tn L.A adalah composmetis (CM)
dengan hasil pengkajian Mata: 4, verbal: 5, motoriknya : 6 hasil pemeriksaan TTV:
Td 110/70 mmH, suhu
36,6 pernapasan 19 x/ menit
b).
Penilaian umum
Dari hasil
pengkajianTn.
L.A
mengatakan ia mengalami kelelahan, tidak mengalami perubahan bb satu tahun yang lalu, nafsu
makan baik pasien mengalami
kesulitan tidur, pasien memiliki
kemampuan
ADL
yang baik.
c).
Pengkjian integumen
Tidak ada luka, mengalami perubahan pigmentasi dan perubahan tekstur
kulit, mengalami perubahan
ramut dan
juga kuku.
d).
Hasil pengkajian kepala
Tn.
A.L
tidak sakit
kepala,
tidak
trauma, tidak
pusing,
dan
mengalami gatal pada
kulit kepala.
e).
Mata dan hidung
Tn.
L.A mengalami perubahan
penglihatan, tidak menggunakan
kaca mata, tidak pernah melakuaknpemeriksaan mata, Tn. L.A tidak mengalami
masalah pada hidung.
f).
Mulut dan tenggorokan
Tn. L.A mengatakan ia tidak mengalami sakit tenggorokan, tidak
ada lesi, tidak ad perubahan suara, tidak ada kesulitan menelan, tidak ada riwayat
infeksi, tidak pernah periksa gigi, pola menggsok gigi
1 x sehari, tidak memakai gigi palsu.
g).
Pernapasan dan Cardiovaskuler
Tn. L.A mengatakan dia tidak batuk,
tidak
sesak, tidak
ada
sputum, tidak ada riayat asma. Pasien tiak mengalami gangguan cardio
h).
Perkemihan
Frekuensi
BAK 6 x sehari, tidak ada nyeri saat berkemih
i). Musculosceletal
Tidak ada
nyeri persendian,
tidak ada
pembengkakan sendi, pasien mengalami kelemahan otot
j). Sistem syaraf pusat
Pasien tidak mengalami sakit pada
kepala, tidak kejang,
tidak ada trauma, tidak mengalami tremor
atu
spasme, dan Tn. L.A mengalami masalah memori
B.Analisa Data
|
No
|
Data Subjektif
|
Data Objektif
|
|
1
|
pasien mengatakan tidak mandi karena dingin
|
Tn.
L.A mengeluh seluruh tubuhnya terasa gatal-
gatal.
kulit pasien tampak kotor dan
bersisik,tampak pakaian pasien kotor dan berbau, serta keaadan umum berantakkan, pasien tampak mnenggaruk-garuk
badan
|
|
2
|
Tn.
L. A mengatakan tidak tidak bisa atau
susah untuk
mengingatkan kembali masalalu tanggal,waktu,
bulan dan tahun. Hanya mengetahui
nama wisma yang dia tinggal
|
Tn. L.A
tidak dapat menjawab hari taanggal wakti
tahun. Pasien
hanya Menjawab nama saja. pasien
tidak mampu mengenal jam, hari,tanggal,bulan serta
tahun. Tidak ingat nama ibu dan saudaranya. Asien hanya
Ingat nama anak dan istrinya.mengulang kata-kata yang
diucapkan petugas.
|
Tabel
1. Analisa Data
C. Diagnosa
1. Defisisit
perawatan diri mandi b.d kendala lingkungan
2. Hambatan
memori verbal b.d gangguan volume cairan
D. Intervensi
Nama
pasien : Tn. L.A
Medis
: dimensia
|
No
|
Diagnosa
|
Tujuan
Kriteria & Hasil ( NOC )
|
Intervensi
( NIC )
|
|
1
|
Domain : 4 aktivitas/ istirahat
Kelas : 5 perawatan diri
Kode : 00108
Defisisit
perawatan diri mandi b.d kendala lingkungan
DS: pasien mengatakan tidak mandi
karena dingin
DO: Tn. L.A mengeluh seluruh tubuhnya terasa gatal-
gatal.
kulit pasien tampak kotor dan
bersisik,tampak pakaian pasien kotor dan berbau, serta keaadan umum berantakkan, pasien tampak mnenggaruk-garuk
badan
|
Setelah dilakukan tindakan 3x24
jam/menit : tingkat ketidak nyamanan (2109)
( Skala 1: berat 2:cukup berat 3:
sedang 4: ringan 5: tidak ada )
Dengan kreteria :
1. Rasa gatal (
skala 3-4 )
|
Manajemen demensia : memandikan
(6466)
Aktivitas keperawatan
1.
Pastikan
air memiliki suhu yg sesuai
2.
Buka
pakaian pasien secara bertahap dikamar mandi sambil membahas sesuatu yang
menarik
3.
Gunakan
peraltan mandi yg nyaman
4.
Pertahankan
lingkungan yg tenang dan damai
|
|
2
|
Domain: 5 persepsi/ kognisi
Kelas: 4 kognisi
Kode: 00131
Hambatan
memori b.d gangguan volume cairan
DO: Tn. L. A mengatakan tidak tidak bisa atau
susah untuk
mengingatkan
kembali
masalalu
tanggal, waktu, bulan dan tahun. Hanya mengetahui
nama wisma
DS:
Tn. L.A
tidak dapat menjawab hari taanggal waktu
tahun. Pasien
hanya Menjawab nama saja. pasien
tidak mampu mengenal jam, hari,
tanggal,bulan serta tahun. Tidak ingat nama ibu dan saudaranya. Asien hanya
Ingat nama anak dan istrinya.mengulang kata-kata yang
diucapkan petugas.
|
Setelah
dilakukan tindakan 3x24 jam/menit :
memori
(0908)
( skala 1: sangat terganggu 2: terancam
subtansial 3: cukup terganggu 4: sedikit terganggu 5: tidak terganggu )
Dengan
kreteria:
1.
Mengingat informasi baru saja terjadi.
2.
Mengingat informasi yg baru secara akurat.
|
Manajemen cairan (4120)
Aktivitas keperawatan:
1.
Timbang
berat badan pasien setiap hari dan monitor status pasien
2.
Jaga
intake/ asupan yg akurat dan catat output (pasien)
3.
Berikan
cairan, dengan tepat
4.
Dukung
pasien dan keluarga untuk membantu dalam pemberian makanan dengan baik
5.
Monitor
setatus gizi
|
|
|
|
|
|
Tabel 2. Rencana asuhan keperawatan
E. Implementasi & Evaluasi
|
Diagnosa
keperawatan
|
Implementasi
|
Evaluasi
|
|
|
jam
|
Tanggal : 1 juni 2020
|
Hari/tanggal:
3 juni 2020 |
|
|
Domain : 4 aktivitas/ istirahat
Kelas : 5 perawatan diri
Kode : 00108
Defisisit
perawatan diri mandi b.d kendala lingkungan
|
07.00
|
1.
memastikan
air memiliki suhu yg sesuai
2.
membuka
pakaian pasien secara bertahap dikamar mandi sambil membahas sesuatu yang
menarik
3.
menggunakan
peraltan mandi yg nyaman
4.
mempertahankan
lingkungan yg tenang dan damai
|
S: klien mengatakan tubuhnya segar
O: klien tidak mengeluh gatal
A: masalah teratasi
P: intervensi di hentikan
|
|
Domain: 5 persepsi/ kognisi
Kelas: 4 kognisi
Kode: 00131
Hambatan
memori b.d gangguan volume cairan
|
|
1.
menimbang
berat badan pasien setiap hari dan monitor status pasien
2.
Jaga
intake/ asupan yg akurat dan catat output (pasien)
3.
Memberikan
cairan, dengan tepat
4.
mendukung
pasien dan keluarga untuk membantu dalam pemberian makanan dengan baik
5.
memonitor
setatus gizi
|
S: klien mengatakan bisa mengingat kejadian yg baru saja terjadi
O: klien mampu mengingat kejadian yg baru terjadi
A: Masalah teratasi
P: intervensi dihentkan
|
Tabel
3. Implementasi & evaluasi
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Demensia merupakan sindrom, di mana
ada penurunan fungsi kognitif (yaitu kemampuan untuk memproses pikiran)
melampaui apa yang dapat diharapkan dari penuaan normal. Demensia mempengaruhi cara
berpikir, kelakuan
dan kemampuan
untuk melakukan
pekerjaan
biasa sehari-hari. Fungsi otak cukup
banyak terpengaruh sehingga
mengganggu pergaulan
dan pekerjaan normal penderita.
B. Saran
Makalah
ini diharapkan dapat dijadikan referensi untuk menambah pengetahuan masyarakat
baik juga pelajar tentang dimensia.
DAFTAR PUSTAKA
Goy, e. T. (2019). Ilmiah, karya tulis kupang, studi kasus
asuhan KEPERAWATAN LANSIA Tn. L. A DENGAN DEMENSIA DI WISMA KENANGA UPT PANTI
SOSIAL PENYANTUN LANJUT USIA BUDI AGUNG.
Hartati, S., & Widayanti, C. G.
(2010). CLOCK DRAWING: ASESMEN UNTUK DEMENSIA (Studi Deskriptif pada Orang
Lanjut Usia Di Kota Semarang). CLOCK DRAWING: ASESMEN UNTUK DEMENSIA (Studi
Deskriptif Pada Orang Lanjut Usia Di Kota Semarang), 7(1), 1–10. Https://doi.org/10.14710/jpu.7.1.1-10
Penelitian, H., Pengabdian, D. A.
N., & Seri, M. (2020). DEMENSIA PADA LANSIA DENGAN MASALAH GANGGUAN
KOGNITIF DI KARANG WERDHA ‘ BISMA ’ SUMBERPORONG LAWANG MALANG ( Studi kasus
Asuhan Keperawatan ). Wiwin 2011, 135–144.
Sosial, B. S. (n.d.). PROYEKSI
PENDUDUK KABUPATEN/KOTA PROVINSI SULAWESI TENGGARA 2015‐2025 BERDASARKAN HASIL SUPAS 2015. Viii + 168.
Veithzal Rivai, D. (2010). HUBUNGAN
SUBTIPE STROKE DENGAN KEJADIAN DEMENSIA PADA PASIEN PO ST STROKE DI RSUD DR.
MOEWARDI SURAKARTA. Το Β$Η$Μ$Α$ Το$Υ$ Α$Σ$Κ$Λ$Η$Π$Ι$Ο$Υ$, 9(1),
76–99. Https://doi.org/10.1558/jsrnc.v4il.24


IMPLEMENTASI jenis evaluasinya formatif S&O
BalasHapusbuat kolom lain untuk evaluasi sumatif SOAP